
lemas untuk berjalan, Tamrin memilih untuk meninggalkannya sebentar lalu memanggil salah satu tetangga wanita untuk menemaninya, karena jika dia yang menemani Delvi seorang diri di sana, maka kemungkinan besar dapat menimbulkan fitnah dari orang-orang sekitar yang baik secara sengaja maupun tidak sengaja melihatnya.
"Assalamualaikum," salamnya sembari mengetuk pintu sebanyak tiga kali berturut-turut lalu menunggu sejenak. Ketika sang pemilik rumah membukakan pintunya, segera Tamrin melontarkan permintaannya, "Bu, boleh tolong saya sebentar untuk menemani Bu Delvi di rumahnya? Dia sedang tidak enak badan, jika saya yang menemaninya, timbulnya fitnah kemungkinan besar terjadi. Saya yakin, Ibu tahu apa maksud dari perkataan saya."
"Saya mengerti Ustaz, kalau begitu mari kita ke sana."
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama, Pak."
__ADS_1
Di rumah Delvi, Delvi tampak pulas di kursi panjang yang telah dibaringkan oleh Tamrin sebelumnya. Namun, ia terlelap dalam keadaan panas nan menggigil, sampai-sampai Ibu Jumaidin khawatir melihatnya.
"Kok bisa sih Ibu Delvi sampai begini, apa yang terjadi, Pak?" tanyanya. Tamrin menghela napas kemudian menyeritakan kejadian tempo lalu mengenai penjualan jamu dari makhluk berilmu hitam itu, Ibu Jumaidin membulatkan mata terkejut dan takut dibuatnya membuat Tamrin menenangkannya pula dan menyarankannya untuk tidak panik karena mengingat kondisi Delvi yang tidak baik saat ini, takutnya ... suara mereka mengganggu ketenangannya.
"Semoga Bu Delvi cepat sembuh yah, Pak. Kasian dia yang merasa dingin padahal tubuhnya sangat panas." Bu Jumaidin menyentuh kaki Delvi yang juga terasa panas, bisa dibilang sekujur tubuh wanita tersebut sedang tidak baik-baik saja. Tamrin berpikir, seperti inikah efeknya? Dan kenapa berlaku sekarang? Sebenarnya ... ini juga murni dari bentuk kecerobohan Delvi yang tidak meminum air rukiyahannya.
"Insya Allah, Ibu Delvi akan baik-baik saja. Kita doakan agar dia diberi kesembuhan oleh Yang Maha Kuasa."
Malam yang semakin larut tak menandakan jika tubuh Delvi membaik, Ibu Jumaidin pamit sebentar untuk memanggil warga lainnya agar membantunya mengangkat Delvi untuk membawanya ke ranjang.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Dari rumah ke rumah, Ibu Jumaidin menyampaikan permintaan tolongnya juga salam sebelum dia melontarkan kalimat itu. Para ibu-ibu pun segera datang bersamanya di rumah Delvi dan membawa wanita tersebut ke kasurnya.
Kampung munawarah kembali histeris akan penjelasan dari Tamrin, semuanya menjadi khawatir akan kondisi Delvi yang semakin memburuk akan demamnya.
Delvi tiba-tiba meracau sendiri, "Eurghm ... kampung ini tidak akan tenang dengan kehadiranku karena target yang ingin dicapai oleh wanita ini belum tersampaikan. Suratih, Suratih, mana janjimu?!" Suaranya serak mendalam, kepanikan ibu-ibu terlontarkan begitu saja dengan teriakan mereka setelah melihat Delvi yang sedang membuka matanya dengan pandangan yang menajam ke arah mereka. Tak sampai di situ, Delvi menyeringai lalu menunjuk mereka satu per satu kemudian tertawa keras, "Ha ha ha, mana? Mana? Dan mana? Aku akan me-" Kalimatnya tertahan seiring mata Delvi yang perlahan memejam. Tamrin tidak tahu harus bagaimana lagi, Delvi kerasukan oleh sebuah makhluk yang dia sendiri tidak ketahui, apalagi mendengar target yang akan dicapai, juga menyebutkan nama seorang wanita-Suratih-berulangkali, dalam batinnya bertanya, "Siapa Suratih?"
°•○●□•°
Hayo ... siapa tuh Suratih? Jawabannya ada di next part.
__ADS_1
Jangan lupa share ke teman-teman kalian, serta like part ini, thanks for reading.