
...Wah, gak nyangka cerita ini sudah 29 bab 😆, terima kasih selalu setia membaca cerita ini, baik ke pembaca yang berada di balik bayang-bayang, mau pun kalian yang selalu muncul. Thanks for reading....
...Selamat membaca. ...
Sekitar 30 menit, keluarlah Delvi dari kamar santriwati yang sedang terlihat lemas, dirinya pun tidak tahu, mengapa ia menjadi seperti ini, rasa-rasanya ... tubuhnya melayang entah kenapa dan tidak sadarkan diri.
"Ustazah, Ibu baik-baik saja, kan?" tanya Hamzah, memegang pundak wanita tersebut agar tidak terjatuh, karena wajahnya terlihat pucat dengan tubuh yang lemas pula.
"Badan saya lemas semua, Ustazah. Kok bisa yah? Padahal sebelum mengajar tadi, sehat-sehat saja," jawab Delvi merasa aneh pada dirinya, dia pun menatap para santri yang tidak sadarkan diri dengan kening yang mengerut.
"Loh, ada apa dengan santri-santri?"
__ADS_1
"Mereka tiba-tiba sakit, Ustazah. Sama seperti yang kamu rasakan," jawab Tamrin. Delvi benar-benar tidak mengerti, ada yang aneh pada tempat ini, mengapa mereka langsung sakit serempak.
"Oh, iya. Sebelum Ustazah Delvi masuk ke kamar, tadi Ustazah bilang kalau gak mau diganggu, apakah benar?" tanya Tamrin memastikan.
"Gak mau diganggu? Perasaan saya tidak pernah, Ustaz. Saya pun baru sadar kok bisa ada di kamar? Padahal sebelumnya ada di kelas." Balasan Delvi semakin membuat para ustaz dan ustazah lainnya terheran-heran. Hal ini, membuat Tamrin yakin bahwa ada yang benar-benar aneh, tapi dalam diri Delvi. Maksudnya dalam diri Delvi, dia akan menanyakan satu hal terlebih dahulu.
"Ustazah, dulu kan sudah saya kasih air mineral dalam bentuk botol sewaktu habis minum jamu dari parakang yang waktu itu promosiin obatnya di ruang guru, apakah Ustazah meminum air itu?"
Delvi menggeleng, "Tidak, Ustaz. Saya lupa untuk meminumnya sewaktu pulang dari pesantren, saya hanya meminumnya sekali di ruang guru, habis itu tidak pernah lagi."
"Ini Ustaz."
__ADS_1
"Terima kasih."
Air tersebut Tamrin rukiyah dengan ayat-ayat al-quran kemudian ditiupnya beberapa kali lalu menodorkannya ke Delvi. "Silakan diminum, Bu. Untuk yang lainnya, ada yang bisa ambilkan saya beberapa gelas dan air minum? Ini untuk santri lainnya yang sakit," pintanya. Tanpa membalas, Haura bergerak cepat, mengambil apa yang diperintahkan oleh pria tersebut kemudian membawakannya dalam beberapa menit.
"Kemungkinan Bu Delvi masih terpengaruh dengan ilmu hitam yang disebabkan oleh jamu dari parakang tersebut, tapi untuk para santri ini, saya belum tahu. Untuk mencegah hal-hal yang aneh terhadap mereka, alangkah baiknya mereka meminum ini juga. Jangan lupa baca basmalah sebelum minum dan mohon perlindungan serta penyembuhan dari Allah Swr melalui air rukiyah ini," ujar Tamrin dan membagi-bagikan gelasnya ke santri-santri.
"Aamiin, terima kasih Ustaz."
Lagi dan lagi, hal itu membuat Haura semakin terpikat ke Tamrin, hatinya berbunga ketika melihat pria tersebut mengobati yang lainnya.
"Alhamdulillah, dengan adanya Ustaz Tamrin di sini, kita tidak perlu terlalu khawatir persoalan ini, Insya Allah semoga kita diberi perlindungan oleh-Nya."
__ADS_1
Tamrin mengangguk saja, yang dipikirkan oleh pria itu sekarang adalah kondisi Delvi yang masih lemah terhadap pengaruh ilmu hitam dari jamu tersebut.
"Yang lainnya rutin kan meminum air yang sudah saya berikan?"