
Sepasang lawan jenis sedang duduk di kursi sambil menikmati hidangan di depannya, suasana hening tanpa ada pembicaraan.
"Kakak, kenapa datang ke sini."sahutnya dengan menyudahi aktivitasnya begitupun xiao Lei.
"Aku mencari dirimu."sahut xiao Lei.
"Kenapa, Hem.... karena mencintaiku."ucapnya tersenyum dan menaikkan tangannya ke atas ingin menyampaikan sebuah puisi cinta. Xiao Lei melihat malas dan mengernyitkan dahi nya, entah apalagi yang akan dilakukan olehnya.
..."Oh...musim semi...."Sahutnya dengan menggerakkan tangannya....
"Tidak tahu malu."gumam Xiao Lei, namun Cheng yi tidak menghiraukannya tetap melanjutkan puisinya.
...Oh...musim semi...
...Bunga ini berada di depanku...
...Haruskah aku memetik lalu membawanya kabur...
...lalu bagaimana dengan pemetik lain...
...jika bunga yang paling indah telah aku miliki, rela-kah aku membagi dengan penikmat bunga ini,...
...Oh...tidak mungkin! aku membaginya sedang aku sudah jatuh cinta dengan bunga itu. Dia hanya milik........
^^^cipt: karangan pribadi (Karmila)^^^
Puisi belum selesai namun xiao Lei sudah menarik tangan Cheng yi yang mengembang di udara.
"Kenapa? aku belum selesai."sahutnya merasa kesal.
Xiao Lei menahan kekesalannya, "lihatlah pandangan semua orang, karena ulah dirimu."ucap pelan seperti ingin menerkam menahan amarahnya.
"Tidak baik menyimpan amarah, bisa membuat wajah Kakak keriput."ledeknya.
"Kalau tidak ingin melihatku keriput, jangan membuatku marah."teriak nya dan berhasil membuat semua orang di tempat itu tertawa.
"Ada-ada saja mereka."sahut salah satu pengunjung geleng-geleng kepala.
"Dan aku tidak mencintaimu sama sekali."ucap xiao Lei melanjutkan ucapannya.
"Memang tidak! lalu aku juga tidak mencintaimu, kamu saja yang percaya diri."
"Barusan."ucapannya dengan mengisyaratkan puisi barusan.
"Aku tahu kakak tidak mencintaiku, tapi mencintai orang lain, anggaplah puisi itu dari kekasih kakak."ucapnya dengan tersenyum.
"Aku tidak mencintai siapapun selain diriku,"balasnya.
__ADS_1
"Mana mungkin, kakak seorang pengawal pangeran, dan kakak selalu bersamanya, pastinya kakak sudah jatuh hati, lihat saja kakak terlihat tak bahagia karena berpisah, iya kan?"ucapnya menggoda.
Xiao Lei menghela nafasnya kasar, ia tidak bisa melawan mulut berbisa Ceng yi yang melebihi mulut wanita. "Tebakan mu tidak salah, namun tuan Liang tidak mengetahui kalau aku seorang wanita, tapi meski ia mengetahuinya, pasti pangeran tidak sudi, karena tuan liang suka pria sama seperti kamu."ucapnya menunjuk. Namun Cheng yi hanya tersenyum mengira dirinya pria.
"Hah...aku dan tuan liang bagai langit dan bumi."
"Kakak jangan putus asa, jika jodoh kalian pasti bisa bersama."ucapnya menyemangatinya.
"Itu tidak mungkin!"balasnya.
"Kenapa tidak mungkin, tidak ada yang tidak mungkin jika kita berusaha."Ucapnya tidak mengerti dengan maksud xiao Lei.
"Tapi sayangnya aku akan memberontak?"ujarnya membuat Cheng kaget.
"Pada Wei."ucap Cheng melotot.
"Bukan!"balasnya.
"Lalu?"
"Yang-zi, jadi itu tidak mungkin, yangzi dan Wei merupakan kawan lama, dan Jika ia mengetahui aku akan memberontak dia pasti ikut membantu dan menjadi musuhku."ucapnya nanar.
"Kakak akan memberontak pada yangzi,"ucapnya kecil dibalas anggukan xiao Lei, segera Ceng yi membayar makanan pada kasir.
"Ayo kita pergi."panggilnya dan xiao Lei segera mengikuti Ceng yi ke luar, Ceng yi terus berjalan sedang xiao Lei hanya mengikut saja ke mana ia akan di bawah.
*****
Di depan raja wu liang sedang bergerak menuju ruangan putranya, karena akhir-akhir ini tugas yang diberikan ayahnya tidak dikerjakan entah apa penyebabnya.
"Selesai."ucap Liang menaikkan kertas putih itu sejajar dengan wajahnya ia terlihat tersenyum bahagia.
Raja wu Liang sudah berada di ruangan itu dan berdiri di depan putranya. "Apa yang selesai?"
"Ayahanda, kenapa datang ke sini, ayah ingin bertemu? ayah bisa menyuruh pelayan memberitahu ku."ucapnya.
"Berikan kertas itu,"ucap ayahnya terlihat marah, mau tidak mau ia harus menunjukkan padanya
Raja wu liang melihat kertas itu, ia melihat sebuah sketsa wajah wanita, namun ia tidak memfokuskan-nya.
"Jadi kau habiskan waktumu hanya untuk membuat ini."ujarnya. "Dan kau melanggar perintahku."
"Inikah wanita yang sudah membuatmu lupa akan tugasmu?" ucapnya kembali memfokuskan matanya. Raja wu liang mengamati dengan sketsa wajah itu, tiba-tiba ia teringat wajah anak kecil yang sangat mirip, bukan hanya mirip tapi ini orang yang sama, menurutnya.
"Buat apalagi kau mencari wanita, dia sudah tidak ada."balasnya melanjutkan ucapannya.
"Maksud ayah?"
__ADS_1
"Wanita ini mirip dengan putri tuan xiao."
"Apa ayah yakin!"ucapnya tidak percaya.
"Yah, meski aku belum sempat melihatnya waktu ia dewasa tapi wajah kecilnya masih terlihat."balasnya.
"Itu tidak mungkin, hanya kebetulan mirip ayah sudah membenarkan."ujarnya merasa sedih.
"Sudahlah, tidak ada yang bisa mengubah takdir."balasnya dan segera berlalu. Sebelum ke luar dari pintu ia kembali berucap. "Ingat selesaikan tugasmu dengan baik, kalau tidak gelar mu akan di cabut."ancamnya.
Liang terus memandangi sketsa wajah tidak percaya, mungkin hanya kebetulan mirip, begitu pikirnya, dan ia selalu percaya dengan pemikirannya karena ia tidak pernah salah seperti hatinya mengatakan waktu itu xiao Lei bukan pengkhianat, dan benar hatinya membuktikan.
"Ah...mungkin ayah sengaja membodohi ku, supaya ia bisa mencarikan calon istri untukku, selagi memang aku sudah dewasa."gumamnya.
Dan segera melakukan tugas yang dibebankan padanya.
*****
Xiao Lei sudah berada di suatu tempat bersama Cheng, ia berada di sebuah rumah.
"Kenapa kau membawaku ke sini, apa yang ingin kamu lakukan?"tanyanya, dan Cheng segera menarik xiao Lei masuk ke sebuah gudang, melihat itu gudang, xiao melototi Cheng.
"Kau ingin mengurungku."tuduhnya dan xiao Lei sudah ditarik masuk dan berbalik ke arah pintu.
"Kau pengkhianat."kecamnya.
"Kakak, apa aku terlihat seperti pengkhianat."
"Diam."teriaknya.
"Ayo berbalik."perintah Cheng dan xiao Lei menurutinya dan segera berbalik. Xiao Lei terlihat bingung, karena tidak ada apapun.
"Kakak, coba lihat peti itu."sahutnya, dan xiao segera membuka sebuah peti kayu dan saat terbuka matanya melotot tidak percaya.
"Kau! akan membunuhku dengan semua senjata itu." ucapnya dengan melihat berbagai macam kumpulan senjata dan berbalik ke arah Cheng yi.
"kakak! tenang dulu jangan menuduh hanya karena melihat, kakak ini mungkin sudah tua jadi mudah marah." sahutnya mengatai xiao Lei tua.
"Beraninya mengataiku, aku belum tua, aku masih muda orang yg belum menikah itu masih muda dan kau menuduhku sudah tua."geramnya melototi keras Cheng seperti bola matanya ingin keluar.
"Terserah! tapi bagiku kakak sudah tua."
"Tak bisa dibiarkan," teriak xiao Lei dan mendekati Cheng yi.
"Mau apa aku akan berteriak kalau kakak akan memberontak."
Ah.....
__ADS_1