
"Bu, tunggu sebentar yah, saya ambil motor dulu," pamit Tamrin dan ibu itu mengangguk lalu mencari tempat untuk berteduh: di bawah pohon.
Tamrin kembali ke pesantren, masuk ke ruang guru dan meminta kunci motor Hendra, Hendra sendiri bertanya kemudian, "Ustaz, parakang itu di mana?"
"Dia menunggu saya di luar, Ustaz Hendra, saya bisa meminjam motornya? Saya ingin mengantarnya pulang, sekalian mengetahui di mana dia tinggal," jawab Tamrin, membuat semuanya merinding, mereka pun bertanya, kenapa Ustaz tidak takut? Tamrin tersenyum sembari menjawab bahwa dirinya pun takut sebenarnya, asal jangan sampai ketakutan.
"Terima kasih."
"Sama-sama Ustaz."
Sebelum Tamrin pergi, Delvi menyahut, "Ustaz Tamrin, hati-hati yah." Tampak jelas kekhawatiran dari wajah Delvi membuat Tamrin tertegun sejenak lalu mengangguk dengan ucapan, "Tentu. Kalau begitu, saya pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Hamzah yang melihat itu tersenyum sendiri, dicoleknya Delvi beserta mata yang dikedipkan sebelah. "Aduh, romantisnya Ustazah Delvi dengan Ustaz Tamrin. Seperi istri yang memberitahu suaminya." Ucapan Hamzah memancing guru lain untuk menyahut. Namun sahutan mereka berupa godaan juga siulan dari guru laki-laki lainnya, kecuali Hendra yang nampak panas tapi tersirat.
Di luar, Tamrin kembali di tempat semula, mencari keberadaan si ibu tua yang menunggunya.
"Kenapa tidak ada? Tadi di sini," gumamnya, masih menyusuri di sekitaran agar menemukan penjual jamu itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Tamrin menemukan ibu hamil yang sedang berteduh di bawah pohon bersama seekor kucing yang ... agak aneh, di mana ekornya pendek dan kakinya tiga, Tamrin lantas terkejut, dengan cepat dirinya menghampiri ibu hamil itu dan meneriakinya, "Bu, jangan pegang!"
"Astagfirullah, saya kaget Pak Ustaz, memangnya kenapa? Kasihan kucing ini sendirian di sini bersama bakul yang berisi jamu, mungkin tuannya tidak ada," balas ibu hamil itu.
Tamrin menggeleng, dia menatap kucing tersebut lalu menendangnya sekali hingga terpental jauh, membuat ibu hamil tersebut sekali lagi kaget.
"Pak Ustaz, kenapa ditendang?"
Tamrin tak menjawab, dirinya menarik ibu hamil itu ke ruang guru, tentu membujuknya terlebih dahulu dengan pemberitahuan yang kecil agar dia tidak ketakutan.
"Ibu sudah tahu kan berita mengenai parakang di desa ini?"
Ibu tersebut mengangguk. "Iyah, Ustaz. Saya takut akhir-akhir ini dan memilih untuk keluar karena di rumah saya sendiri, suami saya sedang bekerja dan pulangnya malam," jawabnya.
"Hah, bagaimana bisa, Pak?"
"Ekornya pendek dan nampak aneh, begitupula dengan kaki belakangnya yang berjumlah tiga dan pandangannya selalu menunduk. Bakul yang tertinggal di bawah pohon tadi adalah miliknya, dia perempuan yang menjual jamu barusan di pesantren, dan sekarang, bayi Ibu dalam bahaya," jawabnya.
"Pak Ustaz, saya jadi takut. Kenapa Pak Ustaz tidak membunuhnya kalau begitu?"
__ADS_1
"Ibu, saya menendangnya sekali, cukup sekali saja. Jika dua kali, maka tidak akan berefek apa-apa. Ngomong-ngomong, nama Ibu siapa?"
"Nama saya Lasmini, Pak."
"Baiklah, Ibu Lasmini, sekarang kita ada di pesantren dan kita akan masuk di ruang guru, di sana ada air yang telah saya rukiah agar Ibu minum, supaya ilmu hitam yang telah ditanamkan parakang itu segera menghilang."
Lasmini mengangguk, dirinya sangat takut karena telah berurusan dengan parakang tadi. Masuknya mereka di ruang guru, menimbulkan pertanyaan bagi guru yang lainnya.
"Bukannya Ustaz ingin mengantar parakang tadi? Kenapa yang ada malah ibu hamil, Ustaz?" tanya Hamzah.
"Parakangnya sudah saya urus. Untuk ibu ini, dia sedang dalam bahaya. Ustaz Hendra, tolong ambilkan saya air tadi dan juga gelas," jawabnya, kemudian beralih ke Hendra meminta bantuan.
Dengan cepat Hendra memberinya air minum yang telah dirukiyah oleh Tamrin. Setelah meminumnya, Tamrin berkata, "Insya Allah, ilmu hitam yang ditandai oleh parakang itu telah menghilang dalam perut Ibu. Lain kali, diam saja di rumah dan selalu berdoa."
"Iyah Ustaz, lain kali saya gak bakalan keluar-keluar lagi."
Tamrin mengambil sebotol mineral yang ada di meja, memberinya ke ibu tersebut lalu. "Bu, rumahnya di mana? Biar saya antar, sebenarnya Ibu tidak boleh bergerak banyak, apalagi perut Ibu sudah membesar."
"Rumah saya sedikit jauh dari pesantren Pak Ustaz," jawabnya dan Tamrin mengangguk lalu mengantar Lasmini.
__ADS_1
Di perjalanan, Tarmin berhenti sebentar di bawah pohon karena dia melihat bakul dan jamu yang masih ada di sana, takutnya ... ada warga yang memungut jamu tersebut lalu meminumnya.
"Ustaz mau apakan jamu dan bakul itu?"