
...Setelah membaca part ini sampai akhir, apa kesan atau pendapat kalian?...
...Komentar terbaik, yang beruntung bakalan author promosiin ceritanya....
...Happy Reading....
Delvi hanya meratapi nasib, dia tidak dapat menghilangkan jejak-ilmu hitam-dalam tubuhnya. Dia benar-benar mengasingkan diri, jauh dari perkotaan juga perkampungan, yang di mana, dia seorang diri di sebuah tempat yang ia pun tidak tahu di mana lokasinya.
"Ibu benar-benar memberiku tempat yang tepat," gumam Delvi di sunyinya malam, kemudian terlelap tenang.
Malam semakin larut, hingga sosok halus dalam raganya bangkit secara sendiri dengan mata yang memerah serta tubuh yang berterbangan ke segala penjuru untuk menuntaskan kelaparannya.
Tak ada makanan yang ia dapati sedangkan hari ini merupakan malam terakhirnya untuk hidup jika tak mendapatkan mangsa satu pun.
Tubuhnya perlahan melemah, hingga terjatuh di tanah yang dibaluti oleh dedaunan kering.
"Delvi, kini kau bebas dariku. Selamat menjalankan hidup yang baru, dan kembalilah ke Tamrin."
Esok hari, Delvi mengerang pelan karena baru saja membuka matanya lalu beranjak dari kasur. Ia pun melihat ponselnya yang menunjukkan pukul empat pagi.
__ADS_1
Ketika ia menyalakan lampu. "Akhh!"
Dia tidak sadar jika makhluk yang bersemayam dalam dirinya sedang terlelap di atas ranjang, jadi ... Delvi menggumam, "Berarti, semalam dia tidur bersamaku?"
Delvi lama menatapnya, tapi tak ada pergerakan dari makhluk tersebut hingga ia kini menyadari bahwa ada yang aneh, dirinya memberanikan diri dengan menghampiri makhluk tersebut lalu menyentuhnya dan, tak ada pergerakan.
"Apakah dia mati?"
...~~~~...
Delvi menelepon ibunya, Suratih pun datang setelah dua jam lamanya perjalanan dan ditemani oleh orang pintar.
"Yah, dia telah mati. Mati kelaparan." Orang pintar tersebut mengucapkan alhamdulillah kepada Delvi dan melontarkan, "Kamu sudah terlepas dari ilmu hitam tersebut, Nak. Untuk Ibu Suratih, saya peringatkan agar tidak melakukan hal itu lagi, sangat jarang seseorang yang sosok mistisnya memilih mati sendiri daripada memakan jiwa yang ia tempati."
"Nak, kamu maukan memaafkan Ibu?"
Delvi mengembuskan napasnya pelan, lalu tersenyum memandang ibunya. "Tentu, Bu. Delvi juga minta maaf karena udah ngebentak-bentak Ibu."
"Nak, tolong sampaikan ini ke seseorang agar dia memaafkan kesalahan terbesar Ibu kepadanya."
__ADS_1
"Tentu, Bu. Insya Allah, Delvi akan sampaikan."
...~...
Beberapa hari selanjutnya, aktifitas para warga kampung munawarah berjalan seperti biasanya, begitupun di pesantren, belajar-mengajar juga berjalan normal, hanya saja ... terdapat kekurangan di pondok tersebut ketika Delvi sudah tidak ada lagi.
Tamrin benar-benar merindukannya, ketika pulang dari pesantren, dirinya tentu melihat rumah yang ditempati Delvi yang tak berpenghuni, hanya sekelebat halusinasi ketika membayangkan Delvi sedang menyapu halaman rumahnya.
"Heuft, dirinya tidak akan pernah kembali Tamrin."
Seperti biasa, di sore hari para warga akan serentak membersihkan halaman rumah mereka, tak sedikit pula mereka saling membantu tetangga lainnya ketika pekerjaan mereka telah selesai.
Contohnya, Hendra. Pria itu membantu Tamrin membersihkan got rumahnya yang terdapat banyak sampah di sana. Tamrin heran, mengapa bisa sebanyak ini? Padahal dia tidak pernah membuang sampah di situ, satu pun tidak ada.
"Halaman rumahnya udah disapu semua, Pak?"
"Semuanya sudah beres, terima kasih Pak Hendra."
○●□■°°••
__ADS_1
BELUM TAMAT! MASIH ADA LANJUTANNYA.
see you next part.