The Secret Of Delvi

The Secret Of Delvi
Part 30


__ADS_3

Semuanya mengangguk. "Tentu, Ustaz. Saya selalu meminumnya setiap hari hingga benar-benar habis," sahut Haura mencari perhatian ke Tamrin. Namun lagi-lagi, Tamrin mengangguk sambil tersenyum saja. Di sisi lain, ada Hamzah yang selalu memerhatikan suasana di tempat ini, dia tersenyum tipis melihat aksi Haura yang gagal mendapatkan harapan dari pria yang menyukai Delvi. Hamzah tahu jika Haura menyukai Tamrin secara terang-terangan, tetapi ... dia tidak tahu bahwa Tamrin tidak suka dengan wanita yang selalu mencari perhatian--kemungkinan, Haura tidak memikirkan jika Tamrin sudah tahu jika dia menyukainya--, Hamzah hanya dapat berprihatin.


"Bagaimana keadaan Ibu Delvi, sudah baikan?"


"Alhamdulilah, sudah baikan, Mas Tamrin."


Sontak, keduanya menarik perhatian orang-orang, terutama Haura dan Hendra yang sama-sama cemburu mendengar itu. Panggilan ibu untuk Delvi dan mas untuk Tamrin, sejak kapan mereka saling menyapa dengan panggilan itu? Hamzah yang memerhatikan dalam diam, langsung tertawa untuk memecah suasana hening tersebut.

__ADS_1


"Aduh, ada yang lagi romantis-romantis di sini. Kalian berdua ini sudah saling menyukai, tetapi ... sama-sama malu untuk mengungkapkan," sahut Hamzah membuat keduanya terkejut, terutama pipi Delvi yang bersemu merah. Begitupula dengan Tamrin yang kini mengalihkan perhatian karena salah tingkah.


"Sudahlah, maafkan saya yang hanya bercanda tadi," ucap Hamzah dan semuanya kembali normal. Walau pada dasarnya, ucapan Hamzah perihal mereka yang saling menyukai, merupakan langkah yang ia sengaja untuk membuat keduanya saling menyadari dan berani untuk memulai, terutama ke Tamrin karena dia seorang laki-laki yang pandai mengungkapkan, sementara Delvi malu-malu kucing dan hanya bisa memendam perasaannya.


Kekesalan pada Haura dan Hendra begitu terang-terangan ditunjukkan oleh mereka berdua ketika keduanya kompak pergi dari tempat tersebut, keduanya pun sama-sama tidak suka kepada Hamzah yang mengutarakan hal tersebut.


"Apaansih Ibu Hamzah, bikin hancur suasana hati saya saja. Udah jelas-jelas dia tahu kalau saya suka sama Ustaz Tamrin, tapi? Dia terang-terangan pula membongkar perasaan mereka di hadapan masing-masing, sungguh ... saya tidak suka dengan ustazah cerewet itu," ujar Haura dalam gumamannya kala ia pergi dari asrama.

__ADS_1


Senyum khas dari orang-orang yang iri, nampak jelas di sudut bibir Hendra yang sedang menyeringai, "Saya tidak akan membiarkan Tamrin mendapatkan Delvi, karena saya telah menarik hati Ibu Suratih dan sudah mendapat restu darinya, bagaimana dengan pria itu? Walau mereka saling mencintai tetapi tidak mendapatkan restu dari orang tua, maka ... sama saja dengan perjuangan yang sia-sia. Tamrin ... Tamrin, sungguh naasnya percintaanmu yang akan saya renggut secara paksa," ujarnya yang akan melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka dengan apa pun caranya akan ia lakukan.


Mengajar malam dengan cepat selesai karena melihat kondisi yang tidak memungkinkan membuat para guru memutuskan untuk mengakhirinya dan pulang. Delvi sendiri tidak jadi bersama Haura karena wanita itu sudah pergi terlebih dahulu dan meninggalkannya secara sengaja--menurut Delvi--Tamrin dengan senang hatinya menemani Delvi, juga berwaspada agar wanitanya tidak pingsan di tengah jalan. Yah ... mengenai wanitanya, Tamrin sungguh konyol untuk mengakui hal itu, karena dia benar-benar refleks dan hampir saja mengutarakannya di hadapan para guru. Namun, dia beruntung ketika lisannya masih dapat ditahan.


...🍏🍏🍏...


Ibu Hamzah ... Ibu Hamzah, tidak mungkin dia mendukung hubungan seseorang jika salah satunya hanya mencintai di sebelah pihak. Karena apa? Pada ujungnya akan menimbulkan sakit pada keduanya dan akan berakhir dengan perpisahan yang begitu merugikan, baik pada keturunan mereka kelaknya--jika ada--.

__ADS_1


Chapter 29 BERSAMBUNG. See you next part, jangan lupa like dan berkomentar.


Semoga kalian suka part ini.


__ADS_2