
Seminggu telah berlalu waktu yang cukup lama bagi xiao Lei berada di negara yang asing, ia sudah merindukan keluarganya, begitupun liang dan dong sudah berkemas untuk segera meninggalkan istana dan melanjutkan perjalanan dan semuanya sudah berada di luar istana. Raja yangzi tidak bisa lagi menahannya karena putrinya tidak memiliki cuti untuk pulang, ia hanya menghela nafasnya sambil menunggu dan melihat liang dan temannya pergi.
"Liang."panggilnya, liang berbalik saat hendak menaiki kudanya.
"Ya, yang mulia."sahutnya.
"Apa kau tidak ingin melihat dulu chuan'er."ucap raja dengan perasaan tidak tentu.
"Hum...saya akan mengunjunginya lain waktu saja yang mulia."balasnya.
"Lalu bagaimana dengan itu."ucapnya sambil mengingat permintaannya waktu itu.
"Maaf yang mulia, hamba belum memikirkan hal itu, dan hamba belum bisa memutuskannya sekarang."balasnya mengerti dengan maksud di hari raja dengan rendah hati dan menjawabnya.
"Hah... baiklah, jika kau sudah memutuskan nya, jangan lupa hubungi saya."
"Baik yang mulia."ucapnya dan pamit undur diri.
Ketiga pemuda itu sudah meninggal kan istana raja yangzi dan telah melewati gerbang istana, cukup jauh perjalanan mereka, dan sampai di sebuah hutan yang lebat dan sunyi, hanya ada kicauan burung dan udara dingin yang menerpa, karena merasa lelah dengan perjalanan yang cukup panjang dan sudah sore mereka berhenti dan beristirahat sebentar. Udara di sekitar semakin terasa dingin, semuanya telah bersandar di bawah pohon dan menenggelamkan matanya.
Xiao Lei merasa tidak nyaman dan gelisah, ia tidak bisa menutup matanya meski berusaha memaksakan diri, matanya tertuju pada sebuah bukit yang berada tidak jauh dari tempanya saat ini, ia beranjak tak lupa pula mengambil pedangnya yang ia simpang di tanah dan melangkah ke sana hendak memeriksa ada apa di sana.
Xiao Lei sudah berada di bukit itu, ia melihat pemandangan yang indah di kerajaan yangzi terlihat jelas dari atas bukit itu, tiba-tiba pandangannya tertuju pada daratan yang tandus, meski sangat jauh ia bisa melihatnya dengan jelas, kalau tidak salah itu merupakan tempat terlarang yang terletak di bagian barat yang ada di kerjaan yangzi. Ia merasa penasaran dengan tempat terlarang itu, mengapa tuan song bersikeras melarangnya, namun ia tidak ingin membuat tuannya khawatir, apalagi sudah sangat sore dan langit jingga sebentar lagi akan datang, ia memilih kembali.
__ADS_1
Lain waktu saja ke sana jika ada kesempatan, begitu pikirnya, dan terus melangkah ke arah tuannya, ia melihat tuannya, ternyata tidurnya terlalu nyenyak sehingga tidak menyadari kepergiannya, ia duduk di samping tuannya dan sigap memegang pedang, berjaga-berjaga jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, apalagi hutan ini sangat luas dan sunyi, siapa saja bisa datang menyerang kapang saja.
Terasa ada sesuatu yang memegang punggungnya, ia bersiap ancang-ancang dan menggerakkan pedangnya dan berbalik, terlihat ia memegang dadanya dan menghela nafasnya kasar, dan mengatur irama nafasnya dan melakukan aspirasi.
Liang terbangun diikuti oleh dong. "Kenapa denganmu?" dibalas dengan gelengan kepala olehnya.
Liang bangkit dari duduknya, "cepat, kita harus mencapai rumah-rumah warga sebelum malam tiba, kemungkinan tempat ini banyak hewan buas."sahutnya, dan semuanya melangkah mengikuti Liang menaiki kudanya.
"Pegangan."sahut liang yang sudah berada di atas kuda begitupun xiao Lei dan memeluk tuannya dengan keras, karena pacu kuda yang kencang.
Dengan cepat mereka meninggalkan hutan kalang kabut itu, namun sebuah tembakan panah yang tertancap di tanah telah menghentikan perjalanannya.
Seorang pria berjubah hitam menutup wajah dengan topeng dan beberapa orang lainnya sedang mengawalnya, ia orang yang sama menyuruh pembunuh bayaran untuk mencelakai liang saat itu, dan kali ini ia turun secara langsung karena tak ingin misinya gagal lagi, ia berkeinginan menyelesaikannya hari ini juga, di saat malam tiba dan berada di hutan sunyi, waktu dan tempat bagus, dan semuanya sudah di atur sebaik mungkin agar keluarga ketiga pemuda itu hanya diterkam binatang buas.
"Tuan, kita di hadang."ucap xiao Lei, namun liang menyuruhnya untuk diam dan segera menghentikan laju kudanya.
"Tuan kami, maut mu! lebih baik kalian serahkan nyawa dengan baik-baik!, dan kalian tidak akan menerima kesakitan luar biasa."sahut salah satu pengawalnya dengan angkuh.
"Cih...dasar sombong."ujar xiao Lei.
"Hei pemuda kecil! tidak ada urusannya denganmu, lebih baik kau pergi saja dan tinggalkan pemuda itu."sahutnya menunjuk ke arah liang.
Liang dan dong hendak menyerang namun sayang, pedangnya terlupa di istana, begitupun xiao Lei merasa sangat geram dan memeriksa pinggangnya ternyata pedangnya juga tertinggal di tempat tadi.
__ADS_1
"Tidak ada jalan lain."gumam di hatinya. Karena tidak mungkin menyerang tanpa senjata dengan puluhan orang yang mengepung nya. ia bisa saja mengalahkan semua orang itu hanya dengan senjata jarum beracun, namun ia tidak ingin menyalahgunakannya, apalagi tidak terlalu darurat, dan ia juga tidak ingin tuannya salah paham mengenai dirinya, karena saat makanan di penginapan itu memiliki racun yang sama di jarumnya. Dan racun yang sama pula membuat ibunya mengalami sakit yang parah.
Ha.....ha....ha...., xiao Lei tertawa keras, semua tatapan aneh tertuju padanya.
"Terimakasih tuan maut!!!, memang ini yang saya inginkan, terimakasih telah membebaskan saya dari kedua tuan itu, aku memang ingin bebas dari dua tuan sialan itu, tuan mungkin maut untuknya tapi tuan adalah penyelamatku."sahut Xiao lei tersenyum ke arah orang itu. Liang dan dong marah ternyata selama ini dia melihara seorang penghianat.
"Pengawal Qin! kau pengkhianat!"ucap dong dengan memelototi xiao Lei.
"Pantas saja waktu itu, kau menodongkan pedang kepadaku karena ingin pergi."
"Kenapa tidak! apa aku harus tinggal dengan kalian dan mati bersama!"sahutnya.
Xiao Lei mengacungkan jarinya, "itu tidak mungkin!aku tidak ingin mati muda dengan kalian, jika ingin mati! matilah jangan ajak saya! saya masih muda, hanyalah pemuda dari desa belum sempat tahu rasanya menjadi orang kaya, sedang kalian sudah menikmatinya sejak lahir, lalu bagaimana mungkin aku akan mengorbankan diriku, enyalah kalian!"celoteh xiao Lei panjang lebar.
Dong mengertakan giginya sedang liang hanya diam saja tak berkata apa-apa, wanita yang sudah mengisi ruang kosong hatinya telah menipunya selama ini, iya memandang nanar tidak percaya.
"Kau tidak tahu malu, pangerang liang sudah memberimu makanan yang banyak, namun kau membalasnya dengan menipu, tidak tahu balas Budi, kau tidak jauh lebih baik dari sampah jalanan."makinya.
Xiao Lei merasa geram dengan ucapan pedas tuan dong, namun tujuannya sekarang jauh lebih penting dari celoteh tuang dong, ia lebih fokus menatap panah yang berada di belakang prajurit pembunuh yang sudah mengepung keberadaan mereka.
Sedang tuan yang mengira maut untuk Liang sudah merasa bosan dengan drama mereka.
"Cepat pergi! sebelum kesabaran ku habis!"teriaknya dan maju melangkah barisan paling depan.
__ADS_1
"Baik, selamat bersenang-senang tuan."ucapnya dan melirik ke arah kedua pemuda itu, sebelum ke luar dari pembatas.
"Kau benar-benar pengkhianat."teriaknya keras dan seluruh kekuatan suaranya benar habis.