The Secret Of Delvi

The Secret Of Delvi
Part 42


__ADS_3

Hendra menyusul Tamrin yang sedang menuju di teras rumahnya, mereka duduk di sana dan mulailah perbincangan mengenai Delvi.


"Kira-kira, bagaimana dengan dia? Apakah baik-baik saja?"


"Saya tidak tahu, Pak. Tapi, doakan saja agar dia sehat selalu. Kepergiannya menimbulkan kehampaan dalam diri saya, yah ... terdengar berlebihan, karena saya sudah jatuh hati kepadanya," jawab Tamrin, dan kini melontarkan keresahannya.


Hendra merasa konyol dengan semua ini, perjuangannya pun sia-sia. Tamrin yang notabennya merupakan pria yang Delvi cintai, mendapat penolakan? Bagaimana dengan dirinya yang hanya bertepuk sebelah tangan?


"Jangan terlarut lebih dalam, nanti susah bangkitnya, Pak. Masih banyak wanita di sini, ha ha ha," canda Hendra, Tamrin pun tertawa, ia juga merasa konyol sendiri. Akan tetapi, bangkit pun rasanya susah ketika hati telah berlabuh pada satu wanita saja.


"Akan saya usahakan, Pak."


Hendra mengembuskan napas, "Jujur, saya pun jatuh hati kepadanya. Namun, melihat dia mencintai orang lain, maka saya akan mundur. Berat rasanya, saya yang memberitahu saya pula yang terjebak," miris Hendra pada dirinya sendiri.


"Sudahlah, Pak. Jangan terlarut, Delvi pun gak akan balik ke sini, dia sudah mengasingkan diri, sesuai apa yang dia katakan sebelum meninggalkan kampung ini," ujar Tamrin, membuat Hendra terkejut akan nada keputusasaannya.


"Jika dia kembali, izinkan saya untuk merebutnya, Pak. Boleh?"


Tamrin memicingkan mata. "Tidak akan saya biarkan, Pak. Dia milik saya."


Mereka tertawa setelah itu. Namun. "Jadi, saya pilih yang mana nih kalau kedua-duanya memperebutkan saya?"


Sontak, mereka tertegun dan menengok secara perlahan, mendapati Delvi yang sedang tersenyum dan ditemani oleh ibunya-Suratih-.


"Tunggu, apakah dia wanita yang menyamar sebagai Delvi, Pak? Kok mirip sekali, sih?"

__ADS_1


"Saya juga berpikiran seperti itu, Pak."


Delvi memutar bola matanya malas. "Assalamualaikum, Pak Tamrin dan Pak Hendra. Kenalkan, orang yang ada di samping saya, adalah ibu saya yang bernama Suratih. Jadi, apakah saya merupakan orang lain yang menyamar sebagai Delvi?"


Mereka kompak berdiri terkejut. "Serius?!"


Delvi tertawa, begitupun dengan Suratih. "Iya dong, Mas Tamrin. Saya Delvi," tekannya pada Tamrin, membuat pria itu percaya, sementara Hendra, dia sedikit terluka mendengar sapaan itu, tetapi ... ia segera menghapusnya karena sadar jika hati Delvi telah dimiliki oleh Tamrin dan begitupun sebaliknya.


"Bagaimana mungkin?" tanya Tamrin penasaran.


"Gak diajak masuk dulu nih, Mas? Panas loh di sini."


"Eh, lupa. Silakan masuk, Dek, Bu."


Suratih mengangguk canggung, dirinya benar-benar malu bertemu dengan Tamrin, tapi, Delvi selalu meyakinkannya sebelum berada di sini.


"Alhamdulillah, Mas. Aku udah sembuh dari yang namanya parakang. Ini mengejutkan sekali, aku gak menyangka ketika makhluk itu berada di sampingku terkapar mati," terang Delvi.


"Bagaimana bisa?"


"Tentu bisa, saya diasingkan kurang lebih empat hari, ketika parakang itu merasa lapar dan tidak menemukan makanan, matilah dia. Tetapi, saya bersyukur jika dia tidak memakan saya," jawab Delvi.


"Alhamdulillah."


"Nak," sahut Suratih, dengan nada yang pelan dan begitu hati-hati.

__ADS_1


"Iyah, Bu?"


"Maafkan Ibu, Nak. Ibu telah lancang menghina dan membuat kamu malu, bukan hanya kamu, tapi orang tuamu pun juga merasakan hal yang sama. Saya memohon maaf untuk sebesar-besarnya, Nak."


"Bu, saya sudah memaafkan Ibu jauh-jauh hari, karena Ibu tidak sepenuhnya salah dan saya pun sebenarnya harus sadar diri jika tidak pantas untuk menjadi pendamping hidup Delvi dikarenakan saya seorang yang sederhana."


"Itu dulu, Nak. Tapi sekarang berbeda, penolakan itu kini menjadi perestuan agar kalian dapat bersatu."


...SELESAI...


Epilognya gantung? Maafkan author yang sengaja. Ini penutup yang indah bukan? Kalian bebas menentukan hasil akhirnya seperti apa hubungan mereka berdua.


Terima kasih telah membaca cerita ini dari awal hingga akhir cerita, apalagi kalian yang sampai menunggu kelanjutannya.


Kali ini author ingin bertanya dan kalian harus menjawabnya dikarenakan ini merupakan karya pertama saya yang bertema horor.


Bagaimana pendapat kalian tentang cerita ini?


Mudah bukan?


Salam dari saya Muhammad Taufiq


Mari berteman di instagram: @mhammadtaufiq


Btw, tidak ada ekstra part-nya.

__ADS_1


Akhir kata, As-salamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.


__ADS_2