
*Fan Utara"
Di kediaman bangsawan fan, ia sedang terduduk lesu dan tak bersemangat sejak mendengar kabar kalau seluruh keluarga Xiao mati tanpa tersisa, ia sangat menyesal belum sempat mengatakan perasaannya namun xiao Lei sudah pergi ke dunia lain
*****
Xiao Lei beranjak keluar dan sebelum pergi ia berucap. "Kalian semua, teruslah berlatih dan buat senjata sebanyak mungkin, kita akan menyerang 3 bulan kemudian"
"Kakak kan ke mana?" tanya gadis kecil itu, yang bernama Mei an.
"Kakak akan pergi beberapa hari, dan jangan ada yang mencari ku, aku akan kembali secepat mungkin."ucapnya dengan memberi isyarat.
"Xiao Lei."panggil fan Xun, "Aku ikut denganmu."ucapnya.
"Tidak! kau tetap di sini saja, jaga mereka semua, dan kamu jangan berbuat ulah lagi."tegasnya.
Xiao Lei berpakaian seperti pria lalu mengambil kudanya dan menaikinya menuju arah tujuannya, cukup jauh perjalanannya menuju negara yangzi, ia hendak menemui seseorang namun perjalanan ia lakukan telah di hadang segerombolan orang, tapi orang itu orang yang sama, berjubah hitam dan menutup wajah.
Xiao Lei segera menghentikan kudanya dengan menarik tali yang terikat, (suara keras kuda).
"Rupanya kau selamat, tapi bagus kau datang menemui maut mu sendiri."ucapnya angkuh dan percaya diri.
"Lama tidak berjumpa tuan song."tebaknya tersenyum, karena ia menemukan bukti dan menyimpulkan nya. Ia mengingat saat tuan song menembakkan panah beracun saat malam festival, dan orang yang sama menurut perkataan fan Xun tuan jubah hitam merupakan tuan lembah beracun, berarti orang yang sama, dan orang yang sama pula meracuni makanan mereka saat itu.
Tuan song merasa kaget, karena identitasnya begitu muda diketahui hanya seorang wanita saja, dan ia tidak bisa menganggap remeh wanita yang sedang berada di depannya itu.
Xiao Lei menghela nafasnya kasar, "Dan ibuku tiada karena dirimu."tunjuk-nya marah
"Lebih baik, wanita itu untuk kami tuan, rasanya aku merindukan sosok penghangat."ucap salah satu bawahan jubah hitam yang sudah mengetahui kalau di depan itu seorang wanita incaran tuannya. Lalu semua bawahan itu tertawa, dan terlihat tidak sabar ingin menikmati wanita muda di depannya
Xiao sangat marah, pria tua menginginkan dirinya.
"Tidak tahu malu, menjijikkan"teriaknya dan menembakkan beberapa senjata tajam yang ia ambil dari balik pakaiannya dan semua prajurit di tempat itu jatuh dengan sebuah senjata tajam yang menancap di dada. Sekarang hanya tinggal tuan song seorang diri.
__ADS_1
Xiao Lei turun dari kudanya, tuan song mulai menyerang membabi buta tidak membiarkan xiao Lei bernafas sedetik mungkin, ia juga menyerang xiao Lei dengan jarum beracun, tapi xiao Lei selalu sigap dengan lincah dan mata tajam yang melirik, jarum itu lewat tepat didepan matanya, dan hanya menancap di batang pohon. Percuma saja melawan wanita karena kekuatannya sudah tak sempurna dulu. Ia lalu menyerang dengan senjata, xiao Lei menghindar dan menahan dengan pedangnya.
Xiao Lei bergerak mundur dengan mengarah kepadanya, ia terus mundur dan mencapai sebuah batang pohon, dan menjadikan batang pohon itu sebagai titik tumpuan kakinya, lalu memutarkan diri dan mengarah padanya dan saat tuan lembah mendekat xiao Lei memutar tangannya dan menendang dada tuan song beserta dagunya, dan akhirnya terlempar kerasa.
Xiao Lei sudah berdiri tegak di atas tanah dengan memegang pedangnya bergerak maju mendekati tuan song yang sedang memegang dadanya dan sedikit mengeluarkan darah dari mulutnya. Xiao Lei memegang kuat pedang itu dan siap menancap-nya. Pedang yang dipegang olehnya sudah berada di atas dan..."Ah...."teriaknya dirinya untuk memulai membunuh.
Sebuah panah telah meluncur ke arahnya, untungnya ia melihatnya dan segera menghindar, namun saat berbalik tuan song sudah menghilang.
Karena tak ingin terlalu lama Xiao lei segera pergi.
Perjalanan yang cukup panjang akhirnya ia menginjakkan kakinya di kota yangzi tempat ia bertemu dengan pemuda yang menolongnya saat di kejar orang-orang karena ulahnya sendiri. Ia datang secara khusus untuk menemui pemuda itu. (Cheng yi), ia ingin menanyakan sesuatu hal darinya.
Xiao Lei menyimpan kudanya dan hanya berjalan, ia terus melangkah maju tampah pengarahan, mata terus melihat untuk mengintai keberadaan pemuda itu, saat hendak berbelok tiba suarakan nyaring menggema di telinganya, ia berbalik ke arah suara itu terdengar.
Melihatnya matanya sebuah gigi putih sedang tersenyum dan mereka, wajah berbinar karena bahagia dari seberang sana.
"Kegantengan."gumam Xiao Lei.
Orang yang tersenyum padanya sudah tepat di depannya dan masih memperlihatkan senyumnya, xiao Lei menyipitkan matanya. Pemuda itu langsung masuk ke dalam tubuh xiao Lei.
"Aku tidak mau, kita tidak berjumpa dalam waktu yang lama."
"Kau sudah remaja, sedang aku dewasa, tidak baik bersentuhan."
"Aku memang sudah besar, lalu apa masalahnya kita bersentuhan."ucapnya melepas pelukan itu dan memegang tangan xiao lei
"Apa kau tidak ingin memberiku makan."xiao Lei berusaha mengalihkan pembicaraannya ke topik lain.
Nampak Cheng yi tersenyum dan mata melotot sepertinya ia menemukan sesuatu, "Kakak aku sudah besar kan itu berarti sudah waktunya aku menikah."ucapnya tersenyum seperti menggoda.
"Dasar bocah, kau ingin menikah."selidiknya meneliti dari atas sampai, "tidak masuk kriteria, lihat saja badan kecil dan pendek, siapa yang berkeinginan denganmu?"lanjutnya.
"Kakak tidak bercermin, lihatlah dirimu, kau lebih kecil dariku."ledeknya dengan mengerakkan tangan, dan berhasil membuatnya melotot dan merasa geram.
__ADS_1
"Kau, aku ini kecil karena seorang...."
"Seorang apa?"tanyanya mendekati wajah xiao Lei untuk meneliti.
"Pindahkan wajah jelek mu."ledeknya dengan tangan bergerak sendiri.
"Aku ini prajurit, jadi pantas kecil, beda denganmu." xiao Lei tersenyum palsu memperlihatkan giginya.
"Kakak aku suka pria, ayo kita menikah."
"Kau suka pria, pantas saja kau memelukku tadi, ternyata ada banyak pria yang suka sesamanya jenis."gumamnya dengan menggeliat.
"Tapi sayangnya kakak bukan pria.."disaat yang bersamaan ia menutup mulutnya dengan mata melotot karena keceplosan.
"Kau sengaja mengerjai ku."teriaknya marah keras, sedang Cheng yi tertawa melihat ekspresi xiao Lei.
Sebelum mendapatkan amukan wanita itu, Cheng yi sudah melarikan diri, melihatnya berlari xiao Lei juga mengikutinya dan berlari.
"Hei tunggu! bocah nakal, jangan lari," mereka terus berkejaran.
*****
Di tempat lain tuan lembah disandarkan di batu besar, topengnya sudah tak terpakai, tampaknya ia lemas dan masih ada sisa darah di mulutnya.
"Kenapa kau menolongku?"
"Bagus aku menolongmu, lihat saja kekuatan anak itu telah memutuskan urat-urat mu."
"Kau ingat, ucapan kakek tua, gadis yang sudah melukaimu adalah takdirmu."
"Aku tidak percaya!"
"Terserah dirimu saja, tapi setiap perkataan yang dilontarkan kakek tua itu tidak pernah meleset dan nyata.
__ADS_1
"Jika kau sayang nyawamu, lebih baik kau kembali saja ke tempat asal mu."ucapnya lagi.