The Secret Of Delvi

The Secret Of Delvi
Part 40


__ADS_3

"Waalaikumsalam. Setelah menancapkan duri dalam hati saya, apakah itu tidak cukup untuk menambah serpihan kaca sebagai pelengkapnya?" tanya Tamrin, dengan tatapan yang tajam.


Delvi menatap Tamrin sendu, mata pria itu membengkak di bagian bawah, dia tahu bahwa ini pertama kalinya ia melihat pria tersebut benar-benar menangis karena jatuh.


"Bukan luka, melainkan saya ingin menyembuhkan luka itu agar tidak menimbulkan rasa kebencian ketika saya telah tiada," jawab Delvi, sebelum mendengar balasan dari Tamrin, dirinya pun melanjutkan ucapannya kembali, "maaf, derita parakang harus aku tanggung setelah mengetahui bahwa ilmu hitam itu telah bersemayam dalam tubuhku semenjak lama. Dua hari yang lalu, sosok itu menampakkan diri melalui cermin ketika dirinya merasa kesakitan kala aku meminum air pemberian darimu, Mas Tamrin. Di hari sebelumnya pun, ada perkataan yang membuat saya harus menolak lamaran ini."


Napas Tamrin tersekat, seorang parakang? Bagaimana mungkin? Dan apakah bentuk kecurigaannya kemarin adalah hal yang nyata?


"Jangan berbicara dulu, karena sosok yang bersemayam itu mengungkapkan jika dirinya akan meneruskan ilmu hitam ini ke keturunan kita. Dan Mas pasti tahu apa maksudnya itu, kan? Jadi ... tak perlu aku lanjutkan lebih jauh, bahwa inilah alasan utama jika diriku menolak lamaran tersebut. Tapi, jika ditanya persoalan cinta, saya berbohong tadi, karena dalam hati saya, saya amat mencintai Mas Tamrin." Jatuhlah air matanya yang kini tak dapat terbendung lagi, Delvi menangis sekencang-kencangnya, menutup mulut dengan jilbabnya agar suaranya terpendam, tapi percuma, dirinya tak mampu menahannya.


"Maaf, Mas. Maaf atas hinaan yang telah saya lakukan bersama ibu saya. Saya tahu Mas dan orang tua Mas pasti malu dan merasa terhina, tapi aku terpaksa melakukan itu. Jadi kumohon, maafkan diriku sebelum aku benar-benar menghilang dari muka bumi ini," pinta Delvi dengan penuh harap.


"Untuk apa meminta maaf? Maafku selalu terbuka Delvi. Setelah mengetahui ini, saya menjadi lega jika kamu masih mencintai saya, dan ... jangan kira jika dirimu merupakan parakang, cinta saya akan hilang? Tidak, saya tetap mencintai kamu, Dek. Sampai kapan pun." Sebuah kode bahwa Tamrin kembali melamar Delvi secara tersirat.


"Maaf, aku tidak bisa menikah denganmu. Ilmu tak akan pernah hilang dan akan terus menerus hingga saya meninggal, jadi ... saya memutuskan untuk pergi, Mas."


Tamrin ingin menahan Delvi, sayangnya Delvi menggeleng dan menyegah langkah pria tersebut dengan peringatan, bahwa dia akan membencinya seumur hidup jika ia mendekat.


"Delvi, saya bisa memperingatkan pula, jangan sampai melakukan hal itu!"


Delvi hanya tersenyum kemudian berbalik lalu kembali ke rumahnya.


Pintu pun dibukanya dan langsung mendapati sang ibu yang ada di hadapannya, Delvi membatin bahwa inilah waktunya agar dia tahu bagaimana wajah ibunya ketika suatu rahasia dalam dirinya terungkap.


"Bu, aku ingin berbicara serius. Ini mengenai masa depanku."

__ADS_1


Delvi menarik ibunya dengan pelan ke kursi, ia menatap Suratih dengan lekat juga tajam. "Terima kasih telah membuat putrimu sendiri menjadi parakang, karena Ibu, aku terpaksa menolak lamaran Mas Tamrin."


"Apa maksudmu, Nak?"


"Tidak perlu berpura-pura, Bu. Karena Ibu, aku harus menjadi makhluk jadi-jadian itu. Aku hancur, termasuk masa depanku sendiri, hiks.   Apa yang dikatakan oleh Mas Tamrin semuanya benar, kami sepakat dengan uang panaik 50 juta karena aku mengatakan: semampu Mas saja, tapi ... setelah mengetahui hal yang bersemayam dalam diriku, aku memutuskan untuk menolak lamaran tersebut."


"Ini tidak mungkin! Dukun itu tidak menjelaskan apa-apa, Nak!"


"Aku sudah mengatakan sebelumnya bahwa kita tidak boleh melakukan hal itu, tapi Ibu tetap memaksa karena buta akan kekayaan, dan juga malu karena tidak ingin menerima kenyataan bahwa kita hanyalah keluarga yang sederhana. Yah, kita memang kaya, tapi setelah ayah meninggal, kini Ibu bebas berbuat apa pun, bahkan sampai melakukan kesyirikan!"


Mereka berdua tidak sadar, terutama Delvi yang memancing kedatangan para tetangga yang kini berada di depan rumahnya.


Suaranya terdengar nyaring dan membentak, sampai-sampai orang dari pesantren pun datang atas panggilan salah satu warga yang melapor.


"Ada apa di dalam?" tanya Hendra.


Hendra dengan cepat melangkah dan ingin mengetuk pintu rumah Delvi, akan tetapi ... Tamrin menghalangi pria tersebut dengan perkataan, "Saya pun terlibat dalam permasalahannya, Pak. Mohon mundur dan biarkan saya yang melakukannya."


Hendra mengerutkan kening, Tamrin juga terlibat dalam permasalahan di keluarga Delvi? Secara paksa, Tamrin menendang pintu rumah dan melihat Delvi yang tengah menuntut ke ibunya.


"Ini semua gara-gara Ibu yang membuatku menderita karena menjadi parakang!"


Para warga yang mendengarnya terkejut.


"Delvi!"

__ADS_1


Delvi menangis, orang-orang kini memandang takut. Dengan cepat dia masuk dalam kamar lalu mengambil kopernya untuk pergi dari kampung ini.


"Para warga, maafkan saya jika ada perbuatan yang membuat kalian sakit hati. Karena mengetahui diri saya yang seperti ini, saya akan mengasingkan diri dan pergi sejauh-jauh mungkin agar tidak mengganggu ketenangan kalian. Assalamualaikum."


Tamrin dan Hendra, pria itu menahan langkah Delvi.


"Kamu tidak bisa pergi tanpa saya, Delvi. Tolong, hentikan niatan kamu."


"Tak ada yang bisa menghentikan saya kecuali Sang Pencipta!" balas Delvi tegas.


"Bu, jangan pergi. Kemungkinan Pak Hendra bisa menyembuh-"


"Omong kosong, tidak bisa!" bentak Delvi. Dan kini, dirinya sudah masuk dalam mobil ketika ibunya pun telah menyusulnya terlebih dahulu.


Semuanya telah terungkap, dengan kepergian Delvi di kampung tersebut, membuat para warga kini menjadi tenang dari makhluk aneh yang sudah pergi. Namun di sisi lain, mereka tak menyangka jika Delvilah orangnya. Akan tetapi, penjelasan Tamrin membuat mereka semua mengerti, bahwa bukan Delvi yang melakukan penyulikan anak tersebut, melainkan ada parakang yang sebelumnya telah mereka musnahkan.


...THE END...


Cerita Di Balik Kecantikan Delvi sudah habis sampai di sini, terima kasih kepada kalian yang telah meluangkan waktu untuk mengikuti kisahnya.


Cerita ini belum berakhir, masih ada epilog yang akan menjelaskan lebih lengkap.


Untuk itu, silakan like dan komentar.


Terima kasih.

__ADS_1


See you next part.


__ADS_2