
"Terima kasih telah menerima saya, Bu. Sebelumnya nggak tau mau ngomong seperti apa karena bingung mau ngutarainnya bagaimana, jujur ... saya sangat gugup sekarang ini, hanya saja, keyakinan diri saya lebih kuat dan dapat menekan keraguan ini," ungkap Tamrin, membuat Delvi tidak menyangka atas apa yang dia rasakan karena Delvi pun juga merasakan hal yang sama.
"Seperti yang Mas Tamrin tadi katakan, saya pun mengalami hal yang sama. Ingin mengungkapkan tapi rasa takut dan malu lebih besar dari tingkat kepercayaan diri saya," balas Delvi, perlahan pikiran yang selalu mengganggunya ketika bertemu dengan Tamrin, kini terembus lega.
Percakapan berhenti untuk sementara waktu dikarenakan Delvi pamit sebentar, tentunya dia sedang membuat air hangat untuk Tamrin. Setelah membawakannya teh hangat, percakapan pun kembali berlanjut dengan pertanyaan Tamrin, "Dek Delvi, saya akan melamar kamu dalam waktu yang dekat. Mengingat adanya tradisi tentang pemberian harta benda dari calon mempelai pria kepada mempelai wanita. Sebelum saya melamar di hadapan orang tua kamu, mungkin ada kesepatakan terlebih dahulu mengenai hal tersebut, bolehkah?"
Dari ibu berubah ke dek, Delvi tersenyum merona mendengar panggilan tersebut. "Mengenai hal itu, semampu Mas Tamrin saja." Semuanya karena cinta yang telah menyatu dalam diri mereka, tentunya juga berasal dari Sang Pencipta (kuasanya).
__ADS_1
Tamrin tersenyum tipis, ia telah mengantongi 50 juta, semoga saja ini menjadi berkah dan dapat diterima oleh orang tua Delvi.
"Insya Allah, minggu depan saya akan melamar Dek Delvi. Kalau boleh tahu, tempat tinggalnya di mana?"
Yang ditanyakan Tamrin adalah, rumah Delvi yang sebenarnya, bersama ibunya-Suratih-.
"Mas Tamrin gak perlu repot-repot, saya akan hubungi Ibu biar datang ke sini. Insya Allah, minggu depan yah Mas," balas Delvi. Kemudian memersilakan Tamrin untuk meminum tehnya setelah memberi jawaban berupa anggukan.
__ADS_1
"Doakan Tamrin yah, Bu. Agar semuanya dilancarkan oleh Allah Swt, aamiin."
Telepon pun ditutup oleh ibunya setelah percakapan mereka berakhir. Masih dalam perasaan bahagia, Tamrin masih berpikiran bahwa jangan memberitahukan hal ini ke siapa pun terlebih dahulu dan biarlah menjadi kejutan.
Sementara di sisi lain, Delvi juga sama dengan Tamrin. Dia langsung menghubungi ibunya dan berbicara panjang lebar mengenai acara lamaran yang akan dilakukan oleh Tamrin, tapi ... Delvi belum memberitahukan siapa pria yang akan melamarnya dengan alasan rahasia. Di seberang sana, Suratih benar-benar gemas, tapi juga bahagia karena anaknya sebentar lagi akan dilamar dan pada akhirnya ... segala beban pikiran yang menumpuk akan usai serta membuatnya tenang di hari selanjutnya.
"Alhamdulillah, pokoknya Ibu harus datang di hari minggu, okey? Karena besoknya si pria itu akan melamar Delvi, Insya Allah."
__ADS_1
°•○●•°
Udah enggak sabar buat next up nih? Okey, wait ... see you next part.