
*Di ruangan liang hang*
Liang hang menyeret xiao Lei kamarnya dan mendudukkannya di kursi meja di kamarnya. Dia memandanginya sebentar. "Ingin rasanya aku memilikinya."batinnya dan tersenyum kecil.
"Tunggu disini."ucapnya lalu pergi. Setelah beberapa detik dia kembali dengan tangan membawa sebuah lap kanebo kecil dan mengusap halus wajah xiao Lei.
Deg...deg...deg...irama jantung xiao Lei tidak teratur, ia memandangi wajah liang tanpa berkedip!, ada rasa aneh yang ia rasakan yang menjalar di tubuhnya, namun ia tidak tahu perasaan apa itu. "Tuan, apa yang anda lakukan "ucapnya sambil memegang tangan liang yang memegang kanebo.
"Hah...!tidak apa, kau habis menangis yah!?."tanyanya dan menyimpan kanebo.
"Tidak tuan, mataku hanya kelilipan."xiao Lei mengelak sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Jangan bohong, dasar pria cengeng."ucapnya tersenyum sambil mencubit hidung xiao Lei, sontak xiao Lei mengeluarkan tatapan melotot dan kaget bukan main.
"Darimana saja kamu, harusnya kamu selalu bersamaku, kau pelayanku."celoteh liang.
"Maaf tuan, hamba dari menemui keluarga hamba."balas xiao Lei.
"Kali ini aku maafkan, lain kali tidak diperbolehkan tanpa izin dari ku."balasnya.
"Baik tuan."ucapnya dengan mengangguk.
Liang yang biasanya tidak suka dengan pelayanan wanita, baru kali ini dia tidak ingin lepas dari pelayan pribadinya.
Tok....tok...tok....
__ADS_1
"Masuk."sahut liang hang, seorang wanita masuk dengan membawa nampang makanan, dia salah satu pelayan di istana. Dan pelayan itu meletakkan makanannya di atas meja depan mereka dan pamit undur diri.
Perut xiao Lei merasa sangat lapar saat melihat bubur di depannya, ingin rasanya ia menyantapnya sekarang, namun ia tahan hanya menelan Saliva nya saja, ia berusaha menutupi rasa laparnya, ia tahu kalau makanan itu hanya untuk tuannya saja, karena hanya ada satu wadah makanan. Pandangannya dari tadi fokus.
Liang akan sadar dengan pikiran xiao Lei, lalu dia memberi kode dengan mata, bertanda siap untuk makan."Hem."Liang hang.
Mengerti dengan kode tuannya xiao Lei mengambil makanan itu dengan hati-hati. Sebelum memasukkan ke dalam mulut, ia terlebih dulu meniupnya, untuk mendinginkannya.
Mengambil satu sendok bubur dan menyuapi tuannya, disaat bersamaan xiao Lei menganga."Ah." seperti memberi makan seorang bayi, layaknya liang anak kecil yang diberi makan. He...he...he. Tapi liang hang tidak membuka mulutnya, ia hanya menatap xiao Lei yang hendak menyuapinya makanan.
Xiao Lei merasa bingung apa yang salah dengan makanan atau dirinya. "Tuan."ucapnya. Dan tiba-tiba liang hang mengambil makanan yang hendak masuk mulutnya dan ia beralih menyuapi xiao Lei. "Ayo, makan. Siapa yang menyuruhmu menyuapiku???"ucapnya namun hatinya merasa senang.
"Tapi!!tuan."balasnya.
"Makan sekarang atau aku tidak memberimu makanan sama sekali."ancamnya dengan melotot.
"Bagus!!anak baik!!."ucapnya makanan di sendok sudah berpindah ke mulut xiao Lei. Xiao Lei bukan tidak mau memakannya, tapi iya tidak enak disuapi, tapi karena dengan ancaman dia senang hati memakannya, karena memang ia sudah sangat lapar dan tak bisa memakannya lagi. Dan semua makanan sudah bertempat di perutnya. Dan meminum air dan menyudahinya. "Terimakasih, tuan terlalu baik."ucapnya tersenyum kecil.
"Itu wajar untuk seorang tuan, aku tidak mau kalau tubuhmu semakin kecil, dan kau tidak bisa melayaniku."balasnya.
"Pangeran sialan ini, tidak punya hati, dia hanya tidak ingin melihatku kecil, tapi meski dia memberi makanan banyak, tubuhku akan tetap seperti ini, dan aku akan mendapat jatah makanan yang banyak."batinnya tersenyum merasa puas.
Melihat xiao Lei tersenyum, liang hang ikut tersenyum tipis. "Apa yang kau pikirkan."tanya liang hang.
"Hah tidak ada tuan, aku hanya merasa lelah."balasnya berbohong karena dia paling suka tidur sesudah makan.
__ADS_1
"Yah sudah aku akan memberimu waktu istirahat banyak karena kau sudah banyak membantu istana, sekarang kau tidak perlu memijat ku."ucapnya.
"Hah benarkah itu tuan??aku dibebaskan dari memijat."ucapnya tersenyum lebar sambil meregangkan jari-jari tangannya.
"Heh jangan senang dulu!!, hanya untuk malam ini."jelas liang hang. Tampak xiao Lei cemberut karena hanya satu malam ia bebas, seterusnya ia akan kembali seperti biasanya, tidak apa yang jelas aku malam ini bisa tidur pulas, pikirnya. Xiao Lei beranjak ke ranjang dan menghempaskan bobot tubuhnya yang kecil, namun tubuh ideal idaman, hanya para pria saja mengatainya kurus karena ia mengira xiao Lei seorang pemuda.
Liang hang tampak termenung tak berkedip. "Inikah ciptaan mu yang kau kirimkan untukku, takkan kubiarkan orang lain memilikinya, ia hanya milikku."batin liang hang dan cintanya semakin besar.
Melihat xiao Lei sudah tertidur, liang hang juga hendak tidur. Dong fan langsung datang dan baring didekat xiao Lei. Tampak wajah liang hang marah tidak terimah xiao Lei tidur didekat dong fan. Liang hang langsung nyosor dan dia beralih menggendong xiao Lei berpindah ke pinggir sedang dia tertidur di tengah.
Dahi dong terlihat berkerut muak melihat kelakuan aneh liang hang, ia hanya melihatnya tanpa berkata. "Apa yang kau lihat, aku lagi ingin tidur di tengah, aku tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi."ucapnya sedikit berbisik ditelinga dong yang sudah baring.
"Kalau begitu aku juga ingin tidur di tengah."ucapnya beranjak akan pindah.
"Tidak bisa, aku duluan."ucap liang hang. Karena tidak ada yang mau mengalah mereka bertengkar.
"Jangan berani denganku, aku akan menendang kalian. "teriak xiao Lei kembali bermimpi dan membuat kedua pemuda itu terdiam seketika dan mulai tidur, dan mereka hanya saling melirik.
Malam sunyi gelap gulita telah datang, udara dingin menerpa dan menusuk sampai ke dalam tulang. selimut menyelimuti ketiga pemuda itu, Kedua tuan muda itu tampak tidur nyenyak, beda halnya dengan xiao Lei keringat mengucur wajah meski udara di malam hari dingin, dan seluruh tubuhnya telah basah, tampak gelisah dengan gelengan kepala. "Hah...ah...." Xiao Lei terbangun duduk, Suara pekik sesak nafas yang keluar dari mulut xiao Lei dengan terengah-engah.
Xiao Lei tampak berdiam diri dengan tatapan kosong lalu membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya dan beranjak ke jendela kamar dan membukanya dan bersandar di sisi jendela menatap langit-langit dan menitikkan air matanya.
"Ayah, aku adalah pahlawan orang-orang, tapi aku bukan pahlawan untukmu!!maafkan aku ayah."gumamnya dan menghapus air matanya. Sepasang sedang mengintai dirinya ia juga terlihat menangis meski wajah tertutup kain. Dia xiao Yue, kakak xiao Lei.
Xiao Lei kembali tidur disisi tuannya dan tertidur nyenyak.
__ADS_1
*Keesokan harinya*
Xiao Lei tidak sanggup rasanya untuk bangun, dia masih mengantuk dan kembali melanjutkan tidurnya kembali. Liang hang memandangi wajah xiao Lei dan membelai pipi xiao Lei lalu tersenyum.