
Delvi, kamu harus cepat mendapatkan laki-laki yang tampan dan berakhlak baik, Nak. Agar kamu dapat keluar dari dunia yang ibu tekankan sendiri untukmu, di mana, kamu tak dapat bebas. Mengerti?
Pesan itu, sering menghantui pikiran Delvi saat mengajar, dirinya tak dapat bebas dari pengawasan ibunya jika belum mendapatkan calon suami, sebenarnya ... dirinya pun tidak tahu, apa alasan ibunya sehingga dia terus dikekang, dan ini pertama kali untuknya bebas, itu pun berada dalam lingkup pesantren.
"Ustazah Delvi, kenapa melamun?" Lamunannya terbuyar ketika santri bertanya, Delvi tersenyum dan menerima buku santri tersebut dan memeriksa hasil kerja dari soal yang dia berikan.
"Pertahankan yah, Nak," ucap Delvi, mengembalikan buku tersebut pada santrinya.
"Baik Ustazah, terima kasih."
Lamunan Delvi lagi-lagi berlanjut, dia melamunkan dirinya dengan Ustaz Tamrin ketika menikah nanti, Delvi benar-benar jatuh cinta kepada pria itu. Namun, rasa malunya untuk mengungkapkan cintanya masih besar.
__ADS_1
Di bagian lain, Hendra berkeliling pesantren saat dirinya tak ada jam mengajar, waktu istirahatnya dimanfaatkan untuk mencari keberadaan Delvi agar dia semakin dekat dengan perempuan idamannya.
"Assalamulaikum," salam Hendra setelah mengetuk pintu kelas dan di saat itu pula Delvi menutup kelas dengan ucapan salam pula.
"Waalaikumsalam. Ada apa, Ustaz?" tanya Delvi menghampiri Hendra, Hendra tersenyum lali menjawab, "Ustazah Delvi, ada waktu sebentar? Saya ingin berbicara dengan Ustazah."
Delvi mengangguk. Dia ada waktu karena jam mengajarnya pun sudah selesai untuk hari ini, berlanjutlah mereka menuju di bawah payung halaman pesantren.
"Selama seminggu ini, bagaimana perasaan Ustazah mengajar di sini?"
"Alhamdulillah, saya merasa nyaman dan mulai terbiasa, juga ... banyak ilmu tambahan yang saya dapatkan, beserta orang-orang yang selalu mengajarkan saya akan ilmu agama yang lebih luas lagi, terutama kepada Ustazah Hamzah dan Ustaz Tamrin," jawab Delvi, nama orang di akhir kalimatnya, mengubah mimik wajah Hendra sekilas tidak suka, tetapi hanya sebentar ketika Delvi hampir menangkap basah ekspresi wajahnya itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah yah, Ustazah. Kalau ada yang ingin ditanyakan juga, silakan bertanya kepada saya, sebisa mungkin, saya akan menjawab apa yang Ustazah belum tahu." Di balik kebaikan itu, tentunya ada tujuan tersendiri dari seorang Hendra agar dapat mendekati Delvi, juga memikat hatinya secara perlahan.
"Terima kasih, Ustaz Hendra. Kalau begitu, saya ke ruang guru dulu, tidak baik berduaan seperti ini, nanti mengundang kecurigaan para santri, ustaz dan ustazah lainnya, tentu itu tidak baik. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Ustazah Delvi, maaf bila selalu mengganggu waktumu, rasa ketidaknyamanan mungkin terbesit dalam dirimu dan juga engkau siratkan kepadaku, tapi ... hal itu merupakan awal pendekatan saya kepada Anda." Hendra menghela napas, perjuangan untuk memiliki seseorang, memang begitu panjang dan berlika-liku, apalagi mengetahui jika dirinya memiliki saingan, yaitu Ustaz Tamrin, serta pahitnya kenyataan yang ia ketahui bahwa Ustazah Delvi menyukai pria tersebut.
......°•°•......
Halo, bagaimana dengan part ini? Maaf jika setiap part itu agak pendek, tapi author bakalan rajin up, atau langsung up semuanya.
__ADS_1
Thanks.