
Xiao Lei mencicipi teh hangat sambil memandangi pemuda itu dengan sorot mata tajam dan serius, wajah anak di depannya tiba-tiba terlintas seperti ia pernah melihatnya namun ia lupa di mana. Xiao Lei terlihat berpikir keras.
"Tuan beri aku uang, aku belum makan."ucapnya berusaha mengingatkannya akan kata-kata itu.
Saat mendengar ucapan anak muda itu, mata xiao Lei melotot seperti akan ke luar dari cangkangnya.
"Kau anak kecil itu..?"
"Kakak aku bukan anak kecil, aku sudah besar badanku saja yang kecil karena kekurangan makanan."
"Kasihan, aku saja yang kelebihan kecil apalagi kau yang kekurangan."
"Aku memang kekurangan makanan, karena aku hidup sendiri tanpa keluarga ku."sahutnya sedih dan xiao Lei merasa iba.
"Maaf, kakak hanya bercanda."
"Hum, tidak apa."
"Lalu apa yang kau lakukan di sini."tanya xiao Lei dengan wajah serius.
"Aku berasal dari negara yang kejam ini kak!!"
"Negara kejam?"Tanyanya bingung. Dan sebelum menjawab pemuda itu memandangi setiap orang untuk memastikan aman.
"Kakak, aku akan memberitahumu suatu rahasia besar, tapi kakak janji jangan beritahu siapapun, jika tidak nyawa aku dalam bahaya termasuk kakak."ucapnya kecil dan mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, agar apa yang ia katakan terdengar jelas oleh penolongnya saat itu.
"Kakak, kau adalah pahlawanku dan aku yakin kakak pasti bisa menjaga rahasia ini sampai waktunya tiba, dan aku yakin kakak bisa membantu kami."ucap pemuda itu dengan yakin.
"Rahasia?? membantu??, aku tidak mengerti apa yang kau katakan."ucap xiao Lei.
"Aku akan beritahu kakak sekarang, jadi! semua orang di...."
Sebuah pedang Panjang yang masih pada sarungnya telah memukul sebuah meja dan berhasil mengagetkan kedua pemuda yang sedang makan.
Ia belum sempat mengungkapkan sebuah rahasia besar menurutnya, tapi seseorang sudah datang dan membuat mulutnya menarik kembali ucapannya.
__ADS_1
"Rupanya kau disini kucing liar ku!!? aku mencari dirimu, dan kau sedang enak makan tanpa aku."ucapnya langsung duduk dan menyesap teh hangat di atas meja milik xiao Lei.
Xiao Lei mulanya kaget, namun melihat siapa yang datang wajahnya terlihat kesal dan juga merasa takut.
"Tuan teh itu milikku!!"ucap xiao Lei menunjuk teh yang tuannya minum.
"Kenapa kalau ini milikmu,!! semua yang kau punya juga milikku, termasuk dirimu."balasnya tajam, xiao Lei hanya menghela nafasnya takut membuat tuannya semakin marah karena ia sudah melanggar perintah tuannya.
*****
Di penginapan
Dong sudah berada di kamar, ia melihat sesuatu di dalam bungkusan milik xiao Lei, ia lalu melihatnya dan mengambilnya ternyata itu sebuah roti kering, tanpa ragu ia segera memakannya dan telah menghabisinya yang berjumlah tiga buah lalu memperbaiki kembali bungkusan itu agar tidak ketahuan.
*****
"Apa yang kau lihat??"ucap tajam liang pada pemuda di depan pengawalnya yang sejak tadi melihatnya tidak suka.
"Kakak siapa datang menganggu waktu kami."sahutnya dengan wajah tidak suka dan mengintimidasi.
"Ayo kita pergi."sahut liang sambil menarik tangan pengawal hatinya. Mau tidak mau, ia harus menurut.
"Aku pergi dulu."teriak xiao Lei yang sudah berjalan bersama tuannya dan melambaikan tangannya.
"Kakak."panggilnya tapi xiao xiao Lei sudah melewati pintu, ia hanya bisa menghela nafasnya saat ini. Karena xiao Lei sudah pergi, ia juga hendak pergi namun terlebih dahulu membayar pesanan nya.
*Di perjalanan*
Liang terus menarik tangan pengawalnya hingga sampai di dalam penginapannya dan tidak sadar kalau xiao Lei sedang kesakitan.
"Tuan!! tolong lepaskan, saya kesakitan."ujarnya hendak melepaskan genggaman keras tangan liang yang cukup besar dan melihat xiao Lei meringis ia baru melepasnya.
"Kau tahu, apa kesalahanmu?"
Xiao Lei menunduk, "Maafkan saya tuan, saya kelaparan dan harus keluar mencari makan."balasnya. Liang menodongkan jari telunjuknya ke dagu pengawal Qin dan membuat matanya saling menatap, "lihat aku,"
__ADS_1
"Tuan! aku ingin mandi, aku gerah."ucapnya dan pergi menuju ruang mandi. Baru ia sempat hendak masuk tanpa sengaja ia hampir bertubrukan dengan dong yang sudah keluar dan memakai piyama tidur, menandakan dirinya bersiap tidur karena memang sudah menjelang malam.
Di dalam Bathtub xiao Lei sudah berendam dan memanjakan tubuhnya yang sudah lelah seharian bukan karena bekerja tapi karena tubuhnya sudah dipenuhi banyak keringat akibat telah berlarian sepanjang jalan tadi, karena ulahnya sendiri. Ia sedang tampak asyik bermain-main air dan lupa waktu.
Sejam berlalu Xiao Lei belum ke luar dari tadi, sedang liang sudah merasa gerah dan hendak berendam, ia lupa kalau xiao Lei masih berada di dalam, ia langsung berjalan masuk, dan melihat bagian atas dada xiao Lei tanpa sengaja, hendak menutup matanya namun sudah terlanjur, dia ingin keluar namun melihat xiao Lei tertidur ia lalu mendekatinya dan melihat jelas wajah imutnya namun rambut masih dalam keadaan diikat.
Tiba-tiba xiao Lei terbangun dari mimpi buruk dan melihat jelas wajah pemuda yang sudah membuat jantungnya berdetak kencang berada tidak jauh dari wajahnya dan membuatnya melotot.
Melihat xiao Lei ingin berteriak dengan cepat, tangganya membekap mulut xiao Lei. (suara mulut xiao Lei yang dibekap). "Diam."ucap liang dan melepaskan tangannya. Dengan cepat xiao Lei mengatur nafasnya.
Dengan gerakan cepat pula xiao Lei menutup bagian atas dadanya yang telanjang. "Apa yang tuan lakukan."ucapnya.
"Aku ingin melihat roti sobek yang kau punya."sahutnya dan berhasil membuat xiao Lei menelan Saliva nya dan terlihat gugup.
"Tidak tahu malu."
"Punyaku kecil tuan tak sebanding dengan milik tuan."terlihat gugup namun menutupinya dengan senyum palsu.
"Tuan keluarlah dulu, aku akan selesai dan tuan bisa mandi."ucapnya lagi.
"Kau lupa tugasmu."
"Aku harus memijat kan tuan?"
"Yah betul sekali, karena kau sendiri yang mengatakannya, ayo kita lakukan dan kita mandi bersama."ujarnya hendak segera masuk.
Xiao terlihat sangat ketakutan dan mengambil alasan yang tidak jelas. "Tuan, jangan."ucapnya berusaha menghentikan tuanya, karena tidak sama sekali menghiraukan xiao Lei dan kaki yang satunya sudah masuk, xiao Lei hanya bisa menangis. Hi....hi....hi....
Melihat xiao Lei menangis, liang mengembalikan kakinya semula di tempat yang berpijak dan tidak jadi masuk. "Kau kenapa."tanyanya terlihat bingung, namun pura-pura karena hanya Ingin mengerjai pengawalnya.
"Tuan tolong, bukan aku tidak mau mandi bersama tuan, tapi aku alergi mandi bersama, jika tuan tidak percaya tuan bisa lihat tubuhku yang banyak bintik-bintik merah."ucapnya mencari alasan, tapi alasannya itu bisa membuatnya jatuh ke lubang, karena otaknya tidak bisa lagi berpikir jernih.
Jiwa pria liang hang meronta-ronta, saat pengawalnya sendiri ingin menawarkan tubuhnya untuk dilihat secara gratis, siapa yang tidak mau. Tapi liang masih berpikir jernih, ia tidak ingin melihat apa yang belum menjadi miliknya, meski hatinya sangat menginginkan wanita didepannya. Dan dia menunggu waktunya jika xiao Lei sudah menjadi miliknya, ia bisa melihat segalanya meski hal apapun yang berusaha ditutupi pengawal.
"Tidak usah! selesaikan mandi mu, aku akan menunggumu di luar."sahutnya dan segera keluar meninggalkan xiao Lei yang masih terlihat menangis palsu.
__ADS_1
Bersambung...