The Secret Of Delvi

The Secret Of Delvi
Part 32


__ADS_3

"Ibu-ibu, semuanya tenang. Kita nggak tahu apa yang terjadi sama Bu Delvi, tolong dengan amat mohon ketika Ibu Delvi sadar, jangan memberitahukan hal ini kepadanya, sekalipun secuil keadaan yang telah ia alami, karena apa? Dia kerasukan dan semuanya pun tahu bahwa dia dalam kondisi tidak sadarkan diri," peringat Tamrin, sekaligus menenangkan situasi.


"Ya Allah. Kasihannya Bu Delvi, ini semua gara-gara jamu dari makhluk jadi-jadian, kenapa sih makhluk itu harus ada di kampung ini?!" Salah satu ibu-ibu menyahut dengan nada yang kesal, membuat barang-barang di kamar Delvi terjatuh tiba-tiba.


"Apa itu?"


"Semuanya tenang, jangan panik dan tetap memohon perlindungan kepada Allah serta jangan lupa terus berdoa," ujar Tamrin.


"Baik Pak Ustaz."


Tamrin menatap ibu yang berbicara tadi mengenai kekesalannya secara spontan. "Bu, camkan hal ini, jangan pernah berucap sembarangan apalagi bersifat menyinggung, ingat ... bukan hanya kita yang ada di sini," ucapnya memperingatkan bahwa Delvi yang sedang dirasuki barusan, menunjukkan jika ada makhluk lain yang mengawasi mereka.


Bulu kuduk merinding seketika, ibu yang bernama Ratna berpikiran dua kali untuk melakukan hal yang sama.


"Eum." Gumaman dari Delvi sontak membuat semua berwaspada dengan menjaga posisi yang sedikit berjarak ke wanita tersebut disertai pemandangan yang mewanti-wanti.

__ADS_1


Delvi telah sadar, ia menatap sekelilingnya yang begitu banyak orang. Dengan cepat, Tamrin mengambil gelas yang berisi air lalu memberikannya ke Delvi, tentu air tersebut sudah dibacakan ayat-ayat al-quran.


"Silakan diminum, Bu."


"Terima kasih, Mas."


"Uek." Dia mual seketika, beranjak dari ranjang kemudian menuju kamar mandi lalu memuntahkan banyaknya cairan yang bersarang dalam dirinya yang diyakini oleh Tamrin bahwa itu merupakan efek dari ilmu guna-guna yang telah terpendam dalam diri Delvi.


Sekembalinya Delvi, wajahnya tetap pucat pasi dan menunjukkan kelemasan dalam dirinya. Para ibu-ibu pun membantunya untuk duduk di ranjang.


"Maaf merepotkan kalian, saya benar-benar lemas malam ini dan tubuh saya berasa melayang serta bergerak sendiri," ujar Delvi.


"Pasti, Mas. Saya akan rutin meminumnya. Kali ini saya kapok dan telah khilaf karena lupa untuk meminumnya. Terima kasih telah menolong saya," balas Delvi.


Beberapa saat, suasana pun menenang dan Delvi telah tidur, akan tetapi, Tamrin mengusulkan bahwa ada beberapa orang yang tinggal di rumah Delvi selama beberapa hari agar wanita tersebut sadar.

__ADS_1


"Eh, ini ramai-ramai kenapa yah?" Semuanya berbalik, memandang bapak-bapak yang baru tiba dengan berbagai wajah, bahkan ada yang terlihat baru bangun dari tidur mereka.


"Tidak apa-apa, Pak. Bu Delvi tidak enak badan hari ini dan harus ditemani oleh beberapa ibu-ibu lainnya, para suami yang bersangkutan, tidak masalah dalam hal ini untuk sementara waktu bukan?" jawab Tamrin kemudian memohon perizinan ke mereka.


"Tidak masalah, Pak Ustaz. Kami kirain ada yang heboh, kalau begitu kami balik lagi, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Beberapa warga lainnya pun ikut pulang bersama suami mereka yang menyusul. Yang tersisa hanya tiga orang yang bersukarela untuk menemani Delvi dan membantunya di sini. Tamrin bersyukur solidaritas kampung munawarah sangat tinggi walau mereka tahu ada yang tidak beres dan rasa menyeramkan di rumah ini begitu mencekam, mereka tetap kukuh untuk membantu tetangganya yang sedabg kesusahan.


"Kalau begitu, saya pulang dulu yah, Ibu-ibu. Insya Allah, besok pagi saya datang untuk memastikan apakah kondisi Ibu Delvi sudah membaik atau belum. Jika terjadi sesuatu yang mencurigakan-diluar nalar-segera lapor ke saya yah, Bu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Pak Ustaz."


...BERSAMBUNG....


Sebenarnya, apa yang merasuki Delvi? Walau takut jangan sampai ketakutan apalagi panik, ini pesan utama dari Tamrin yang tersirat.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar.


See you next part.


__ADS_2