The Heroine

The Heroine
Eps. 25 Kata yang sama


__ADS_3

Xiao Lei sedang duduk bersama tuang dong di Gasebo menunggu hukuman apa yang akan diberikan yang mulia kepadanya, mengingat dirinya telah menginjakkan kaki di tempat larangan menurut tuang song, karena tuang song akan memberitahu raja kalau dirinya masuk tempat larangan, "ini semua karena tuan, coba tuan tidak jatuh dari pohon."ucapnya merasa sesal.


"Apa kau tidak lihat, aku sedang kesakitan,"sahutnya sambil memegang pinggang belakangnya yang masih terasa sakit.


"Tapi karena tuan, pasti raja akan menghukum kita berdua."


"Kau tidak punya hati, pantas saja kau dikatai seperti tulang ikan, karena makan hati."ucapnya dengan mengejek.


"Ya Tuhan, sekarang keberuntunganku sedang diuji, setiap pemuda yang menemu ku, harus selalu mengejekku, untungnya hatiku baik."ucapnya dengan mengusap dadanya.


Sedang dong memandang malas pemuda di depannya, dan mengalihkan pandangannya.


*****


Liang mencari keberadaan kedua pemuda ini tapi tak kunjung menemuinya.


Karena sudah sangat sore, xiao merasa ini suasana yang sangat bagus dan tempat yang sepi! saatnya melancarkan aksi, dia berdiri dari tempatnya dan menjauhi dong, dan mengeluarkan pedangnya dari sarungnya.


"Kenapa denganmu."tanya dong dengan terlihat bingung dengan pedang yang di keluarkan pengawal Qing, hendak dia apakan pedang itu, pikirnya.


Xiao Lei menggerakkan tubuhnya dengan gerakan cepat hingga pedang itu berada tepat di depan dong. Jantung dong seakan copot dan melotot melihat di depan matanya, pedang milik pengawal liang hampir mengenai dada nya untungnya xiao Lei menariknya kembali.


"Kau ingin membunuhku?" ucapnya terlihat marah.


"Maaf tuan, saya ingin mengajakmu bertarung."sahutnya dan tersenyum kecil.


"Kau tidak sopan, tapi baiklah ayo kita adu kekuatan, aku ingin lihat sehebat apa dirimu sehingga bisa menjadi pengawal pribadi liang."sahutnya dan beranjak dari duduknya, sedang ditangannya sudah ada sebuah pedang.


"Dengan senang hati."balasnya, karena ia memang ingin melatih kemampuannya apalagi ini waktu yang bagus dan ada lawan.


Kedua pemuda itu sudah bersiap untuk saling melawan satu sama lain, xiao Lei menggerakkan tangannya tanda memulai pertarungan.


Pertarungan berlangsung dari keduanya, cukup lama dan belum ada yang kalah, dong melihat xiao sedang kekurangan sedikit nafas ia mengambil kesempatan untuk menyerang pinggang xiao Lei dengan tangannya, tapi dengan cepat xiao Lei menghindar dan berhasil membuat tuan dong terjatuh karena kaki bagian belakangnya di sikut oleh kaki xiao Lei.

__ADS_1


Argh...teriak dong dan berhasil membuat xiao Lei tertawa.


"Jangan senang dulu, ini hanya babak awal."ujarnya lalu bangkit.


"Sekarang giliran ku, membuat tulang mu patah."ucapnya dengan percaya diri.


"Coba saja, kalau bisa."sahut xiao Lei.


Pertarungan kembali terjadi, namun sayang pedang xiao Lei terlempar karena kecurangan dong, dan berhasil membuat pengawal Qing masuk ke dalam dekapannya, lalu melempar pedangnya. "Kau akan kalah."dan tersenyum.


Bukan masalah kalau atau apanya, tapi yang ada dipikiran xiao Lei sekarang adalah dua gunung besar, jika sewaktu-waktu, dong tanpa sengaja menyentuh itu tamatlah riwayatnya. Xiao Lei dengan sekuat tenaga dan mendapatkan ide dengan menginjak keras kaki dong dan berhasil melepaskan dirinya.


Ah....


Teriak keras tuan dong, bagaimana tidak karena xiao ikut menggerakkan tulang nya, sehingga sakit yang di dapatkan dua kali lipat. Bersamaan dengan teriakan itu xiao tersenyum puas dan menutup mulutnya, agar tawa kerasnya tidak ke luar.


Tampak dong kesal, tidak terima dapat sakit kedua kalinya, lalu ia segera kembali melawan pengawal Qing. Xiao Lei akan sadar dengan cepat juga melawannya, sekarang tangan mereka saling berpegangan kuat, dan dong semakin mengerakkan kekuatan tangannya dan berhasil membuat wajahnya sedikit lebih dekat dengan wajah xiao Lei, dan xiao Lei menatap dengan aura serius, beda halnya dengan dong ia menatap dengan aneh, karena detak jantungnya semakin kencang.


Deg...deg...deg...


Xiao Lei, merasa ada yang aneh dengan tuan dong, terlihat dari wajahnya, "Kenapa denganmu."tanyanya namun belum sempat menjawabnya, suara teriakan tiba-tiba terdengar dan menghampirinya.


*****


Saat melihat pengawalnya dan dong saling melawan, dengan langkah secepat mungkin liang bergerak, sebelum sampai ia terlebih dahulu berteriak.


"Apa yang kalian lakukan."sambil melepaskan kedua tangan mereka yang saling berpegangan kuat.


"Ayo lepaskan."teriaknya karena, diantara mereka tidak ada yang ingin menyudahinya.


Karena tidak ingin membuat tuannya marah, xiao Lei menarik keras tangannya, hingga membuat jidat tuan dong terkena tangan pengawal sendiri.


Ah...teriak liang dan memegang jidat yang sakit

__ADS_1


"Tuan."ucapnya dengan mata melotot.


"Apa yang kau pikirkan, sekarang bawa aku masuk."sahutnya dan xiao Lei menarik tangan tuannya untuk masuk.


"Bukan seperti itu."sahut liang dan meletakkan tangannya di atas bahu pengawalnya, dan ia pula menarik tangan xiao Lei dan melingkarkan di pinggangnya. Hatinya merasa tersenyum.


"Aneh, kenapa perlu di papah, harusnya bisa jalan sendiri, kan bukan kaki yang sakit?"gumamnya kecil, namun terdengar oleh liang.


"Apa yang kau katakan?"


"Ah.. tidak tuan, tidak ada!"jawabnya kelabakan.


Xiao Lei memapah tuan Liang masuk ke dalam kamar tamu dan membaringkannya, lalu menyelimutinya, saat hendak beranjak ke luar, tiba-tiba liang menarik xiao Lei dan terjatuh masuk ke dalam dekapannya, xiao Lei kaget bukan main, hatinya merasa was-was, atmosfer di ruangan terasa berat, nafas yang tak teratur, mata melotot, karena penyatuan bibir yang terjadi hari ini, bukan hanya satu kali tapi sudah dua kali ia mengalami nya dan tetap pada orang yang sama.


Liang tidak berpikir sampai disini, ia hanya ingin mengerjai xiao Lei dengan mendekatkan wajahnya,


namun rencananya berbeda dari ia pikirkan, tapi ini momen yang bagus dan tak ingin melewatkan begitu saja dan terlihat ia menyesap nya sedikit.


Xiao Lei merasa sesak dan segera melepaskan diri, "tuan."ucapnya dan memegang bibirnya.


"Salah siapa, kau ingin pergi tanpa mengobati ku terlebih dahulu."sahutnya. Xiao Lei merasa geram dengan sikap tuannya, hanya karena lebam sedikit harus diobati.


"Dasar manja."kesalnya namun liang hanya tersenyum puas berhasil mengerjai pengawalnya.


Xiao Lei mencari sebuah salep di laci kecil dan menemukannya lalu mendekati tuannya. Ia mengobati dengan sedikit mengoles ke jidat tuannya. "Pelan-pelan."ucapnya dan sedikit meringis.


"Ya Tuhan, begini sikap seorang pangeran, semoga aku tak dijodohkan dengan pangeran manja seperti di depanku sekarang."gumamnya dalam hati.


"Selesai."


"Terimakasih."ucap Liang, dan xiao Lei mengangguk dan tersenyum.


Kata yang sama, saat ia pertama kali bertemu dan menolong liang, jika hari itu ia tak berlari ke arah hutan mungkin ia tidak akan pernah bertemu dengan orang-orang sialan seperti yang ia hadapi sekarang. Tapi ia tak ingin menyalahkan takdir, mungkin apa yang ia alami sekarang sebuah keberuntungan besar untuknya, dan ia juga berpikir

__ADS_1


jika hari itu ia tak berlari ke hutan mungkin sudah tertangkap dan masuk ke penjara istana tuannya. Tampak ia takut sendiri memikirkan semua itu.


Bersambung....


__ADS_2