
Dengan cepat xiao Lei keluar dari lingkaran orang yang berpakaian hitam itu, dan semua orang itu sudah mulai menyerang, kedua pemuda itu menyerang balik meski dengan tangan kosong.
Saat tak ada yang memperhatikannya xiao Lei mencabut panah kayu itu, lalu memotongnya menjadi dua bagian, xiao Lei bergerak maju dan menancapkan ke dua potongan panah dan menghabisi 2 prajurit sekaligus lalu mengambil dua pedang milik orang itu dan melemparnya ke arah liang dan dong, melihat ada pedang yang terbang ke arah dengan cepat mereka menangkapnya, dan melihat dari arah mana pedang itu, ia melihat xiao Lei sudah membabi buta menghabisi beberapa orang tersebut, melihat hal itu liang tersenyum.
"Aku tahu betul kau tidak akan berkhianat, hati ini tidak pernah salah."gumamnya dengan memegang dadanya, dan kembali bertarung. Pertarungan terus berlangsung dan cukup lama.
Tuan maut melihat orangnya hampir habis karena ulah pemuda kecil itu, ia terlihat marah besar, ternyata yang ditipu adalah dirinya, dan omongan manis tadi hanya palsu dan ia percaya begitu saja.
Ia terpaksa melarikan diri bersama orangnya yang masih tersisa dengan beberapa luka-luka.
Liang dan dong mendekati xiao Lei dengan tampak mengatur irama nafasnya.
"Maafkan aku tuan, hamba sudah tidak sopan."
Liang langsung memeluk xiao Lei dan mengusap punggunnya, ada rasa kenyamanan dan perasaan tenang di hati xiao Lei.
"Kau tidak salah, hanya saja ucapan dan tindakan mu hampir membuatku kecewa dan tidak percaya!"balasnya.
"Tuan, aku tidak akan pernah mengkhianati mu, aku tahu resiko menjadi pengawal pribadi, hanya saja tidak ada cara lain, jadi hamba mengambil cara itu, maafkan aku tuan."ucapnya merasa sedih.
Kali ini ucapan yang dilontarkan olehnya benar-benar tulus, ia tidak tahu bagaimana ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya, itu murni dari perintah hatinya.
"Sudah, kau itu pengawal yang bisa diandalkan, tidak salah aku memilihmu."ucapnya dengan memegang pipi xiao Lei dengan kedua tangannya dan tersenyum, xiao Lei tidak percaya pria itu memegang pipinya dan tersenyum bahagia.
"Pengawal Qing, maaf aku sudah salah menilai mu."sahut dong.
"Hum..."xiao Lei mengangguk.
Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanannya. 3 hari telah berlalu sejak kejadian itu tidak ada lagi sesuatu yang terjadi dengannya sampai di kerajaan Wei.
1 bulan telah berlalu bangsawan dong pamit pada raja wu Liang beserta liang dan pengawalnya, untuk menyelesaikan beberapa tugas dari ayahnya.
"Jangan lupa untuk kembali."sahut liang.
"Tentu."
"Hati-hati tuan."ujar xiao Lei dibalas anggukan olehnya.
*****
Malam mulai tiba, Liang dan xiao Lei sudah berada di atas ranjang, sekarang tinggal mereka berdua, dan mulai terlelap dalam tidur masing-masing, xiao Lei terbangun karena merasa kedinginan dan melihat tangan Koko melingkar dengan nyaman di tubuhnya, ia memandangi wajah pemuda di depannya, ia memandanginya tanpa berkedip dan membiarkan tangan itu melingkar dengan nyaman. "Tuan, entah kenapa aku merasa tenang berada di sampingmu! apa artinya ini?" tanya dirinya sendiri di hati lalu melanjutkan tidurnya kembali.
Pagi mulai menjelang, Liang kembali lagi kesibukan seperti biasanya sedang xiao Lei sedang
sibuk berlatih.
*****
__ADS_1
Di tempat lain di negara yangzi, di dalam sebuah ruangan seorang pria berjubah menutupi wajah, hanya mulut yang terlihat.
"Aku tidak akan melepas mu pria kecil, karena berani ikut campur dan menipuku."ucapnya dengan senyuman licik.
Seseorang datang membawa seorang pemuda, "Tuan aku membawakan seseorang yang bisa memberi mu informasi besar."sahut orang itu.
"Bagus sekarang kau boleh meninggalkan kan aku berdua saja."sahutnya dan bawahan itu keluar.
"Apa yang bisa anda berikan jika mendapatkan informasi dariku?"
"Ibumu, aku akan membantumu."jawabnya
"Tahu apa anda tentang ibuku?"Tanya fan Xun sang pengintai yang menyerang desa Gudu dan kediaman xiao atas perintah raja yangzi.
"Aku tahu segalanya! kau bawahan dari raja yangzi tapi sayang ia hanya memanfaatkan mu untuk menggapai mimpinya kau seorang bangsawan tapi malah diperbudak."
"Turuti perintahku maka aku akan membantumu melepaskan ibumu!"ucapnya lagi.
"Apa kau tahu di mana ibuku?"
"Ya, ibumu di kurung di penjara yangzi, tapi bukan cuma itu banyak pula manusia lainnya."
"Kenapa kau tahu kalau ibuku dikurung?"tanyanya dan kaget ternyata selama ini raja hanya memanfaatkan untuk menyerang kediaman xiao dan raja sudah membodohi nya.
"Tidak perlu kau tahu! kalau ingin bantuan ku, maka turuti saja perintahku."
"Kau tahu apa ini? aku bukan dari yangzi bukan pula dari Wei, jika kau berhasil, aku akan menepati janjiku."ucapnya memperlihatkan sebuah racun mematikan yang terkemas.
"Kau! tuan lembah beracun?"tanya fan Xun kaget.
"Tapi kalau begitu, kenapa tuan harus menyuruhku, sedang tuan bisa melakukan nya sendiri."ucapnya lagi.
"Aku tidak mungkin mengotori tanganku sendiri, apalagi di tempat yang tidak seharusnya aku berada,"
"Katakan saja yah atau tidak, kalau tidak bisa lebih baik anda pergi saja, saya akan mencari orang lain saja."Sahut nya.
"Baiklah, apa yang bisa saya lakukan untuk tuan lembah."
Tuan lembah itu berdiri dari duduknya, "Apa kau tahu seorang pria kecil yang selalu ikut bersama pangeran liang?"tanya nya serius.
"Wanita itu?"
"Wanita? siapa wanita."tanya, tuan lembah penasaran.
"Pria kecil itu seorang wanita tuan, dia berasal dari kediaman xiao Lei"jawabnya.
"Hum menarik, itu berarti putri dari nyonya xiao Liu?" dan dibalas anggukan olehnya.
__ADS_1
"Rupanya musuh lama!"gumamnya.
"Kalau begitu musnahkan seluruh keluarga Xiao, bakar kediamannya jangan ada yang tersisa."perintahnya.
"Baik tuan."balas fan Xun dan segera beranjak, tidak ada cara lain mungkin dengan ini dia bisa bertemu kembali ibu yang sudah sangat dirindukan sejak lama, namun ia tidak bodoh, tuan lembah terkenal akan kelicikannya. Karena itu fan Xun tidak akan gegabah dan mengambil langkah yang salah.
*****
3 hari telah berlalu sejak kepulangan fan Xun bertemu tuan lembah, tampaknya ia masih berdiam diri dan belum sama sekali melakukan apapun, terlihat ia sedang berpikir keras, ia tidak mungkin tidak melaksanakan perintah tuan lembah, secara hanya dia harapannya, sedang dirinya tidak mungkin datang ke istana yangzi hanya seorang diri tanpa prajurit, ia sedang menyusun rencananya dan segera beranjak pergi ke suatu tempat.
*Di istana Wei"
Pangeran liang dan xiao Lei sedang menyantap makanan pagi-pagi sekali, liang tersenyum melihat cara makan pengawalnya yang terlihat pipinya menyembul karena penuh makanan. Xiao Lei terdiam melihat pesona senyum liang yang semakin tampan, namun ia tidak ingin ketahuan kalau sedang terpesona.
Xiao Lei segera menyudahinya terakhir dengan meminum air putih.
"Kamu harus makan banyak, lanjutkan lagi."
"Tidak tuan, kali ini aku sangat kenyang."balasnya.
"Hum terserah saja."
Xiao Lei melihat tuannya dan memanggil hendak mengatakan sesuatu. "Tuan."panggilnya.
"Hum! katakan."
"Tuan izinkan aku pergi, sudah berbulan-bulan aku tidak bertemu keluargaku, aku merindukan mereka."ucapnya memohon dengan kasih.
Liang memandangi xiao Lei sebentar sebelum berucap, "Aku tidak mengijinkan mu."ucapnya dan menuang air dan meminumnya.
mendengar hal itu xiao Lei merasa sedih, ia hidup bukan seperti mengawal melainkan tahanan seribu tahun. Xiao Lei menghela nafasnya, "aku menyiapkan air mandi untuk tuan."ia beranjak.
"Tunggu!apa kamu tidak pergi?"ucapnya tersenyum kecil.
"Pergi? tuan! mengizinkan ku."ucapnya dibalas anggukan liang dan ia tersenyum langsung beralih memeluk Liang tanpa sadar karena merasa bahagia. "Terimakasih tuan, anda memang baik."ucapnya memuji.
"Aku memang baik."ucapnya dengan mengusap tangan xiao Lei yang sedang memeluknya.
"Maaf tuan, aku tidak sengaja."sambil melepaskan pelukannya.
*****
Xiao Lei sudah bergegas menuju kediaman ayahnya, kali ini ia tidak mampir di desa Gudu, karena sudah sangat merindukan ayahnya, apalagi kakaknya yang tidak pernah berubah rasa sayangnya kepada nya, meski ia sering kali melakukan kesalahan.
Xiao Lei sudah sampai di depan gerbang dengan kuda yang ia tunggangi, xiao Lei terlihat bahagia sekali dengan menampakkan senyuman terindahnya karena saking bahagianya, apalagi ia sudah kembali dari sekian abad.
Xiao lei memfokuskan mata ke arah kediaman ayahnya, senyumannya yang manis seketika menghilang dan tampak wajah layu yang terlihat dan matanya ikut melotot tak percaya, tubuhnya bergetar kuat disertai genggaman tangan.
__ADS_1
Seketika diam membisu, air bening di wajahnya terus mengalir menyaksikan apa yang ia lihat di depan matanya dan menjadi saksi bisu, ia turun dari kudanya dan maju sedikit ke depan dan jatuh berjongkok, air bening itu terus mengalir tiada henti, ia meremas kuat dengan genggaman tangannya, mulutnya menganga. "Ha.....Tidakkkk....."teriaknya keras dan terus menangis.