
Welcome to part 20 😁
"Bu Delvi kok terlalu terbuka sama lelaki yah? Tadi sama Ustaz Tamrin, sekarang? Ustaz Hendra pun dibabat, sepertinya dia kurang baik, yah Ibu-ibu."
"Iyah yah, Bu. Terlalu terbuka, sebenarnya Ibu Delvi itu bisa dibilang memberikan harapan sama Ustaz Tamrin, tapi di sisi lain, juga dianya yang mempermainkan harapan itu, bagaimana yah jika Ustaz Tamrin melihat itu?" Gosip para ibu-ibu kian menjadi, hingga salah satu warga yang datang dan menegur mereka.
"Astagfirullah, lancar betul gosipnya, sampai-sampai saya mendengarnya loh, Ibu-ibu. Ustazah Delvi kan menawarkan makanan kepada Ustaz Hendra, jadi wajar Ustaz Hendra menerima, selain dari rejeki karena memang dia juga belum makan. Bu, gak baik loh gosip-gosipin orang, kita yang dapat dosanya, Ustazah Delvi yang ambil pahala kita, mau?"
"Ih, enak saja. Nggak mau, Bu."
"Ibu Haura tau dari mana kalau Ustaz Hendra sedang lapar?"
"Kebetulan tadi saya lewat dan mendengar percakapan mereka, daripada berprisangka buru, mending berprisangka baik yah, Bu."
"Iyah, Bu Haura. Terima kasih udah ngingetin kami, astagfirullah."
"Sama-sama, lain kali jangan diulangi yah, Bu. Kalau begitu, saya pamit. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Di rumah Delvi, Hendra benar-benar senang dan lahap memakan nasi goreng Delvi. Sampai-sampai, laki-laki itu keceplosan mengatakan, "Wah kalau begini, mah. Bagaimana gak cinta sama Bu Delvi?" Hendra terkekeh kemudian, menyadari ucapannya yang asal nyeplos begitu saja, tetapi ... dia biarkan, sekalian ingin tahu seperti apa respon Delvi terhadapnya.
"Pak Hendra bisa saja, saya gorengnya seadanya saja, Pak. Karena bahan pun sedikit dan saya akan ke pasar nanti," balasnya, membuat Hendra sedikit kecewa, padahal harapannya, dia ingin Delvi membalas perasaannya dengan mengatakan bahwa dia siap menerima cinta Hendra.
"Ibu Delvi ingin ke pasar? Wah, kok kebetulan saya pun sama? Nanti jam berapa, Bu? Sekalian saya antar juga, mau?"
"Eh, tidak usah Pak, nanti ngerepotin dan ju-"
"Tidak apa-apa, Bu. Jangan bilang ngerepotin, loh ... saya saja yang menawarkan, iya tidak?"
Delvi pun mengangguk, tak enak menolak tawaran dari Hendra.
"Terima kasih, yah, Pak."
"Terima kasih kembali atas nasi goreng dan terima tawaran saya."
Hendra dan Delvi sepakat untuk ke pasar pada sore hari, di sore harinya, Hendra tiba dengan klakson mobilnya dan Delvi pun keluar lalu masuk ke mobil tersebut.
Seperginya mereka, Tamrin melihat itu, dan bertanya-tanya, siapa pemilik mobil tersebut? Dan ke mana dia akan membawa Delvi? Tamrin sedikit khawatir dan memutuskan untuk menyusul mereka. Dengan segera, diambilnya kunci motor lalu melaju menyusul mereka.
__ADS_1
Tamrin berhasil menyusul, dia terus mengikuti mobil tersebut hingga berhenti di pasar.
"Di pasar?"
Tamrin masih memerhatikan sampai Hendra keluar dari mobilnya, begitupun dengan Delvi yang kemudian masuk di tempat keramaian tersebut.
"Astagfirullah, Tamrin, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu selalu mengkhawatirkannya, bahkan melihat Delvi bersama Pak Hendra saja, tanganmu mengepal secara tidak sadar," gumam Tamrin, bertanya-tanya apa yang terjadi kepada dirinya.
"Yah, saya harus menyusul juga."
Tamrin terus mengikuti hingga menyapa mereka dari belakang, "Assalamualaikum, Ibu Delvi dan Pak Hendra."
Hendra dan Delvi lantas berbalik, membalas, "Waalaikumsalam."
"Eh, Mas Tamrin? Mau ke pasar juga yah?"
Tamrin mengangguk. "Iyah, Bu. Kebetulan saya melihat kalian dari kejauhan, jadi ... sekalian ikut dan juga meminta bantuan kepada Bu Delvi untuk melihat-lihat ikan yang segar, soalnya, saya ku-"
"Oh, tentu Mas. Saya akan pilihkan nanti," potong Delvi dan Tamrin mengangguk, sementara Hendra, dia sangat kesal dengan kehadiran Tamrin yang tiba-tiba, dalam batinnya, pria tersebut mengucapkan, "Dasar pengganggu."
__ADS_1