
"Sebenarnya, saya ingin melamar Ibu Delvi secepatnya. Namun, hati saya juga ragu jika Ibu Delvi menyukai saya atau tidak? Tapi mendengar perkataan Ibu Hamzah baru saja, membuat semangat saya timbul dan lebih percaya diri, terima kasih, Bu."
"Sama-sama, Pak. Saya harap, secepatnya Bapak untuk melamar Delvi segera, sebelum Pak Hendra melangkahi tindakan Bapak. Kalau begitu, saya pamit, assalamualaikum," tutup Hamzah.
"Waalaikumsalam." Seperginya wanita tersebut, Tamrin dibuat berpikir keras bahwa apa yang dia katakan memang benar adanya. Secara terang-terangan, Hendra tak tanggung-tanggung menunjukkan rasa sukanya terhadap Delvi yang kerap membuatnya cemburu. Maka dari itu, hati Tamrin sudah paten untuk mengungkapkan rasa sayangnya kepada Ibu Delvi.
Tamrin mengembuskan napas kemudian meninggalkan masjid lalu menuju rumahnya. Sampai di sana, ia membersihkan diri terlebih dahulu lalu bersiap-siap untuk ke rumah Delvi. Perasaannya jelas begitu gugup dan agak ragu untuk menyampaikan perasaannya, tetapi ... perkataan Ibu Hamzah terngiang-ngiang dalam pikirannya bahwa dia harus cepat bertindak agar langkahnya tidak disambar oleh Pak Hendra.
"Basmalah." Tamrin memejamkan mata sejenak, kemudian membuka matanya lalu keluar dari rumah dan menuju rumah pujaan hatinya.
Ia mengetuk pintu sebanyak tiga kali. "Assalamualaikum." Dan tidak lama kemudian, wajah yang sedikit pucat itu tersenyum menyambutnya dengan jawaban, "Waalaikumsalam, Mas Tamrin."
__ADS_1
Tamrin dipersilakan masuk, ketika dirinya telah duduk, Delvi menatapnya dengan wajah yang penasaran. Rasa gugup kembali menerpa hatinya, dan lidahnya terasa gagap dan kelu untuk menyampaikan kalimat yang pendek-tidak romantis-baginya kepada Delvi.
Ya Allah, lancarkanlah. Bismillah.
"Ibu Delvi, kedatangan saya di sini sungguh membuat Anda tidak menyangka nantinya, karena ada hal yang penting begitu ingin saya sampaikan sejak lama dari hati yang paling dalam. Akan tetapi, mulut saya begitu pengecut untuk sekadar melontarkannya, tapi kali ini, dengan dukungan seseorang yang telah lama memerhatikan perasaan yang saya tutupi namun ia ketahui, maka dari ini saya begitu yakin untuk menyampaikannya di waktu sekarang." Delvi salah fokus, salah fokus terhadap wajah Tamrin yang sangat serius di banding biasanya, entah kenapa ... Delvi pun deg degan sekarang ini ketika tatapan pria di depannya begitu tajam dan menyorotinya.
"Mas Tamrin, jangan sungkan-sungkan untuk menyampaikannya, saya akan bantu sebisa saya jika ada yang Mas Tamrin butuhkan," balas Delvi.
Tamrin tersenyum. "Saya membutuhkan hati Ibu Delvi. Maka dari itu, apakah Ibu siap menjadi pendamping hidup saya?"
"Bu Delvi? Maaf jika saya terburu-buru dalam mengungkapkannya. Mungkin, Ibu tidak nyaman dengan ungkapan saya?"
__ADS_1
Delvi menggeleng lemah. "Sa-saya malu Mas Tamrin. Saya tidak tahu harus menjawab apa selain kata iya."
"Tunggu, Bu. Tolong dikatakan lebih jelas lagi. Soalnya saya ingin mengetes, apakah pendengaran saya baik atau tidak," ucap Tamrin ingin memastikan.
"Iya, Mas Tamrin. Saya siap menjadi pendamping hidup ANDA!" tegas Delvi, membuat hati Tamrin membuncah.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah."
...BERSAMBUNG...
YES? atau ada yang tidak setuju jika mereka berdua disatukan?
__ADS_1
Puncak dari perasaan yang tertahan, akhirnya membuah dengan manis di ujung pengungkapan dalam satu kali penyampaian.
Begitulah Tamrin dalam mengejar cintanya. Perlahan. Namun pasti.