
Sepanjang malam hingga pagi hari, keanehan yang selalu dibayang-bayangkan oleh para ibu yang bermalam di rumah Delvi, tidak menandakan akan terjadi, helaan lega pun berembus dari bibir mereka ketika matahari telah terbit.
"Makasih yah Bu udah tolongin dan temenin saya sepanjang malam, maaf kalau saya merepotkan kalian," ucap Delvi ketika ibu-ibu yang menemaninya ingin pulang.
"Sama-sama, Bu. Kalau ada apa-apa jangan sungkan buat minta tolong ke warga, Insya Allah kami bakal bantu, kok."
Delvi tidak tahu ingin berkata apa lagi mengenai kebaikan warga di kampung munawarah, dirinya sangat beruntung oleh kebaikan hati mereka, terutama kepada Tamrin yang telah diceritakan semalam oleh ibu-ibu ketika warga telah pulang dari rumahnya. Semalam, Delvi dipikir hantu oleh ibu-ibu karena matanya terbuka dan menatap mereka secara lekat, tentunya masih khawatir akan kondisi Delvi yang sebelumnya telah dirasuki oleh sebuah makhluk tak kasat mata, membuat mereka was-was.
__ADS_1
Delvi berniat untuk memasak di dapur, tapi dia melihat secarik kertas di kompor dengan tulisan: gak usah masak, Bu Delvi. Makanannya udah ada di atas meja, ibu tinggal buka aja penutup makanannya.
Delvi tersenyum, dirinya pun menuju meja makan dan membuka benda tersebut lalu melihat beberapa makanan yang enak telah dimasak oleh ibu yang bermalam di rumahnya semalam.
"Alhamdulillah, mereka baik banget ya Allah, saya gak tau bagaimana caranya buat membalas kebaikan mereka," gumam Delvi kemudian memakan makanan tersebut.
Setelah makan, Delvi masih merasa sedikit lemas, sepertinya ia tidak dapat ke pesantren ini hari dan terpaksa harus izin ke pimpinan pondok, yaitu Pak Harun. Namun, Delvi tidak mengambil nomornya, jadi ... dia minta tolong ke Bu Hamzah saja yang notabennya istri dari Pak Harun sendiri.
__ADS_1
Kebetulan Tamrin sudah datang, Hamzah menyampaikan hal ini ke pria tersebut.
"Ustaz Tamrin, saya ingin berbicara dengan Anda ketika pulang nanti, lokasi pertemuan di masjid. Mohon untuk hadir dengan amat saya meminta, karena ini begitu penting untuk kita bahas secara empat mata," pintanya dengan nada yang serius membuat Tamrin harus menyetujuinya.
Pulang dari pesantren, sesuai pejanjian mereka di masjid. Kini, Tamrin bertanya kepada Hamzah, "Ada apa, Bu? Ada hal yang begitu penting?"
Hamzah mengangguk serius kali ini. "Ibu Delvi sedang sakit hari ini jadi dia tidak ke pesantren tadi, yang ingin saya beritahu akan hubungannya dengan ucapan saya barusan, adalah: jika Bapak benar-benar mencintai Delvi, tolong ... pastikan cinta Bapak secepatnya, maaf bila mencampuri urusan kasmaran Bapak tapi ini penting untuk saya sampaikan, mengapa? Anda harus ingat bahwa saingan di luar sana begitu banyak, terutama di pesantren ini, yaiti Bapak Hendra, paham maksud saya?" ujaran panjang lebar itu memicu terbitnya senyuman dari bibir Tamrin.
__ADS_1
"Bagaimana Ibu bisa tahu jika saya menyukai Delvi?"
Hamzah pun turut tersenyum. "Tatapan mata kamu sangat kontras, begitupun sebaliknya. Kalian berdua saling mencintai, hanya saja ... kedua-duanya malu untuk mengungkapkan. Tapi bagi saya terhadap keraguan Bu Delvi untuk menyatakan perasaannya memang hal yang wajar karena dia seorang wanita, jadi untuk membuka perasaan itu, diwajibkan pihak laki-laki terlebih dahulu," jawab Hamzah, lagi-lagi sangat panjang tapi Tamrin paham akan hal itu.