The Heroine

The Heroine
Eps. 20 Menuju Yangzi


__ADS_3

Xiao Lei terbangun dan melihat ada sebuah bungkusan pakaian di atas meja dan melihat kedua pemuda itu tengah bersiap-siap akan pergi."Kau sudah bangun."tanyanya, xiao Lei yang ditanya hanya mengangguk.


"Tuan hendak ke mana?"tanyanya penasaran.


"Bukan kami, tapi kau juga."Sahut dong fan.


"Kita akan ke negara yangzi!!, ayo bersiap."ucapnya.


"Kita akan melakukan apa di sana."ucapnya lagi.


"Jangan banyak nanya, ikuti saja perintah."ucap dong.


"Yang ditanya siapa? yang menjawab siapa??"ucap xiao Lei kesal.


"Yang menjawab setan."sahut liang tersenyum.


Ketiga manusia itu sudah selesai melakukan aktivitas sejak tadi, ia segera ke luar dengan membawa bungkusannya. Sedang di luar sudah ada 2 tumpangan kuda yang menunggu. Liang segera naik ke kudanya, diikuti oleh xiao Lei menaiki kuda yang satu. Tampak liang mengernyitkan kedua alisnya melihat pengawalnya.


"Qin!!itu kuda!!"ujar dong fan sambil menarik tangan xiao Lei.


"Tidak bisa, ini kudaku tuan karena aku yang dulu mendapatkan nya."ucapnya tak mau turun. Liang cemburu melihat tangan xiao Lei dipegang dong, ia segera turun dari kudanya dan naik ke kuda yang ditumpangi xiao Lei, dan melingkarkan tangannya. Mata xiao Lei membulat sempurna."Tuan aku saja yang dibelakang."ucapnya.


"Aku lelah ingin tidur kau saja."liang.


"Ayo berangkat."teriak dong fan yang sudah berada di atas kuda.


Mereka bertiga sudah berangkat menuju ke negara yangzi dengan mengendarai kuda, melewati rumah-rumah warga, hutan dan pasar, butuh 3 hari perjalanan untuk bisa sampai di sana, mereka hanya sesekali istirahat untuk meminum air di sumur, setelah rasa hausnya lega mereka kembali melajukan pacuan kuda mereka hingga sampai di sebuah perbatasan tembok batu besar yang bertuliskan negara yangzi.

__ADS_1


Xiao Lei berhenti dan melihat tembok itu.


"perbatasan yangzi."bacanya. Lalu mereka kembali melajukan kudanya secepat mungkin sedang liang semakin mengeratkan pelukannya. "Tuan tolong lepaskan tangan tuan, aku mohon!!! pinggang ku bisa putus."teriaknya kencang karena sahutan kecil tak akan mampu terdengar karena angin yang ikut berirama mengikuti pacu kuda mereka. Liang tak menghiraukan ucapan xiao Lei, ia pura-pura tak mendengarnya.


Hingga kuda mereka berhenti di sebuah penginapan. "Tuan sudah sampai." ucapnya dan langsung melepaskan tangan yang masih setia melekat nyaman di pinggangnya, dan mereka menuruni kudanya dan menitipkan di penjaga kuda.


"Kita akan menginap."ucap dong fan.


Mereka melangkah masuk dan memesan kamar penginapan dan setelah mendapatkannya mereka langsung menuju ruangannya yang terletak di atas lantai 2 paling ujung. Karena sudah sangat lapar dari perjalanan jauh mereka segera memesan makanan yang banyak, dan terlihat pelayan pria membawa berbagai macam hidangan makanan lalu disajikan di atas meja kayu tak bermotif.


Melihat banyak makanan yang tersaji di depannya, jiwa kurus dan perut xiao Lei meronta-ronta ingin segera menyantapnya. Saat tangan menyentuh bakpao dan hendak memasukkan ke mulut yang sudah terbuka lebar, Liang menghentikan xiao Lei dengan memegang tangannya.


"Apa yang tuan lakukan tidak sopan."ucap xiao Lei hanya bisa menelan saliva nya karena makanan itu diambil olehnya.


"Tunggu."sahut dong juga bicara.


"Tunggu sampai kapan, apa sampai makanan ini basi, kan sayang tak dimakan."sesalnya.


"Kenapa bisa seperti itu tuan??"tanya xiao Lei serius beralih pada liang.


"Huh...karena negara ini penuh dengan orang-orang licik dan sangat berbahaya, jadi kita harus selalu waspada, jangan bertindak gegabah hanya karena melihat makanan enak langsung ingin memakannya."Liang menghela nafasnya.


"Jadi begitu, baiklah lebih baik aku diet saja untuk hari ini, dari pada aku mati muda, aku masih ingin hidup panjang."celotehnya panjang lebar dan berhasil membuat liang tersenyum dan merasa gemas.


"Dan kamu juga belum menikah."jelas liang menambahi lagi-lagi tersenyum memperlihatkan sisi ketampanannya dan berhasil membuat xiao Lei diam terpaku dengan wajah cemberut dan liang hang terasa ingin sekali memangsa wajah wanita di depannya, tapi ia tahan takut xiao Lei curiga kalau liang sudah mengetahui kalau dia seorang wanita yang menyamar.


Kedua lamunan orang itu buyar saat dong fan bersiul dan seekor burung telah datang menghampirinya, dong fan menjadikan burung itu sebagai sampel percobaan. Baru satu menit berlalu burung itu itu sudah jatuh tak berdaya di lantai. Xiao Lei menganga, jika ia sampai saja liang tak menghentikannya saat hendak memakan makanan lezat itu, mungkin dirinya sudah sama seperti burung itu, hanya tinggal nama saja.

__ADS_1


"Menakutkan,"gelitik xiao Lei.


"Kasihan nasibmu burung malang!!, untungnya aku masih punya akal."ucapnya duduk jongkok dengan jari telunjuknya arahkan ke tubuh burung dan memeriksanya. "Benar-benar sudah mati." xiao Lei menghela nafasnya.


Sedang kedua pemuda itu sedang berbincang serius. "Apa kau tahu pelakunya."dong fan menggelengkan kepalanya. "Ayo kita periksa."ucap liang dan mereka berdua turun ke bawah karena ruangan mereka berada di lantai atas. "Hei mau ke mana kalian tuan?."panggil xiao Lei saat tuannya sudah berada di pintu. "Tunggu disitu, jangan ke mana-mana."sahut liang dan berlalu.


Xiao Lei duduk di kursi memandangi makanan yang tersaji di meja, "sayang sekali makanan sebanyak ini tak berguna."gumamnya.


Ke dua pemuda itu sudah berada di dapur mencari keberadaan pelayanan yang mengantarkan makanan kepadanya, liang bertanya mengenai pelayan itu, dan memberitahukan ciri-ciri pelayan pria itu. "Apa kalian melihat."tanyanya.


"Maaf tuan setahu kami, tidak ada pelayan yang seperti tuan sebutkan barusan."jawabannya dan mereka semua juga terlihat bingung.


"Emang kenapa tuan."tanya salah satu pelayan wanita.


"Tidak ada apa-apa, kami hanya berterimah kasih."sahut dong fan dan mereka berdua pergi.


dan saling memberi kode.


*****


Seorang pemuda berlari kencang dengan terengah-engah sambil berhenti dan memegang ke dua lututnya lalu bersandar di batang pohon. Dia pelayan yang mengantarkan makanan untuk ketiga pemuda itu, karena merasa apa yang ia lakukan sudah ketahuan, karena ia sempat melihat burung yang terlempar dari atas yang hampir mengenai dirinya, karena itu dia pergi dengan cepat untuk pergi jauh, berhasil dan tidak berhasilnya misinya sama saja dia akan mati.


Dia menghela nafasnya istirahat sebentar, dan merasa aman ia hendak cepat-cepat pergi, saat berdiri pedang tajam dan panjang mengarah kepadanya, ia lalu mendongakkan wajahnya melihat 2 pria dengan tatapan tajam dan siap membunuh.


"Siapa kalian, dan kenapa kalian hendak membunuhku, apa kalian perampok, saya tidak punya apa yang bisa kalian miliki."ucapnya pura-pura tidak tahu, dan terlihat sangat ketakutan dan bergetar.


"Kami perampok nyawa."sahut dong.

__ADS_1


"Perampok nyawa?? berarti aku telah melakukan kesalahan."gumamnya dan melotot.


Bersambung....


__ADS_2