
Tamrin berpura-pura di depan pintu sembari memainkan ponselnya, dengan tujuan menunggu parakang tersebut untuk keluar, Tamrin pun tahu mereka pasti curiga dengan kepergiannya secara tiba-tiba, dengan sengaja, dia masuk ke ruang guru dengan ponsel yang ada di telinganya.
"Halo, saya ada di pesantren, Pak. Insya Allah, saya akan mengerjakannya nanti."
"Ha ha ha, Bapak bisa saja. Terima kasih, banyak." Setelah itu, Tamrin menaruh ponselnya di saku celana.
Tamrin duduk di tempatnya, lalu tersenyum ke arah semuanya orang, termasuk manusia parakang itu.
"Maaf, tadi saya langsung keluar tanpa pamit, ada yang menelepon. Saya mau jawab di sini, tidak enak hati karena kalian sedang berbincang," ujarnya dan orang-orang di ruangan tersebut mengangguk tanpa adanya koneksi kecurigaan yang ditunjukkan.
"Kalau begitu, saya pulang dulu yah, Ustaz dan Ustazah."
Setelah parakang tersebut keluar, mulailah Tamrin mengode Hendra untuk membawa air botol tadi, dan Tamrin sendiri mulai mengikuti wanita tersebut dan menyusun sebuah rencana agar mengetahui di mana rumahnya.
"Ustaz dan Ustazah lainnya, nanti Ustaz Hendra akan membawa botol mineral ke sini, tolong didengarkan penjelasannya dan silakan minum air itu, jangan sampai tidak meminumnya atau kalian sakit. Mohon maaf saya tidak menjelaskan secara rinci karena saya sedang terburu-buru, assalamualaikum."
"Waalailumsalam, Ustaz."
Semuanya saling berpandangan tidak mengerti sampai datanglah Hendra dengan air mineral kemudian menyuruh mereka untuk berkumpul.
"Ustaz, Ustazah. Yang kalian minum jamunya tadi, itu seorang parakang. Maka dari itu, Ustaz Tamrin ngasih saya ini untuk kalian minum, tenang ... air ini telah dirukiah."
"Astagfirullah, masa sih, Ustaz Hendra?"
__ADS_1
"Aduh, Ustazah Hamzah tolong didengarkan saja apa perkataan Ustaz Tamrin atau Ustazah mau sakit? Begitupun yang lainnya mau sakit atau tidak?"
Semuanya pun menggeleng kemudian mengambil gelas dan meminum air tersebut.
"Insya Allah, dengan air ini, kata Ustaz Tamrin kita bakalan sembuh, aamiin."
"Aamiin, Ustaz Hendra. Saya jadi takut, pantas Ustaz Tamrin agak aneh tadi," ucap Ustazah Hamzah yang bergidik ngeri.
Di tempat lain, Tamrin berhasil menyusul penjual jamu tadi dan bertanya padanya, "Assalamualaikum, mohon maaf jika kehadiran saya mengagetkan, Anda."
"Waalaikumsalam, eh Pak Ustaz. Ada apa yah? Saya tidak kaget kok," balasnya dengan tersenyum.
"Boleh saya pesan jamunya dan minta alamat ibu? Kalau jamunya sudah habis, saya langsung ke rumah Ibu saja, bersama ustaz dan ustazah lainnya," pinta Tamrin dan ibu tersebut mengangguk.
"Terima kasih yah, Bu. Untung saya bawa kertas dan pulpen, jadi ... bisa saya catat alamatnya."
"Sama-sama, Nak."
Setelah mendapatkan alamatnya, Tamrin tak pergi begitu saja, dia masih kurang percaya bahwa ini adalah alamat asli dari ibu ini.
"Setelah ini, Ibu mau pulang?"
"Nggak, Nak. Saya mau lanjut jualan," jawabnya dan Tamrin rasa ini jelas berbahaya, karena jamu yang dia jual telah dimantra guna olehnya.
__ADS_1
"Biasanya, Ibu jualan sampai jam berapa?"
"Sampai siang, Nak. Tergantung dari cuaca juga," jawabnya dan Tamrin tersenyum.
"Bu, coba lihat di ponsel saya, sepertinya akan ada hujan nanti, bagaimana jika saya mengantar Ibu pulang? Apalagi, langit yang terlihat mendung di sebelah sana."
"Masa sih, Nak?"
"Iyah, Bu. Tuh langitnya menjadi bukti, nanti hujannya bakalan menyusul ke sini, emangnya mau basah-basah?"
"Nggak, Nak. Kalau begitu, boleh antar saya pulang?"
"Tentu, kan sudah saya tawari tadi, Bu. He he he."
"Terima kasih, yah, Nak."
"Sama-sama, Bu."
^^^BERSAMBUNG^^^
Sosok parakangnya telah ditemukan, bagaimana cara Tamrin agar dapat memusnahkan parakang tersebut? Atau ada cara lain?
Mari simak di kisah selanjutnya, yang entah kapa author update, sabar menunggu.
__ADS_1
Btw, udah like belum?