The Secret Of Delvi

The Secret Of Delvi
Part 18


__ADS_3

Semuanya menggeleng.


"Jangan ada yang masuk, kita biarkan seperti itu, karena sangat berbahaya ketika di ujung napasnya, dia mengucapkan sesuatu lalu kita mengikutinya, padahal ... ucapannya merupakan mantra agar parakang tersebut berpindah tubuh ke orang yang mengikuti atau mengulangi ucapannya."


"Mengerikan sekali, Pak Ustaz. Tolong dengarkan arahan dan jangan ada yang membantah, jika Bapak sekalian ingin merasakan jiwa parakang, tolong ... bawa saja wanita itu jauh-jauh ke sini lalu pukul, atau sekalian nikahi," ujar Hendra dan warga menggeleng amit-amit dengan ekspresi tubuh yang merinding.


"Ogah, Ustaz. Pak Ustaz bisa saja bercandanya, kita gak mau!"


"Nah, tolong mendengar kalau begitu, jangan ngeyel seperti bayi, Bapak-bapak sudah besar, jangan sampai besar tapi jiwanya masih seperti bayi," balas Hendra.


"Wah, besar apa dulu, Ustaz?" sahut salah satu dari mereka, membuat Tamrin tertawa kecil dan Hendra membulatkan mata.


"Haduh, bisa-bisanya Bapak berambigu di malam hari, jangan mela-"


"Argh!"


"ASTAGFIRULLAH!"


Teriakan penjual jamu itu semakin keras, diiringi kalimat yang memohon akan pertolongan, tetapi ... Tamrin tahu bahwa dia hanya ingin memindahkan makhluknya ke tubuh orang lain sebelum ajalnya menjemput.


"Sebentar lagi dia akan binasa, Pak."

__ADS_1


Setelah tak ada teriakan yang terdengar lagi, Tamrin mengetuk pintu rumah tersebut, memastikan apakah ada orang selain dia di sini. Dan ... Tamrin memastikan, orang itu seorang diri di rumah ini.


"Pak, ikuti saya."


Warga pun mengikutinya, terutama Hendra yang berada di belakangnya dengan langkah yang pelan. Pintu rumah terkunci, terpaksa dobrakan membuatnya rusak dan terjatuh di lantai.


"As-salamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh."


Saat mereka masuk, suasana berubah secara drastis akan dinginnya malam yang berdesir menyapa kulit mereka.


"Kok tiba-tiba dingin gini, yah, Ustaz?"


"Saya juga tidak tahu, Ustaz," jawab Tamrin.


"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun."


Di sisi lain, Delvi mengetuk pintu rumah Hamzah karena dirinya akan menginap di sini beberapa malam (khusus malam saja).


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


Pintu pun terbuka, Hamzah tersenyum menyambut kedatangan Delvi. Delvi masuk kemudian berucap, "Terima kasih, Bu. Saya benar-benar takut di rumah, apalagi sendirian. Maaf jika harus merepotkan Ibu Hamzah di sini."


"Owalah, tidak apa-apa, Bu. Saya siap menolong kok, jujur ... saya pun takut jika sendirian di rumah, apalagi, suami saya juga gak ada."


Delvi merasa bersyukur jika momentnya begitu pas agar dia terhindar dari fitnah orang-orang yang akan curiga padanya.


"Ibu Delvi, ayuk masuk ke ruang makan, saya sudah masak banyak loh," ajak Hamzah.


"Alhamdulillah, terima kasih, Bu," balasnya tersenyum bersyukur, karena dirinya lupa makan malam karena saking takut dan terburu-burunya untuk menuju sini.


Ketika di ruang makan, mereka berbincang kecil di sela makannya.


"Aduh, Bu. Jangankan di luar, di rumah pun takut, apalagi harus keluar malam-malam begini? Saya gak berani deh kalau tidak ditemani sama suami," ujar Hamzah.


"Ibu Hamzah enak karena sudah bersuami, saya? Belum, he he he," balas Delvi dengan candaan.


"Bu Delvi gak lama lagi kok, soalnya kan ada Ustaz Tamrin, cie," goda Ustaz Hamzah dan Delvi malu-malu dibuatnya.


^^^BERSAMBUNG^^^


Seperti part sebelumnya, silakan like dan komentar, juga jangan sampai lupa untuk share ke teman-teman kalian, he he he.

__ADS_1


Mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata, mohon kritik dan sarannya, terima kasih.


See you next part.


__ADS_2