
"Owalah, jadinya ... beregu gitu?"
"Nggak juga, saya sendiri saja istirahatnya, nanti menyusul," jawabnya lagi.
Delvi pun beranjak dan memberitahu bahwa dia ingin membuat air hangat sebentar, seperginya Delvi, Hendra mengusap dadanya karena jantung yang berpesta pora dalam dirinya.
"Heuft, hampir ketahuan," gumam Hendra.
Di tempat lain, Tamrin bersama warga lainnya beristirahat, ketika pandangannya menyusuri wajah-wajah di sekitarnya, dia merasa, ada yang kurang, sampai akhirnya dia menyadari jika Hendra tidak ada.
"Bapak-bapak lihat Ustaz Hendra?" Semua warga menggeleng, mencari keberadaan Hendra yang tidak ada di antara mereka.
Semuanya pun panik, mengapa Hendra menghilang tiba-tiba? Salah satu warga berceletuk, "Mungkinkah Ustaz Hendra menjadi korban selanjutnya?" Karena pertanyaan tersebut, suasana menjadi ramai akan kekhawatiran mereka. Tamrin yang mendengar itu, menghela napas dan berusaha menenangkan mereka, "Pak, tolong jangan panik. Kita harus tenang dan selalu berdoa kepada Allah, saya yakin ... Ustaz Hendra tidak diculik oleh makhluk mengerikan itu, kemungkinan dia beristirahat sebentar di perjalanan tadi karena kelelahan dan jadinya, dia ketinggalan. Untuk memastikan hal itu, mari kita kembali dan mencarinya."
Warga pun mengangguk dan kembali mencari keberadaan Hendra. Semuanya berteriak di pertengahan jalan, memancing warga yang diam di rumah ikut keluar dan bertanya dengan raut wajah mereka yang khawatir.
"Ada apa berteriak begini? Siapa lagi yang hilang?"
"Ustaz Hendra menghilang, Pak."
__ADS_1
"Astaga, mari Pak kita cari."
Tamrin menghela napas untuk kedua kalinya, Hendra ... dia benar-benar membuat suasana menjadi kacau dan panik. Pencarian pun berlanjut hingga Tamrin melihat pintu rumah Delvi terbuka dan kecurigaannya pun berada di sana.
"Pak, tolong tunggu di sini yah."
"Baik, Ustaz."
Tamrin menuju rumah Delvi, sebelum sampai dia mendengar suara laki-laki di sana, ketika telinganya menjeli, Tamrin geleng-geleng dibuatnya, tak dapat dielakkan lagi bahwa yang ada di sana adalah Ustaz Hendra.
"Assalamualaikum."
Tamrin pun masuk membuat Hendra terkejut dan akhirnya cengengesan dan meminta maaf.
"Astagfirullah Ustaz Tamrin, Anda membuat kami khawatir, sampai-sampai warga mengira Anda diculik oleh parakang karena menghilang tiba-tiba tanpa adanya jejak," ujar Tamrin.
Delvi menatap Tamrin dengan heran, begitupun ketika pandangannya beralih ke Hendra, hingga pada akhirnya Hendra meminta maaf ke Delvi terlebih dahulu lalu ke Tamrin.
"Maaf Ustaz, saya lelah dan akhirnya istirahat sebentar dan menuju di sini, soalnya, beristirahat di tengah jalan seorang diri, suasananya begitu mencekam dan menyeramkan, apalagi jalanan kampung yang begitu gelap," balas Hendra dengan alasannya.
__ADS_1
"Jadi Ustaz Hendra berbohong?"
"He he he, seperti itulah Ustazah, maafkan saya."
Delvi geleng-geleng jadinya kemudian mengangguk memaafkan, sedangkan Tamrin, dia mengembuskan napas. "Ustaz, lain kali kalau lelah, beritahu, kita bakalan nunggu, sekalian ikut istirahat juga."
"Maaf. Lain kali takkan saya ulangi."
Tamrin melihat Hendra mengambil cangkir yang berisi teh, setelah meneguknya habis, di saat itu Tamrin menarik tangan Hendra dan pamit ke Delvi. "Assalamualaikum, Ustazah Delvi. Kami harus melanjutkan penjagaan, terima kasih telah menjamu Ustaz Hendra."
"Sama-sama, Ustaz Tamrin. Hati-hati."
Para warga yang menanti, langsung mendesah kesal menatap Hendra yang ternyata pergi tanpa memberi kabar, untungnya Tamrin langsung menjelaskan penyebab Hendra menghilang tiba-tiba, dan untungnya lagi ... warga memaafkan Hendra.
"Ustaz, Ustaz. Lain kali jangan seperti itu. Kami semuanya khawatir tadi."
"Maaf, Bapak-bapak. Saya takkan seperti ini lagi.
^^^BERSAMBUNG.^^^
__ADS_1
Wkwkwk, untung dimaafin sama warga, kalau gak ... beruntung sisa nyawa yang dikasih sama mereka.