
Sebelum membaca: Adakah tip? 🤣
Bercanda, happy reading
"Ibu Delvi sudah tahu berita mengenai parakang di kampung ini?"
"Parakang, apa itu, Ustaz? Saya baru mendengarnya," jawab Delvi dengan kening yang mengkerut.
"Parakang sejenis manusia yang memiliki ilmu hitam, sosok tersebut menyerang ibu hamil, bayi, dan orang sakit. Jika kekuatannya sudah berada pada tingkat yang paling tinggi, bahkan orang sehat pun bisa meninggal dibuatnya," jawab Ustaz Tamrin.
"Ustaz, jangan mengada-ngada, saya merinding dan ketakutan jadinya. Apalagi, saya sendirian di rumah, dan juga ... bagaimana jika saya pulang ke rumah malam-malam? Di hari sebelumnya, mungkin rasa takut masih bisa saya tahan, tapi, kali ini tidak," balas Delvi.
Tamrin tersenyum. "Saya bisa menemani Ustazah jika ingin pulang."
Delvi menunduk malu, dia tidak menyangka jika Tamrin mengatakan hal ini, padahal sebelumnya, dia tak ada niatan untuk itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Ustaz."
"Sama-sama."
Mereka pun sampai di pesantren, tepatnya di ruang guru dan semuanya membahas soal parakang tersebut. Delvi yang tidak tahu akan parakang, membuatnya menyahut di antara mereka, "Parakang itu, laki-laki atau perempuan?"
"Parakang bisa jadi laki-laki, bisa juga perempuan," Tamrin menjawabnya langsung.
"Hm, mengapa manusia itu bisa menjadi parakang?"
"Akibat salah ilmu, juga ada ilmu yang diberikan oleh orang tetapi dia tidak bisa menyelesaikannya."
Hendra, laki-laki itu memutar bola matanya, menatap kesal Tamrin yang selalu mencari perhatian ke Delvi, padahal pikiran Hendra terhadap Tamrin sangatlah salah, hanya saja ... pikiran laki-laki tersebut ditutupi oleh rasa cemburunya.
"Ustazah Delvi tidak perlu khawatir akan hal ini, saya akan melindungi Ustazah dan siap menjadi tameng." Hendra tertawa, ucapannya terdengar canda tapi yang sebenarnya adalah, canda di balik keseriusan.
__ADS_1
Delvi tersenyum kemudian tertawa kecil menanggapi ujaran Hendra. "Ustaz Hendra bisa saja, memangnya siap menghadapi parakang jika sosok itu ada di depan kita nantinya?"
"Aduh, saya mah siap, Ustazah Delvi. Dan juga, ucapan Delvi dari kata kita seolah-olah mengatakan bahwa kita sudah bersuami-istri," jawab Hendra, memancing gelak tawa para guru yang ada di sana, terutama Hamzah yang sontak tertawa dan menangis.
"Astaga, Ustaz Hendra ... Ustaz Hendra, ada-ada saja gombalannya."
"Takkan ada gombalan yang terucap dari bibir saya, jika Ustazah Delvi tidak memancing, he he he."
Delvi mengerjap, sejak kapan dia memancing Hendra untuk mengeluarkan gombalannya. "Eh, saya tidak memancing loh, Ustaz Hendra. Ustaz sendiri yang menanggapinya seperti itu." Semuanya terkikik geli, dan Hendra pun cengengesan dibuatnya, serta Tamrin yang geleng-geleng melihat hal itu.
Sepulang dari pesantren, Tamrin mengajak Delvi untuk menjenguk ibu yang telah diculik anaknya, Delvi sangat kasihan kepada wanita tersebut, tentu dirinya tak dapat membayangkan jika buah hatinya direnggut oleh sosok yang mengerikan.
Sampainya di sana, Tamrin mengetuk pintu sembari mengucapkan salam. Tamrin terus mengetuk hingga ketukan yang ketiga kalinya tetap tak ada balasan dari yang punya rumah.
"Sebaiknya kita pulang Ustaz Tamrin, sudah tiga kali Ustaz mengetuknya dan tak ada jawaban dari dalam, kemungkinan, ibu itu tidak ada yah di rumahnya," ujar Delvi dan Tamrin memungkinkan juga hal ini.
__ADS_1
"Baiklah, kita pulang Ustazah."
^^^BERSAMBUNG^^^