
Terlihat xiao Lei sedang mondar-mandir ke sana kemari, ia merasa bosan terlihat jelas dari raut wajahnya, tinggal di ruangan yang cukup besar seorang diri, apalagi bau harum makanan menggoda selera untuk segera mencicipinya, ia tidak ingin tinggal lebih lama lagi karena ia bisa saja lupa kalau makanan itu beracun, bisa kapang saja ia menyantapnya jika sudah tergiur aroma lezat makanan. "Ah...sudahlah aku akan pergi!!."niatnya sambil berjalan-jalan menikmati kota itu. Tapi sebelum pergi ia terlebih dulu mengambil bantal guling dan menyelimutinya agar liang tak mencarinya dengan begitu ia bisa puas menikmati waktunya tanpa ada gangguan.
Xiao lei terus melangkah keluar namun tak membawa pedangnya. Tapi ia tak pernah pergi tanpa selalu ditemani sebuah senjata kecil serta tajam dari bilik pakaian, ia lalu mengusapnya di pinggang. "Tetap aman disini, aku akan menggunakan mu jika waktunya." dan terus melangkah dan sudah sampai di luar penginapan. Xiao Lei benar-benar kutu buku melanggar perintah tuannya, dia tak pernah berpikir jika akan dihukum.
*****
Liang tidak bisa lagi bernegosiasi, apalagi hampir mengenai nyawa orang yang telah menempati hatinya saat ini, ia langsung ke intinya.
"Siapa yang menyuruhmu."ucapnya keras dengan sorot mata tajam dan semakin mendekatkan pedangnya. Orang itu berdiri dengan tubuh bergetar dan semakin ketakutan.
"Maafkan aku tuan, tolong lepaskan, aku hanya orang suruhan."ucapnya memohon belas kasihan.
"Cepat katakan, aku tidak akan melepaskan mu."ucapnya semakin mendekatkan pedangnya."
Tak ada pilihan untuk dirinya, mau tidak mau ia harus memberitahunya jika tidak nyawanya yang melayang. Dan dia berencana setelah memberitahukan pemuda di depannya, ia akan pergi jauh meninggalkan kota ini dan mencari tempat yang lebih aman agar terbebas dari atasannya. "Baik tu-an."ucapnya gugup. " Tolong turunkan pedang tuan dulu." dan liang menarik kembali senjatanya namun tatapan tetap fokus. "Ayo katakan, siapa yang menyuruhmu?."
"Dia, ah."baru sempat hendak mengatakan yang sebenarnya tiba-tiba ia sudah jatuh dan tidak bernafas lagi. Dong memeriksanya dan menemukan jarum di lehernya. "Jarum beracun."ujarnya.
"Sialan."geram liang.
*****
Di belahan lain xiao Lei sudah di luar berjalan-berjalan menikmati udara yang sejuk. Ia hendak makan namun tak membawa uang. "Dimana uangku."gumamnya sambil memeriksa pinggangnya yang biasa terselip uang.
Karena kesal ia tiba-tiba menendang sebuah benda namun tidak sengaja, dan benda itu mengenai kepala seseorang kumpulan pria yang tak terlalu tua yang sedang duduk berkumpul dan berbicara.
"Ah..."teriaknya sambil memegang kepalanya yang terkena. Xiao Lei yang melihatnya memutar tubuhnya kembali dan pura-pura berjalan tidak tahu. Namun xiao Lei tidak menyadari kalau dirinya sendiri yang lewat barusan sehingga mudah ditebak kalau dirinya pelakunya.
Satu orang berjalan mendekati xiao Lei, namun ia semakin mempercepat gerakan langkanya karena menyadari kalau seseorang sedang berada dibelakangnya, siapa suruh membuat ulah, bisikan muncul di kepalanya.
__ADS_1
Tiba-tiba tangan orang itu sudah berada di pundaknya dan memegang kuat. Xiao Lei berusaha melepaskan diri dengan mengerakkan tubuh, karena tidak bisa ia hanya bisa berbalik dan menghadapinya. "Tuan, kenapa anda menghentikan langkah saya?"ucapnya dengan nada rendah dan loyo untuk mengelabuhi orang itu.
Orang itu meletakkan kedua tangan di dadanya, sambil menggoyang-goyangkan sedikit kepalanya dan terlihat angkuh dan menakutkan, bukan karena
dia terlihat kuat sehingga menakutkan tapi terlalu jelek menurut pemikiran xiao Lei, 1000 kali lipat dari wajah tuan liang menurutnya. "Tidak!!! lebih para seperti kanebo kering yang tak pernah dicuci selama ratusan tahun."ucapnya sembrono.
"Maksud kamu?"tanya pemuda itu bingung.
"Astaga, mulut ini selalu saja cerewet disaat yang tidak tepat."gumamnya dalam hati sambil memegang bibir nakalnya.
"Maaf, maksudnya saya harus pergi, banyak cucian kotor yang menunggu di rumah."ucapnya tersenyum palsu.
"Oo, kamu boleh pergi!!"ucapnya, hanya karena mendengar cucian kotor ia lupa memberi pelajaran untuk xiao Lei, karena ia memang orang terkenal pelupa. Segera orang itu berbalik dengan secepat mungkin xiao Lei mengumpulkan segala kekuatan dan berlari sekencang mungkin dan langkah kakinya semakin lebar dan sudah menjauh karena memang tubuhnya ringan apalagi diiringi oleh angin semakin menjadi ringan.
3 langkah orang itu bergerak dari tempatnya tadi, ia berhenti merasa ada yang aneh, dan saat ia berbalik xiao Lei sudah menjauh. "Kurang ajar, pemuda itu mengelabuhi ku."geramnya dan terlihat marah sekali.
"Bantu aku kejar bocah sialan itu."teriaknya dan segera teman-temannya membantunya mengejar xiao Lei. He...he...he... xiao Lei dikatakan bocah padahal sudah dewasa hanya saja badannya kecil.
Dari kejauhan, "Dimana bocah itu??"ucapnya dengan nada kekurangan oksigen.
"Lebih baik, kita kembali!!kita kalah hanya dengan bocah."ucap pria 1.
"Itu semua karena yang, suka lupa, dan kita hampir mati kehabisan nafas."ucap pria 2.
*****
Liang sudah kembali ke penginapan, sedang dong tampak sibuk di tempat lain.
Liang masuk ruang penginapannya, Liang terlihat geleng-geleng kepala karena melihat pengawal hatinya yang kerjaannya selalu hanya tidur. Liang mendekati xiao Lei dengan mengusap kepalanya dan membuka selimut yang menutupi kepala xiao Lei, kemarahan Liang kembali karena pengawalnya berani menipunya dan melanggar perintahnya.
__ADS_1
Liang mengambil pedangnya lalu dengan cepat meninggalkan kamarnya.
*****
"Em...em...em..."suara mulut xiao Lei yang dibekap.
"Hah..."
"Siapa kau, kau hampir membuatku mati muda."ucap xiao Lei lagi.
"Kakak, kamu tidak mengenaliku?"tanyanya.
"Kamu penjahat."balas xiao Lei
"Kalau aku penjahat! mana mungkin aku menolongmu, kalau begitu aku bawa saja Kakak keluar."ucapnya hendak membawa xiao Lei keluar.
"Eh....tidak tidak."ucapnya tiba-tiba suara perut berbunyi, dan ia tersenyum memperlihatkan giginya.
"Ayo kita keluar cari makan."
"Aku tak memiliki uang."sahut xiao Lei.
"Tenang saja, aku punya sedikit uang." ucapnya sambil memperlihatkan koin uangnya.
Mereka berdua ke luar terlebih dahulu mengintip untuk memastikan keamanan, setelah mereka mencari tempat makan yang sedikit pengunjungnya dan memesan makanan tapi ia hanya menyuruhnya memesan beberapa cemilan dan teh hangat.
Apa yang sudah mereka pesan sudah datang dan tersaji di atas meja. Mereka menyantapnya sambil berbicara. "Kakak yakin tidak mengenaliku!!?"ucapnya lagi masih pertanyaan yang sama, xiao Lei hanya geleng-geleng tanda tidak karena mulutnya sedang penuh dengan cemilan kue khas kota itu.
"Kakak masih muda tapi pelupa."ucap pemuda yang berusia sekitar 13 tahun itu.
__ADS_1
Bersambung....