The Heroine

The Heroine
Eps. 35 Menyerang kembali, kematian


__ADS_3

Xiao Lei kesal dan marah dengan tawa seperti itu, ia menggenggam kuat pedangnya, tubuhnya bergetar mendengar semakin keras teriakan mereka, sedang kedua wanita itu sudah mundur jauh dibelakangnya.


Tampa berucap lagi xiao Lei, segera mencabut pedang dari sarungnya dan menyerang mereka semua, beberapa saat berlalu, xiao Lei di kepung seorang diri, namun itu tidak membuatnya takut, namun ia terlihat semakin bersemangat saat beberapa orang sudah ia lumpuhkan. Xiao Lei menendang dan menghajar dengan pedang setiap orang yang berani mendekatinya, tidak ada ampun untuk orang-orang seperti mereka semua, pedangnya sangat haus darah.


Setelah hanya tinggal beberapa orang saja, xiao Lei


teringat tuan song, ia tidak melihatnya, "kemana orang itu?"gumamnya, dan ia juga baru teringat kedua wanita itu tidak berada di tempatnya, xiao Lei hendak meninggalkan tempat itu, namun dihalau para pria yang masih tersisa, pikirannya sekarang kacau, kalau terlambat nyawa kedua wanita itu dalam bahaya, tidak bisa membiarkan hal itu, xiao Lei membabi buta, menendang dan menghajar, semuanya terlempar jauh dan memuntahkan darah.


Ia segera berlari mencari keberadaan wanita itu, dari kejauhan ia sudah melihat wanita itu, sedang terpojok di dinding batu, tuan song akan segera mungkin menjatuhkan pedang tajam ke arah wanita itu, ia sudah dikurung selama bertahun-tahun, nyawanya pun ingin di rampas secara paksa, ia tidak bisa terima dengan perlakuan tuan song, xiao Lei berlari sekencang mungkin untuk menggapainya, wanita itu terlihat sangat ketakutan, namun hanya bisa pasrah, dengan nasib yang di alaminya, terlihat ke dua wanita itu sedang menitikkan air mata menanti mautnya.


Tuan song menaikkan pedangnya dan akan segera mengayunkan turun, saat akan sampai ke bawah, xiao Lei berteriak dan kedua wanita itu hanya menutup wajahnya.


"Tidak."teriak xiao Lei terjatuh dan tersungkur ke tanah.


Ke dua wanita itu menghela nafasnya menyaksikan


apa yang dilihatnya, xiao Lei yang terjatuh bangkit lagi dan menatap ke arah depan di mana mereka berada, ia menatap tidak percaya, seorang pemuda berdiri dengan gagah dan tangguh menghalau pedang tajam tuang song dan beralih tepat ke depannya, sedang wanita itu berlarian menuju wanita penyelamatnya.


Tatapan mata xiao Lei tidak percaya dengan apa yang ia lihat barusan, sejuta perasaan antara sedih dan bahagia, "kakak."teriak xiao Lei tersenyum namun juga menangis, ternyata kakaknya masih hidup, ia hendak berlari ke arahnya namun xiao Yue menghentikannya.


"Pergi."teriak Yue yang sedang bertarung dengan tuan song. Namun xiao Lei tidak mendengar ucapan kakaknya. Melihat hak itu Yue berteriak kembali.

__ADS_1


"Bawa mereka, nyawa mereka jauh lebih berharga."teriakan Yue, di saat bersamaan penyerang datang kembali dan mengarah kepada mereka, jadi xiao Lei terpaksa mengurungkan niatnya dan segera meninggalkan Yue sendiri melawan tuan song dan prajuritnya.


Di saat bersamaan bala bantuan untuk xiao Lei telah datang, dan menyerang para penjaga istana, mereka semua telah bertarung dengan ganas Tampa ampun, begitupun fan Xun bertarung dengan kemarahan dan membuat beberapa para prajurit istana tumbang, keahlian fan Xun sangatlah handal berbeda dari mereka semua.


*****


Di tempat lain, dong fan semakin melajukan kudanya, untuk secepat mungkin sampai di yangzi, dan beberapa saat kemudian ia sudah sampai.


Xiao Lei membawa mereka ke luar, dan melihat orang-orang datang dengan tepat dan saling bertarung satu sama lain. Xiao Lei mendekat tetua Yuan sang kakek dari desa Gudu yang sedang memegang pedangnya. "Kakek, tolong bawa mereka pergi."sahut xiao Lei mengisyaratkan kedua wanita itu, dan segera tetua membawa mereka, dan xiao Lei segera kembali ke tempat tadi.


*****


Melihat lautan darah di depannya, para prajurit tewas di tangan orang-orang itu, dong fan segera mungkin turun dari kuda dengan membawa pedang. Melihat seseorang sedang hendak kembali menyerang pemuda yang sedang terjatuh, dan yang terjatuh itu cukup ia kenal dong fan berlari mendekatinya dan mencabut pedangnya lalu menghalau pedang pemuda itu.


juga tidak percaya kalau orang di depannya datang membantu kerjaan yangzi dengan penuh orang-orang penipu dan pengkhianat, ia juga mengira kalau dong fan ikut terlibat dengan hilangnya ibunya, iya tidak percaya jika selama ini ia hanya ditipu dan dijadikan tersangka atas hilangnya ibunya sendiri, sehingga harus diusir dari kediamannya sendiri, begitu pikirnya.


"Dong fan."sahut fan Xun.


"Kau, di sini, dasar pengkhianat, kau pantas mati."ujarnya sehingga terjadilah pertarungan di antara mereka berdua.


"Kaulah pengkhianat sesungguhnya."teriak fan Xun sangat marah, dendam lamanya yang hampir ia kubur kini kembali membara dan tidak bisa lagi dipadamkan, mereka berdua telah dipenuhi api dendam. Entah bagaimana mereka bisa saling mengenal dan memiliki dendam.

__ADS_1


*****


Xiao Lei berlari secepat mungkin untuk menggapai kakaknya, dan saat sampai ia telah melihat kakaknya Yue sudah tergeletak di tanah, dan orang-orang itu telah menghilang. Ia menghampirinya dan menaikkan Yue ke atas pangkuannya. Kedua mata Yue sudah tertutup rapat, aliran udara di hidung tidak lagi berpijak.


"Yue'ge."ucapnya lirih dan seluruh wajah telah basah, tangan xiao Lei bergetar hebat memegang wajah kakak nya dengan mulut masih ada sisa darah. Ia memeluk kencang Yue, mulutnya terus menganga karena menangis.


"Yue'ge!...hi....hi....hi.... kenapa, hi...kenapa kau meninggalkanku, kita baru bertemu, tapi sekarang kau benar-benar pergi, kau tidak sayang denganku, apa kau masih membenciku?"lirihnya sambil menggoyangkan tubuh kakaknya.


"Yue'ge."teriaknya kencang. Suara langit telah bergemuruh seperti mengetahui kesedihannya, butiran air bening telah jatuh dan membasahi seluruh belahan dunia. Air mata xiao Lei terus mengalir mengikuti turunnya air hujan.


Dirinya telah menggenggam kuat ke dua tangannya, lalu meletakkannya Yue'ge di sisi batu, dan pergi dan berjalan dengan tangan terus tergenggam. "Takdir telah mempermainkan aku."kilah dihatinya meratapi nasib, andai saja ia tidak meninggalkan Yue'ge, mungkin kejadiaannya tidak seperti ini. Itulah takdir tidak ada yang bisa merubahnya, kita hanya perlu bersabar menunggu keajaiban itu datang, namun keajaiban itupun telah terenggut darinya. Sungguh nasib malang.


*****


Di luar istana semuanya masih sibuk dengan pedangnya, fan Xun dan dan Dong fan terus bertarung, tidak ada tanda-tanda menang dan kalah, keduanya cukup tangguh dan seimbang.


Dari kejauhan terlihat xiao Lei telah datang dengan pakaian penuh darah, dan cadar masih melekat di wajahnya. Ia berjalan sempoyongan, lusuh dan tertatih-tatih, masih ada sisa-sisa tangisan di wajahnya, dan hujan juga telah berhenti.


Namun angin tidak seperti biasanya, ia datang dan menerbangkan kain yang telah menutupi wajah xiao Lei, bersamaan dengan itu dong fan dan fan Xun bertarung mengarah kepadanya, dengan jelas dong fan melihatnya.


Tiba-tiba dong fan mengarah pada xiao Lei memegang kuat pedangnya, terlihat bergetar dan mengarahkan pada xiao Lei yang sedang berdiri mematung memandangi lautan manusia dengan tatapan kosong, pedang yang mengarah padanya tidak ia pedulikan lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2