The Secret Of Delvi

The Secret Of Delvi
Part 2


__ADS_3

"Oh, Uztaz Tamrin yah, tadi saya ketemu dia karena ngambil waktu lebih saat jam mengajarnya udah habis, dan tepat di saat itu saya yang mengajar selanjutnya. Kami sempat berbincang sedikit," balas Delvi, memancing rasa keirian dalam diri mereka karena berbicara dengan Tamrin sangatlah langka.


"Aduh, beruntung banget sih Bu Delvi. Uztaz Tamrin itu mau diajak bicara kalau yang penting-penting saja, Bu. Hm, mungkin juga mau sih, cuman sama Bu Delvi saja kali yah, soalnya ... Bu Delvi kan cantik banget."


Delvi tersenyum, dia memang cantik dan sudah banyak antrean dari para lelaki yang ingin melamarnya, entah itu polisi, pejabat, pengusaha, dan lain-lain. Namun, semuanya ditolak dengan alasan yang ditutupi olehnya seorang dan juga keluarga.


"Wajar Bu saya cantik, kan cewek. Namanya perempuan itu sudah pasti cantik, kalau ganteng mah dipertanyakan," balas Delvi, merendah untuk meroket.


"Kita juga tau Bu persoalan itu, memang wanita itu cantik, tapi dari segi kejujuran kecantikan wanita itu berbeda-beda. Ada tingkat bawah, menengah, dan atas. Yang atas, di situlah kecantikan Bu Delvi termasuk."


Delvi baru tahu jika kecantikan ada tingkatannya, seperti level permainan saja. Ngomong-ngomong soal Uztaz Tamrin, dia memang tampan dan memikat hati. Namun, Delvi merasa biasa saja akan hal itu, walau di hatinya terpercik sebuah keinginan untuk memiliki Uztaz Tamrin, yah ... sulit dijelaskan, apa tujuan Delvi dalam menyikapi ketertarikannya.

__ADS_1


"Aduh, Bu. Cantik aja ada levelnya yah?" Delvi tertawa dan guru lainnya pun juga, ada-ada saja mereka ini. Tak lama kemudian, hadirlah Uztaz Tamrin menghentikan pembicaraan mereka karena pria tersebut mengucapkan salam lalu duduk di tempatnya.


Uztaz Tamrin pun baru di Pesantren Miftahul Khair, dia lebih cepat seminggu daripada Delvi, tepat dua minggu dia ada di sini mengajar.


Delvi melayangkan senyuman ketika dirinya bertatapan dengan Uztaz Tamrin, uztaz pun membalas tapi tak lebih dari tiga detik, dan dia pun memalingkan pandangannya setelah itu, takutnya zina pandangan.


Ibu Hamzah, yang mengajak Delvi berbincang tadi, kini mendekat ke Delvi kemudian berbisik bila: sungguh beruntungnya dirimu dapat bercengkrama melalui senyuman, karena itu hal yang langka terjadi di pesantren (kepada Uztaz Tamrin).


"Cuman beberapa detik saja, Bu. Lagipula, masa saya mau berwajah datar dan tidak bersahabat ke Uztaz Tamrin? Kan kesangnya sombong, he he he."


Tak lama, kembali ada pesan yang terkirim dari ibunya: Ingat tujuan kamu mengajar di sana, kamu harus cari dan capai hal itu, jangan sampai gagal atau tidak menemukannya, karena itu akan sangat merugikanmu.

__ADS_1


Tentu, Bu. Delvi selalu mencarinya, yang jelasnya, berakhlak baik kan, Bu?


^^^Kalau ada, kamu jangan lolosin dia yah, Nak. Tapi ingat, ada syaratnya dan itu harus terpenuhi dan sesuai tingkat ketinggiannya.^^^


Ibu tenang saja.


Delvi harus mencapai hal itu, sesuai tujuan utamanya mengajar di sini.


......°•°•°......


...Bagaimana dengan part 2? Apakah menyenangkan? Jika iya, silakan klik tombol like serta komentar. ...

__ADS_1


Terima kasih, see you next part.


Share ke teman teman kalian juga.


__ADS_2