The Secret Of Delvi

The Secret Of Delvi
Part 4


__ADS_3

..."Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanandan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat inkar kepada tuhannya” (QS. Al-Isra’, Ayat 26-27)....


"Maaf, Mas. Ilmu agama saya memang kurang, mohon bimbing dan ingatkan saya mengenai hal ini, astagfirullah. Saya tidak akan mengulanginya lagi, Pak. Itu terjadi karena sebuah kewajiban saya jadikan sebagai hobi," balas Delvi.


"Lain kali jangan yah, Bu. Bahkan sebutir nasi pun diperhitungkan dikarenakan hasil dari proses yang amat panjang; ditanam, dibajak, diairi, dicangkul hingga dipanen. Ibu harus berhati-hati akan hal ini."


"Terima kasih, Mas. Kalau begitu saya pamit dulu, assalamualaikum."


"Sama-sama, Bu. Waalaikumsalam."


Kembalinya di rumah, Delvi semakin tertarik dan menyukai Uztaz Tamrin, dialah orang yang dia cari selama ini. Karena hal itu, dia harus memiliki pria itu dan membuatnya jatuh cinta.


Hari kedua di pesantren, Ibu Hamzah menyapanya lalu mengajaknya berbincang mengenai Uztaz Tamrin. Delvi tersenyum dan memberitahukan bahwa dia bersebelahan rumah dengan pria tersebut.

__ADS_1


"Wah, Bu Delvi memang beruntung toh, kemarin berbincang di pesantren, sekarang bersebelahan rumah, lalu apa lagi nanti, Bu?"


"Kemarin di rumah, saya bawain makanan yang lebih, Bu. Daripada mubazir lebih baik saya bagikan. Di rumah Uztaz Tamrin, kami berbincang banyak hal mengenai kesalahan yang sering saya lakukan: menghambur-hamburkan makanan," jawab Delvi.


"Astaga Bu Delvi, daripada dibuang makanannya, lebih baik dibawa ke rumah saya. Alhamdulilah, itu adalah rejeki, Bu. Yang dikatakan Uztaz Tamrin memang benar, dan saya yakin Ibu Delvi pasti klepek-klepek sama dia, kan?" tanya Bu Hamzah, dengan nada yang menggoda dan jahil di akhir kalimatnya.


Delvi tersenyum malu-malu saat menganggukkan wajahnya.


"Saya yakin, Ibu bisa dapetin Uztaz Tamrin deh, apalagi sifat Ibu yang ramah dan lemah lembut, juga jago masak. Aduh, itu mah nilai tambahan dalam pandangan seorang pria untuk memilih seorang pasangan," lanjut Hamzah.


"Beneran Bu?" tanya Delvi penuh harap.


"Beneran, kalau kamu bisa dapetin hatinya Uztaz Tamrin, nanti saya kasih hadiah spesial deh pas kalian menikah nantinya," jawab Hamzah, tertawalah Delvi tapi masih dalam golongan kecil.

__ADS_1


"Ekhem, pagi-pagi sudah bergosip ria, siapa atuh yang digosipin ibu-ibu?" Hendra datang mengganggu percakapan mereka dan juga menghentikannya karena berhasil menangkap basah Ibu Hamzah yang kini salah tingkah. Hendra tahu apa yang mereka bicarakan dan dirinya sedikit cemburu mengetahui Delvi yang menyukai Tamrin dan membawakannya makanan kemarin.


"Pak Hendra, kami bergosip baik, kok. Gak macam-macam, hanya merupakan gosip romansa dari Uztaz Tamrin," jawab Hamzah.


"Iyah, Bu. Tapi, lain kali harus berhati-hati, jangan sampai nggak sadar kalau orangnya sebentar lagi datang," balas Hendra, menunjuk arah jendela dan mereka pun menengok lalu melihat Uztaz Tamrin yang menuju sini.


"Makasih banyak Pak Hendra, udah ngingetin. Lain kali, kita harus hati-hati yah Bu Delvi," tatap Hamzah ke Delvi, Delvi pun tersenyum di tengah ketidaksadaran dirinya ketika Hendra memerhatikan senyumannya itu.


Indah sekali, jangan sampai senyumanmu hanya untuk Uztaz Tamrin, Delvi. Karena saya menyukaimu dan selalu menunggu, kapan kamu melirik saya.


...•°•°•°•...


Jika terdapat kesalahan mohon dikoreksi.

__ADS_1


__ADS_2