The Secret Of Delvi

The Secret Of Delvi
Part 21


__ADS_3

Terkait dengan pasar. Hendra dan Tamrin hanya diam memerhatikan Delvi yang sedang memilih ikan, setelah itu menuju penjual sayur yang di mana-mana mempromosikan sayur mereka: segar dan tidaknya, kedua pria itu bingung memilih yang mana, membuat Delvi tersenyum geli dan mengambil alih semuanya.


Sungguh malu kedua pria itu yang kurang tahu mengenai pasar, ketika berbelanja, keduanya akan langsung membeli tanpa ada tawaran sama sekali, lain halnya dengan seorang wanita yang memang pandai dalam hal itu.


Keluar dari pasar, Tamrin pun pamit dengan ucapan terima kasihnya beserta salam sebagai penutup pertemuan mereka.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Waalaikumsalam. Hati-hati Mas Tamrin."

__ADS_1


Tamrin mengangguk, kemudian naik ke jok motornya lalu melaju. Delvi pun menyusuli Hendra yang masuk ke mobilnya.


Di perjalanan, mereka berdua berbincang kecil dengan laju mobil yang sedikit dilambatkan oleh Hendra.


"Wah, terima kasih yah. Untung ada Ibu Delvi, kalau nggak, saya mah asal beli, he he he."


"Sama-sama, Pak. Insya Allah, kalau mau ke pasar titip saja ke saya, nanti saya belikan yang akan Pak Hendra butuhkan," balas Delvi. Ini merupakan penolakan secara halus yang tentunya tidak disadari oleh Hendra, karena Delvi tidak enak berduaan dengannya. Bukan apanya, para warga akan curiga dan membicarakan hal yang tidak-tidak, ini berkemungkinan besar untuk menimbulkan fitnah dan memutuskan tali persaudaraan, sungguh ... Delvi tidak ingin hal itu sampai terjadi.


"Pak Hendra tidak merepotkan kok, malah saya yang selalu ngerepotin Bapak. Lain kali, Bapak tinggal nitip saja, biar saya belikan," kukuh Delvi dengan penolakan yang halus, Hendra menghela napas kecil, kini dirinya menyadari hal itu dan terpaksa mengangguk.


Mobil pun berhenti di depan rumah Delvi, ucapan salam beserta lambaian tangan tentu dibalas oleh Hendra sebelum dia melajukan mobilnya dan benar-benar menghilang dari pandangan wanita tersebut. Kepergian Hendra, menciptakan kelegaan untuk Delvi, bukan berarti dia tidak menyukai Hendra, dia suka (dalam artian teman). Namun, jika mereka terus berdekatan, ada yang ditakutkan olehnya, yaitu, salah satu di antara mereka ada yang tertarik, lebih tepatnya untuk Hendra sendiri, karena sudah jelas Delvi akan menolak, hal itu disebabkan oleh rasa suka dari wanita tersebut ke lain orang, yaitu Tamrin.

__ADS_1


Lamunan Delvi terpecahkan saat Haura menghampirinya dengan salam disertai tepukan di pundaknya, ucapan istigfar spontan terucap dari bibirnya dengan elusan di dada yang menenangkan degupan jantung berdetak cepat.


"Maaf, saya lagi melamun," ucap Delvi tersenyum, lupa membalas salam Haura, membuat wanita di depannya geleng-geleng.


"Ibu, balas salam dulu," ucapnya sopan, Delvi lagi-lagi beristigfar kemudian membalas ucapan Haura.


"Waalaikumsalam. Maafkan saya yang sedang melamun Bu Haura."


"Lain kali jangan seperti itu, Bu. Dilihatin sama orang-orang, memangnya, apa sih yang Ibu Delvi pikirkan?" tanya Haura penasaran, mendapati wajah malu Delvi karena ketahuan melamun.


"Bukan apa-apa kok, Bu."

__ADS_1


Haura tersenyum. "Hm, pasti ada hubungannya sama Ustaz Hendra nih. Saya lihat loh barusan kalau Ibu Delvi habis diantar sama Ustaz itu. Ekhem, ada benih-benih cinta nih, dan yang saya lihat, Ibu memang cocok sama Ustaz Hendra, apalagi di pesantren sebelumnya yang Ustaz Hendra sendiri terang-terangan menyukai Ibu, itu gosip hangat loh di ruang guru," ujar Haura, membuat Delvi tidak menyangka jika dirinya menjadi buah bibir di sana.


__ADS_2