
"Makasih yah, Mas. Besok aku tunggu di rumah," ucap Delvi dengan wajah yang merona.
"Insya Allah, Dek. Rasa-rasanya, saya gak sabar pengen nikahin kamu," balasnya pula membuat Delvi semakin merona wajahnya.
"Aamiin, semoga dilancarkan. Kalau begitu, saya pulang dulu Mas. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Tamrin setia memerhatikan Delvi hingga wanita tersebut masuk dalam rumahnya, tetapi ... tiba-tiba dia menangkap sesuatu yang janggal, yaitu berupa ilmu sihir hitam sekelebat mengelilingi tubuh Delvi dalam berbentuk aura.
Dia menjelikan penglihatannya, tetapi Delvi sudah masuk terlebih dahulu. "Ke-kenapa? Apakah saya salah lihat atau bagaimana? Astagfirullah, semoga itu tidak terjadi padanya, lindungilah calon istri saya Allah," gumamnya dengan nada yang khawatir, semoga dugaannya salah.
"Kamu bicara sama siapa, Nak?" tanya Hamrun, Ayah Tamrin.
"Eh, gak pa-pa kok, Pak. Ayo masuk, Pak. Nanti dilihatin warga," jawab Tamrin, dan Hamrun hanya menggeleng pelan, heran dengan sikap Tamrin yang sulit ditebak.
Di rumah Delvi, wanita tersebut dengan segera menimum air pemberian dari Tamrin, dengan air itu, Delvi meyakini bahwa sosok yang terpendam dalam dirinya akan semakin tersiksa. Delvi tersenyum, beberapa detik kemudian, dia merasakan hawa yang panas di sekitarnya, tak disangka ... ia melihat cermin bergerak sendiri menuju arahnya lalu memerlihatkan wajahnya yang tampak menyeramkan.
"Kamu bermain-main denganku, Delvi, berhenti meminum air itu!"
Delvi memandang sinis dirinya di cermin, dengan berani ia membalas, "Laranganmu akan kujadikan sebagai perintah untuk meminumnya, jika kau tidak tahan dengan air ini, maka keluarlah, kecuali ingin menderita setiap hari. Dan ingat, calon suamiku akan cepat mengetahui hal ini!" Ancamannya berhasil membuat parakang itu kesal dan marah, rasa panas dalam dirinya semakin menjadi ketika Delvi meminum air tersebut kembali dan meneguknya secara perlahan juga lagi-lagi menambah airnya.
__ADS_1
"Tidak ingin keluar, maka kau akan semakin kesakitan."
Ke esokan harinya, Delvi lagi-lagi meminta air ke Tamrin sebelum pria tersebut menuju rumahnya-dengan cara mengirim pesan melalui ponsel-Tamrin yang ada di rumahnya pun heran dan bertanya-tanya, kenapa Delvi selalu meminta air? Apakah dirinya ada yang aneh? Tak ingin berpikiran negatif, Tamrin pun membuatkannya lagi, tetapi sekaligus langsung 6 botol air mineral.
"Bu, Pak. Saya sudah siap, mari ke rumah calon menantu kalian," ucapnya. Orang tuanya pun menatap kantong merah yang berisikan banyak botol, tentu mereka bertanya, "Kamu mau apakan itu?"
"Oh, Delvi lagi minta ini, Bu. Sebelumnya dia pernah sakit, nah saya buatkan air yang telah dirukiyah, dan dia minta lagi biar penyakitnya dapat sembuh total."
Beruntung, Hamrun dan Khadijah tidak bertanya lebih.
Sampai di rumah Delvi, mereka dapat sambutan dari Suratih secara langsung. Suratih yang memandang Tamrin, begitu takjub dengan siapa anaknya akan bersanding, tentunya dia fokus dengan rupa Tamrin yang begitu bersih dan tampan.
"Terima kasih."
Setelah masuk, mereka pun duduk dan perbincangan telah dimulai.
Singkat pembicaraan. "Berapa uang panaik yang telah Nak Tamrin persiapkan?"
"Insya Allah, saya dan Delvi telah menyepakatinya sebanyak 50 juta, Bu."
__ADS_1
"50 juta? Hanya segitu, Nak?" Tamrin mengangguk.
Suratih berdehem, dirinya syok dengan lamaran ini yang jumlah uang panaiknya hanya 50 juta.
"Delvi," panggil Suratih.
Delvi pun menghampiri ibunya. "Kenapa, Bu?"
"Serius, Nak, kamu sudah sepakat sama dia dengan uang panaik 50 juta?"
Delvi menunjukkan tatapan yang bingung, ia kemudian menjawab, "50 juta? Saya nggak pernah sepakat dengan jumlah panaik seperti itu, Bu."
...BERSAMBUNG....
Loh, loh. Ada apa dengan Delvi yang langsung berkata lain? Sudah jelas-jelas bukan bahwa mereka telah sepakat?
Hm ... kira-kira, apa yang Delvi pikirkan sehingga melontarkan kalimat tersebut? Coba kalian bayangkan jika berada di posisi Tamrin dan mendapatkan respon seperti itu.
Silakan berkomentar dan jangan lupa untuk like.
__ADS_1
See you next part.