The Secret Of Delvi

The Secret Of Delvi
Part 26


__ADS_3

"Jika diizinkan, saya pasti mau, Bu. Namun, saya tak bisa memaksakan perasaan Delvi yang tidak tertarik ke saya," balas Hendra dengan nada yang sedih.


"Kok bisa, Nak? Saya jadi tidak yakin nih kalau anak saya nggak suka sama kamu, padahal, muka kamu ganteng loh."


Hendra tertawa kecil. "Jelaslah, Bu. Saya kan laki-laki, jadi wajar kalau ganteng."


"Iyah tau, tapi gantengnya itu beda loh dari yang lain, bisa dibilang gantengnya kamu itu di atas pria lain." Perkataan Suratih semakin menjulang tinggikan hati Hendra, pria itu pun semakin senang dan percaya diri untuk mendapatkan hati Ibu Delvi terlebih dahulu agar dapat membujuk sang anak.


Orang-orang bilang, miliki dulu hati orang tuanya, baru anaknya. Batin Hendra.


"Jika saya direstui untuk menjadi suami Delvi saya akan menjamin kebahagiaan anak Ibu, terlebih lagi secara ekonomi yang terbilang sederhana ini, yaitu ... hanya sebuah mobil alphard yang baru saya beli bulan lalu." Hendra sengaja mengatakan hal itu, apa yang diucapkannya berhasil membuat Suratih terbatuk ketika hendak meminum sirupnya.


"Uhuk, mobil sederhana: alphard?" tanya Suratih tidak percaya, mobil yang dia beli saja, tidak semahal itu, dan Hendra mengatakan bahwa mobil alphard biasa saja?


Di sisi lain, Delvi pusing mencari soal yang telah ia tulis. Ke mana dirinya meletakkan lembaran kertas itu? Seingatnya, dia meletakkannya di atas meja.

__ADS_1


"Ish, mana sih? Tadi aku simpan di sini, masa menghilang?" gumamnya.


Di luar, basa-basi dari seorang Hendra berhasil memikat hati Suratih, apalagi mendengar ultimatum yang diucapkan Suratih barusan, "Kamu akan menikah dengan Delvi, Nak. Ibu yang langsung merestui kalian, urusan Delvi biar saya yang membujuknya nanti."


"Tapi, Bu. Saya agak takut jika Delvi mengira saya yang membujuk Ibu agar dapat menikahi Del-"


"Tenang, Nak. Itu, urusan Ibu dan Delvi gak bakalan tahu ini, percayakan saja, yah."


Hendra mengangguk, dengan hati yang bersorak ria di dalam sana.


"Maaf yah Pak kalau lama, tadi saya sempat lupa menyimpannya di mana. Saya baru menyelesaikan 25 soal, nanti malam akan saya lanjutkan, jadi selebihnya ... besok di pesantren saya bawakan," ujar Delvi dan Hendra menerima lembaran tersebut.


"Terima kasih, Bu. Kalau begitu saya pamit dulu yah, assalamualaikum."


"Eh, kok cepet, Pak. Kan saya belum buatin minuman."

__ADS_1


"Gak usah, Bu. Saya lagi buru-buru," balas Hendra.


"Baik, Pak. Kalau begitu hati-hati."


Hendra pun keluar dengan senyum kemenangannya dalam memperdaya hati Ibunya Delvi. Pria itu masuk dalam mobil dan dengan sengaja membunyikan klaksonnya tiga kali sebagai tanda pamit, padahal yang sebenarnya, dia ingin pamer kepada Suratih yang gila harta.


"Ternyata, Hendra itu baik yah, Nak. Orangnya juga tampan dan sangat beragama. Tadi, dia melantunkan ayat al-quran tanpa melihat kitab, wah ... menantu idaman. Ibu kepikiran mau jodohin kamu sama Hendra, mau kan, Nak?" Pertanyaan dari Suratih membuat Delvi terkejut, Delvi pun menggeleng karena dia tidak mau menikah dengan Hendra--karena dia tidak mencintainya--yang ada dalam hati Delvi, hanya satu orang, yaitu Tamrin.


"Maaf, Delvi nggak suka sama Hendra, Bu. Ada pria lain yang sudah memikat hati Delvi dan orang itu belum bisa Delvi beritahu."


...🍏🍏🍏🍏...


Memanfaatkan harta untuk memiliki hati Suratih adalah cara yang berhasil dilakukan oleh Hendra.


Jangan lupa like dan komentar.

__ADS_1


__ADS_2