
"Terima kasih sebelumnya, tapi tidak perlu, Pak. Rumah saya dekat kok dari sini dan rumah Bapak juga agak jauh dari pesantren apalagi tak searah dengan rumah saya dan ini terkesan merepotkan. Mohon maaf," tolaknya secara halus, kekukuhan dalam diri Hendra melajukan lisannya agar kembali menawarkan. Namun, hati Delvi begitu kokoh mempertahankan temboknya agar kukuhan Hendra menyerah saat menyerang.
"Kalau begitu, lain kali saja yah, Bu Delvi. Jika dibutuhkan, he he he." Nada ucapan Hendra jelas kecewa dan Delvi menangkapnya cepat, ia tersenyum tipis, mau apa lagi? Delvi harus menolaknya agar tak ada harapan dalam diri Hendra kepadanya karena kemungkinan dalam dirinya muncul begitu saja mengenai sepucuk hati Hendra yang tertarik kepadanya.
...Maaf, saya akan memertahankan tembok yang telah saya lapisi untuk Ustaz Tamrin seorang....
Delvi melanjutkan langkahnya hingga dia sampai di rumah, helaan napasnya terdengar ketika dia menyandarkan punggung di kursi. Hari ini begitu lelah, karena pikirannya sangat terkuras oleh banyaknya soal yang harus ia buat, sedangkan target yang dia tuju belum ada setengah dari apa yang diselesaikannya.
"Insya Allah, malam ini harus selesai," gumamnya kemudian beranjak dari kursi lalu menuju dapur untuk membuat es teh agar dirinya sedikit tenang dengan pikiran yang sejuk.
Es teh telah dibuat, ketika masuk dalam tenggorokan, Delvi dapat menikmati sensasi sejuknya. Ucapan syukur tak lepas dari bibirnya setelah meneguk habis minuman tersebut. Sekarang, dirinya harus beristirahat sebentar untuk mengistirahatkan badan, layaknya baterai ponsel yang harus diisi ulang.
Apa yang dirasakan Tamrin, pun sama dengan apa yang dirasakan oleh Delvi. Pria itu pusing tujuh keliling oleh banyaknya soal yang harus diselesaikan dengan deadline dua hari kedepannya.
__ADS_1
"Astagfirullah, saya harus cepat menyelesaikannya. Kamu pasti bisa Tamrin, Insya Allah!" semangatnya dalam diri, kemudian melanjutkan ketikan di laptop.
Berkutat selama beberapa jam, sekitar 70% telah dia selesaikan. Namun, Tamrin belum menyerah untuk melawan rasa malasnya ketika tangan sudah agak pegal di atas keyboard.
"Baiklah, saya menyerah. Tanganku sudah keriting rasanya, heuft." Dia mengembuskan napas, mematikan laptopnya segera lalu berdiri untuk merenggangkan otot-otot tubuh yang kaku setelah duduk berjam-jam.
Tamrin pun keluar sebentar untuk menyiram tanaman di halaman rumahnya, bersamaan akan hal itu, dia memandang suatu yang menarik, yaitu Delvi. Dia melihat Delvi yang membantu ibu-ibu sedang mengangkat pot bunga. Karena hal itu, Tamrin menghampiri mereka dan ikut serta menolong.
"Assalamualaikum, Ibu-ibu."
"Sepertinya terlihat berat, boleh saya bantu?"
"Wah, boleh banget, Ustaz. Memang berat pot bunga ini, sampai tiga orang yang mengangkatnya, masih berat juga," balas ibu tersebut dan Tamrin terkekeh. Dia pun mengangkat pot itu sendirian dan membawanya sesuai arah yang telah diberitahukan.
__ADS_1
"Tenaga laki-laki memang tidak diragukan. Terima kasih, yah, Ustaz."
"Sama-sama, Bu."
Sejenak, Tamrin dan Delvi memandang, keduanya kikuk dan segera memutuskan pandangan mereka agar terhindar dari zina mata.
Delvi beristigfar dalam hati, dia harus berhati-hati dalam menjaga pandangan. Begitupula dengan Tamrin yang langsung khilaf.
"Gak ada yang mau diangkat lagi, Bu?"
"Eh, masih ada Ustaz."
"Yang mana, Bu?"
__ADS_1
"Tolong, hati saya diangkat dan bawa di hati Ustaz." Canda dari ibu-ibu yang memecahkan gelak tawa mereka, Tamrin dan Delvi sangat terhibur dari ini, apalagi mengingat otak mereka telah terkuras banyak dikarenakan soal ulangan yang harus dikumpul secepatnya.
...🍏🍏🍏🍏🍏...