The Secret Of Delvi

The Secret Of Delvi
Part 25


__ADS_3

Klakson mobil terdengar menghentikan tawa mereka dan berhenti di depan rumah Delvi. Delvi tersenyum, dia tahu siapa yang berada dalam mobil tersebut, sesuai dugannya, sang ibulah yang keluar dengan lambaian tangannya.


"Ibu," ucap Delvi, kemudian menuju ibunya. Namun sebelum itu, dia tidak lupa pamit ke Tamrin dan juga ibu-ibu lainnya dengan ucapan salam.


"Wah, ternyata Ustazah Delvi orang kaya yah, Bu. Kok bisa sih mengajar di pesantren?" sahut salah satu dari ibu-ibu, membuat Tamrin geleng-geleng.


"Astagfirullah, tidak baik bergosip, Bu. Menjadi seorang guru, baik di pesanten maupun tempat lainnya tidak memandang mau kita kaya ataupun sederhana, yang jelasnya halal, daripada pekerjaan yang gajinga besar tapi haram? Naudzubillah, itu dosa besar, Bu," tegur Tamrin yang membuat mereka langsung sadar.


"Maaf, Pak Ustaz."


"Lain kali jangan begitu yah, Bu. Nah, saya pamit dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalan."


Delvi tak menyangka jika sang ibu akan datang tanpa memberinya kabar, tentu ia senang bukan main. Saat mereka masuk di rumah, Delvi membuatkan minuman dingin untuk ibunya karena cuaca pun terasa gerah di siang hari.


"Astaga, Nak. Rumahmu kok gini, sih? Kenapa gak cari yang nyaman dan lebih besar?" tanya Suratih, ketika Delvi telah membawakannya minuman.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Bu. Lagipula, Delvi nyaman kok di sini, walau keadaannya gak mewah dan malah sederhana, ini udah cukup, juga dekat dari pesantren," jawabnya.


"Terserah kamu aja deh, Nak. Ngomong-ngomong, coba tunjukin dong, mana pria yang kamu sukai?" Suratih begitu penasaran seperti apa sosok Tamrin itu.


"Rahasia, Bu. Pokoknya, Ibu baru tau kalau dia ingin melamar Delvi, biar ada kejutan," jawab Delvi, membuat Suratih mendengus sebal, anaknya kurang asyik kalau begini, padahal dia sungguh penasaran dengan paras yang berhasil memikat hati anaknya.


"Ibu kok gak bilang-bilang sih kalau mau dateng?"


"Emangnya harus bilang yah, Nak? Kan Ibu mau ngasih kejutan."


"Dan kejutannya berhasil." Mereka tertawa bersama, hingga ketukan pintu menghentikan gelak tawa itu. Tamu yang berkunjung adalah Hendra, pria itu mengedutkan dahi dengan wanita yang baru dilihatnya di kampung ini.


"Waalaikumsalam."


"Waalaikumsalam, Pak Hendra," balas Delvi.


Suratih memerhatikan Hendra dari ujung rambut hingga ujung kaki, penilaian wanita itu begitu tinggi terhadap pria yang akan mendekati putrinya.

__ADS_1


"Dia siapa kamu, Delvi?" tanya Suratih.


"Teman ngajar Delvi, Bu." Kemudian, Delvi menatap Hendra dengan senyumannya, "Pak, ini Ibu saya."


"Hendra, Bu."


"Ibu Suratih."


Suratih tersenyum memandang penampilan Hendra dan juga wajah tampan dari pria itu, Suratih pun menebak bahwa mungkinkah dia adalah pria yang disukai oleh Delvi? Jika iya, Suratih pun setuju jika selera anaknya seperti ini.


"Ibu Delvi, maaf atas kedatangan saya yang kemungkinan mengganggu. Hanya saja, saya ingin meminjam soal-soal yang telah Ibu buat sebagian, boleh?"


Delvi belum menjawab. Namun sambaran dari ibunya membuatnya berhenti ketika lisan hampir berucap. "Gak mengganggu kok, Nak. Delvi, pinjamin soal-soal kamu."


Delvi mengernyit, ada apa dengan ibunya yang tiba-tiba berubah seperti ini, apalagi di hadapan Hendra, hatinya semakin risau dan tidak nyaman saja di depan pria itu.


"Tunggu sebentar yah, Pak."

__ADS_1


Seperginya Delvi, Suratih langsung bertanya, "Nak Hendra, kamu pacarnya Delvi, yah?"


Hendra tersenyum, lalu menggeleng sebagai jawaban. Tentu Suratih kecewa dengan helaan napas yang terdengar. "Sayang sekali, saya kira kamu pacarnya anak saya, soalnya cocok sekali," ujar Suratih membuat Hendra merasa senang dalam batinnya. Ini merupakan kesempatan untuknya agar dapat memiliki Delvi.


__ADS_2