The Secret Of Delvi

The Secret Of Delvi
Part 8


__ADS_3

"Subhanallah, saya pun setiap malam pasti mengecek kamar asrama terlebih dahulu, kemarin-kemarin ada yang jahil, jadinya ... saya hukum untuk olahraga malam sebentar, Ustaz, ha ha ha."


"Bagus, itu Pak. Biar ada mereka jera," balas Harun.


"Kami pulang dulu yah, Pak. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, ha-"


"Tolong!" Teriakan itu memotong ucapan Pak Anton, dan refleks mereka menengok ke sumber suara, para warga yang lainnya pun berlarian menuju arah teriakan, sehingga Harun, Hamzah, dan Anton juga menyusul mereka.


"Anak saya, anak saya menghilang, Pak, Bu."


"Kenapa bisa hilang, Bu?" tanya salah satu warga.


"Saya gak tahu, Pak. Saya kan ke kamar mandi, sudah itu, bayi saya gak ada! Tolong bantu cari, Pak, Bu. Saya mohon." Ibu tersebut menangis, bayinya baru empat bulan dan suaminya pun tidak ada karena sedang merantau.


"Astagfirullah, Pak, Bu. Ayo kita cari," ucap Hamzah, dan semuanya pun mencari keberadaan bayi tersebut dan mengelilingi perkampungan Munawarah, hingga mereka masuk ke hutan dan mencarinya di sana.


Pencarian terus berlanjut hingga ke hutan yang paling dalam, para warga tak henti-hentinya mencari walaupun subuh telah tiba.


"Ke mana bayi itu?" tanya Hamzah yang sudah kelelahan di samping suaminya, warga lainnya pun menanyakan hal yang sama, hingga mereka pulang dengan kabar yang kosong.

__ADS_1


"Hiks, bayi saya. Nak, kamu di mana, Nak?" tanya Ibu yang kehilangan anaknya, para warga bersedih dan juga ada yang mengumpati penculik anak tersebut.


"Setelah anak ibu diculik, pintu kamarnya terbuka gak?"


"Pintu kamar saya tertutup Pak, cuman satu jendela saja yang terbuka, itu pun jendela kamar saya kecil."


Salah satu warga pergi melihat jendela ibu tersebut dan benar, jendelanya kecil dan tidak mungkin seorang manusia dewasa masuk dalamnya. Jika bukan manusia dewasa, apakah seorang remaja? Yang berkeliaran di malam hari seperti ini? Itu tidak mungkin, tapi siapa?


"Kita harus menanyakan hal ini ke Ustaz Tamrin," sahut Hamzah.


"Kenapa Ustaz Tamrin, Umi?"


"Aduh, Abi. Ustaz Tamrin kan orang pintar, kita bisa bertanya ke dia," jawab Hamzah. Para warga lainnya pun setuju dan menuju rumah Tamrin sekarang, diikuti sang ibu yang sedang menangis dan ditenangkan oleh warga lainnya.


"Assalamualaikum, Ustaz Tamrin."


Tamrin beranjak dari sajadah kemudian melipatnya terlebih dahulu kemudian keluar dan menuju pintu.


"Waalaikumsalam."


Tamrin menatap para warga, termasuk Anton, Hamzah, dan Harun yang berada di depannya.

__ADS_1


"Ada apa yah, ramai-ramai di sini?"


Sebelum Harun menyahut, seseorang meminta tolong dengan nada yang terisak, "Tolong saya, Ustaz. Anak saya diculik seseorang, hiks."


"Diculik seseorang? Kenapa bisa terculik, Bu? Ibu sedang tidak terjaga?"


Hamzah mengambil alih pembicaraan tersebut. "Ustaz, penculikannya terasa aneh, jika manusia yang menyuliknya, bagaimana bisa seseorang masuk melalui jendela yang kecil? Itu pun hanya jendela sebelah," tanyanya.


Tamrin kini mengerti, dirinya merasa ada yang janggal dengan pertanyaan Ustazah Hamzah.


"Tolong bawa saya ke rumah Ibu."


Mereka pun menuju rumah ibu tersebut, sampainya di sana, Tamrin masuk dalam rumah dan memejamkan matanya yang tidak dimengerti oleh warga.


Ketika pejaman matanya terbuka, Tamrin mengepalkan tangannya.


"Anak Ibu sudah meninggal."


Napas si ibu tersebut tercekat, bagaimana bisa anaknya meninggal sementara kabarnya tidak diketahui sama sekali?


BERSAMBUNG.

__ADS_1


...🍏 🍏 🍏 🍏 🍏...


Kira-kira, siapa yang menyulik bayinya hingga membuatnya meninggal?


__ADS_2