
Tibanya Delvi di ruang guru, hanya ada Ustazah Hamzah dan Ustaz Tamrin di sana. Suasana ruangan dipenuhi oleh lantunan ayat al-quran dari lisan Tamrin yang begitu merdu, mengusik kejiwaan Delvi yang baru masuk dan membuat hatinya semakin tenang dan tentram.
Delvi masuk mengucapkan salam, otomatis kedua orang di sana menjawab salamnya lalu melanjutkan aktivitas mereka kembali. Di sela lantunan yang terucap dari bibir Tamrin, diam-diam Delvi merekamnya agar dia dapat mendengar suara Tamrin di penghujung malam sebelum tidur.
Ustazah Hamzah, mengetahui apa yang Delvi lakukan sehingga dirinya menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa mereka begitu serasi untuk menjadi pasangan sejiwa. Namun, Hamzah belum mengetahui bagaimana isi hati Tamrin terhadap Delvi, apakah pria itu menaruh hati atau tidak.
"Ya Allah, satukanlah mereka hingga menjadi pasutri yang sakinah, mawaddah, dan warohmah. Aamiin." doa Hamzah, dalam batinnya.
Ketika lantunan al-quran dari bibir Tamrin selesai, Delvi diam-diam kembali ke tempatnya di samping Hamzah dan melihat hasil rekamannya dengan wajah tersenyum, Hamzah melirik ponsel Delvi dengan kikikan tawa yang kecil hingga hal itu terdengar di pendengaran Delvi.
"Ustazah Hamzah?"
Ustazah Hamzah tersenyum, mendekati Delvi dan berbisik, "Saya tahu kalau kamu lagi rekamin suara Ustaz Tamrin, kan?"
Sontak, pipi Delvi bak jambu yang merah muda. Dia tak dapat mengelak dan memberi jawaban berupa anggukan.
"Ustazah, jangan ribut-ribut, yah," balas Delvi dan Hamzah mengangguk.
__ADS_1
"Semoga menjadi penghantar tidur yang nyenyak yah, Ustazah Delvi."
Malam pun tiba, suasana pesantren ramai akan suara santri-santri yang sedang berselawat, guru nasyid pun membimbing mereka untuk melantukan selawat agar lebih terdengar indah dengan irama yang mendayu-dayu.
Delvi menikmati suasana ini, di tengah para ustazah-ustazah yang ikut mendengarkan.
"Ustaz Tamrin, boleh berselawat? Kan suaranya Ustaz bagus," sahut salah satu santri, mengirimkan permintaan yang tentu dilakukan oleh Tamrin.
Tamrin beranjak dari duduknya kemudian berada di tengah lingkaran para santri lalu berselawat. Semuanya takjub akan kesyahduan suara dari seorang Tamrin, terlebih kepada Delvi yang sampai-sampai memejamkan matanya dan tak sengaja menitikkan air mata.
Tak sadar pula, Delvi mengikuti irama selawat Tamrin di tengah lantunan pria tersebut dan membuat semuanya diam mendengarkan suara Delvi yang juga amat bagusnya.
"Suara saya biasa saja, Ustaz. Dan saya belum cocok untuk menjadi nasyid untuk santri-santri di sini, saya pun juga perlu dibimbing," jawab Delvi.
"Ustazah Delvi selalu saja merendah, padahal suara Ustazah barusan membuktikan loh," ucap Hamzah membuat yang lainnya mengangguk, tak sampai di situ, "bagaimana kalau Ustazah Delvi dan Ustaz Tamrin menjadi guru nasyid di sini? Bagus loh suara kalian berdua, cocok banget, apalagi-" tahan Hamzah, membuat Delvi malu-malu dan berusaha menutupi hal itu dari senyuman kecilnya.
"Apalagi, kalian cocok pula untuk menjadi pasangan suami istri, aamiin, yah."
__ADS_1
"Aamiin." Sambutan dari santri lain begitu meramaikan suasana romansa ini, kecuali untuk Hendra yang hanya tersenyum sakit menyaksikan hal ini, dirinya harus bersabar.
Hendra menatap Tamrin yang ikut tersenyum pula mendengar perkataan Ustazah Hamzah, pria tersebut hanya diam tak menyahut, membuat Hendra curiga jika ustaz tersebut juga menyukai Delvi secara diam-diam. Jika ini benar, maka ... harapan untuk memiliki Delvi semakin pupus dalam hatinya.
...🍏 🍏 🍏 🍏...
Tamrin-Delvi atau Hendra-Delvi? Silakan dipilih, kepada siapa Delvi cocok menjadi istri di antara kedua pria tersebut.
Memangnya, Tamrin menyukai Delvi, kah? Atau hanya biasa saja? Dan senyumnya sebagai penutup saja.
🤔
Semakin membuat kalian penasaran atau tidak, nih?
Tunggu kelanjutannya, yang insya allah akan saya update entah kapan waktunya. 😆
Untuk itu, silakan like dan komentar, semoga kalian suka chapter ini.
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga sehat senantiasa dan terhindar dari berbagai penyakit, terutama corona yang begitu cepat penyebarannya. 😔
Aamiin.