The Secret Of Delvi

The Secret Of Delvi
Part 1


__ADS_3

Delvi, pns muda yang cantik, bekerja sebagai guru bahasa arab di Pesantren Miftahul Khair.


Diumurnya yang 23 tahun, dirinya masih setia menjomlo kala pria berantre untuk menjadikannya pacar atau pun istri. Namun, dia menolak dengan alasan tertentu yang tidak diketahui oleh siapa pun.


Gombalan dari anak-anak pesantren selalu dia dapatkan ketika masuk mengajar mau pun berkeliling di pondok saat jam istirahat tiba. Tak sampai di situ, beberapa guru pria pun juga menggodainya dengan beberapa candaan kecil mengenai pasangan, dan mereka kerap menyangkutpautkan diri mereka dengan Delvi untuk menikah.


"Hari ini, Bu Delvi masuk di kelas mana?" Hendra, pria yang satu ini diam-diam menyukai Delvi dan dari dulu ingin mengungkapkan perasaannya, tetapi, dia malu dan tidak berani.


"Kelas 9 A, Pak."


"Kalau begitu sampai jumpa yah, Bu. Semangat mengajarnya dan harus sabar mengajari murid-murid yang selalu menggombal, he he he."


Delvi tersenyum kemudian membalas, "Bapak pun suka menggombal kok. Saya duluan yah, Pak. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikum salam."


Seperginya Delvi, Hendra tersenyum sendiri dan salah tingkah dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pria tersebut pun menggumam, "Kapan saya bisa memilikimu Bu Delvi?"


Mengajari murid yang bandel memang menguras emosi dan kesabaran, di sinilah Delvi harus mengontrol perasaannya agar perkataan yang tidak diinginkan keluar begitu saja dikarenakan sikap murid yang sudah membuatnya kesal. Dia harus menjaga image di sini, sesuai dengan perintah ibunya untuk mengajar di pesantren sembari belajar juga agar dapat menanamkan akhlak yang lebih baik.


Sebelum dirinya masuk kelas, guru yang mengajar sebelumnya belum keluar, bisa dibilang dia korupsi waktu dan Delvi tidak suka dengan hal ini, dia melihat jadwal pengajar dan terteralah nama Uztaz Tamrin yang di mana, dialah yang sekarang mengambil waktu dari jam mengajarnya.


Delvi merupakan guru baru di sini, buktinya ... dia baru seminggu mengajar. Tangan putihnya mengetuk pintu, menengokkan para murid dan Tamrin yang sedang menjelaskan beberapa pesan untuk akhir ajarannya. 


"Waalaikumsalam."


Uztaz Tamrin beranjak dari duduknya, mengucapkan maaf ketika ia menghampiri Delvi karena mengambil waktu di jam pelajarannya sedikit. Tamrin memberitahu Delvi bahwa dia berceramah sebentar dengan keterkaitan dakwah yang akan dijalankan oleh murid beberapa hari lagi ke depannya.

__ADS_1


Delvi tersenyum, memaklumi hal itu walau dalam hati dia tetap kesal karena penyampaian itu bisa disampaikan di waktu lain seperti jam istirahat. Dengan tidak enak hati, Tamrin lagi-lagi mengucapkan maaf lalu menutup kelasnya beserta mengambil peralatan pengajarnya kemudian keluar dengan ucapan salam.


Selama mengajar di pesantren, Delvi tentunya sering mengeluh karena dia pun menginap di rumah warga, karena dia tidak punya tempat tinggal. Untungnya, ada salah satu warga yang baik hati, mempersilakan Delvi untuk tinggal di rumahnya yang notabennya tak ada yang menempati. 


Delvi tidak mungkin pulang balik dari rumahnya ke pesantren yang berjarak puluhan kilo, jadi ... dia lebih memilih untuk tinggal di tempat tersebut dan pulang ketika hari kamis hingga minggu siang, karena sorenya, dia akan kembali ke pondok lagi untuk mengajar ke esokan harinya.


Selesai mengajar, Delvi menuju ruang guru dan beristirahat di sana. Di ruang guru terjadi pembicaraan kecil yang menyita perhatian dan rasa penasaran Delvi akan sosok pria yang tampan hadir di pesantren baru-baru ini. 


"Dia Uztaz, selain itu dia tampan dan juga berakhlak baik. Pokoknya, idola para wanita dan imam yang baik."


Delvi menyahut karena ke-kepoannya yang tinggi. "Kalau boleh tahu, siapa dia?"


"Eh, Bu Delvi. Masa nggak tau sih?"

__ADS_1


"Saya baru di sini, Bu."


"Itu, Bu. Uztaz Tamrin, yang terkenal ganteng tapi mencuekkan para gadis di sini. Sampai sekarang, dia belum nikah loh, padahal umurnya sudah 26 tahun."


__ADS_2