
"Astagfirullah, saya sama Ustaz Hendra tidak ada hubungan spesial, Bu. Kami hanya berteman, dan ucapan Ustaz Hendra di pesantren tadi hanyalah candaan semata. Lagian, bukan cuman Ustaz Hendra kok, Ustaz Tamrin pun juga ikut tadi, hanya saja, kami tidak setempat untuk pulang karena Ustaz Tamrin bermotor." Balasan yang panjang lebar pula dari Delvi, membuat hati Haura sedikit tersentil akan rasa cemburu ketika akhir kalimat yang terselip nama orang yang dia sukai.
"Wah, ternyata, ada Ustaz Tamrin juga yah? Saya tidak menyangka," ujar Haura dan Delvi mengangguk. Setelah itu, pamitlah Haura dengan salamnya karena dia tidak dapat menampakkan wajah sakitnya di hadapan wanita tersebut kalau dia sedang cemburu juga, sekarang ini.
Mengenai Haura, ketika dia sampai di rumahnya, gadis itu menahan napas lalu mengembusnya pelan, berusaha melepaskan nyeri di dadanya ketika mengetahui jika Delvi, Hendra, dan Tamrin bersama-sama ke pasar.
"Dulunya, saya menyukai Ustaz Hendra. Namun, tak ada tanda-tanda dari dia untuk membalas perasaan saya. Lambat laun, perasaan itu menghilang dan kembali muncul ke orang lain, dia adalah Tamrin yang berhasil menimbulkan percikan cinta dalam diriku. Akan tetapi, satu orang dengan mudahnya memikat hati mereka secara bersamaan, dia adalah Ibu Delvi. Parasmu memang tidak dapat dielakkan oleh para kaum adam, tapi kumohon, jangan pikat orang yang saya cintai," ujarnya membatin, dengan air mata yang kemudian menetes dan membasahi pipinya, "karena, ini menyakitkan untuk saya, dan pula, untuk kedua kalinya," lanjut Haura, semakin menekan batinnya yang terluka.
__ADS_1
Sementara di lain sisi, ada pula Tamrin yang tersenyum sendiri mengingat kejadian di pasar tadi ketika Delvi sangat cekatan dalam membeli sayur dan ikan.
"Apakah saya menyukainya? Kemungkinan iya, karena melihatnya bersama Ustaz Hendra, selalu membuat saya tidak tenang," ujar Tamrin, kemudian menengadah ke atas sembari memejamkan mata, lalu berdoa, "saya akan berusaha untuk memiliki hatinya secara halal, jika dia jodoh saya, Allah pasti akan menyatukan kami, Insya Allah," lanjut Tamrin, lalu mengucapkan aamiin tiga kali.
Ke esokan harinya, di pesanten terjadi perbincangan hangat mengenai para pria yang dari pasar kemarin. Bagaimana bisa menjadi pembicaraan hangat di tempat itu? Dikarenakan Ustaz Hendra yang membeberkannya dan meminta titipan sayur dan ikan kepada Delvi.
"Sayur sama ikannya segar-segar, Bu. Ibu Delvi pandai milihnya," ucap Hendra. Di sisi lain terdapat Tamrin yang diam saja, kadang kala pria itu tersenyum kecil mendengar suara Hendra yang begitu semangat menyeritakan kejadian kemarin.
__ADS_1
"Wah, kalau begitu, saya pengen ikut juga deh lain kali kalau mau ke pasar, biar rame. Karena, saya bosan sendirian di pasar panas-panasan, mana pembelinya juga banyak sekali," sahut Haura dan Delvi setuju akan hal itu, ramai ke pasar juga bagus untuk menghindari dan menutup fitnah para warga yang telah membicarakan dirinya, jika ada.
"Insya Allah, kalau libur, kita ke pasar bersama yah."
"Siap, Bu. Ustaz Hendra, Ustaz Tamrin, dan lainnya gimana? Mau ikut?" tanya Haura, dan semuanya mengangguk.
°•°•
__ADS_1
Terima kasih telah membaca cerita author sampai sejauh ini.
Jangan lupa share ke teman-teman kalian, see you next part.