The Secret Of Delvi

The Secret Of Delvi
EKSTRA PART (43)


__ADS_3

MAAF, CUMAN BERCANDA WAKTU AUTHOR BILANG GAK ADA EKSTRA PART. 🤣


Tapi untuk promosi cerita, itu serius, nanti akan author up ceritanya di next update khusus bagi kalian yang beruntung.


Happy Reading.


...Kamu penerang hati saya. ...


Rasa kecewa yang sempat dialami oleh Tamrin, kini tergantikan oleh perasaan yang membuncah ketika dirinya telah mempersunting Delvi. Walau sempat terjadi sedikit permasalahan ketika Haura melontarkan perasaannya ke Tamrin.


Hal itu terjadi sebelum Tamrin dan Delvi menikah, di mana gadis tersebut mendatangi Tamrin di rumahnya dan menyampaikan perasaannya secara malu-malu.


"Asalamualaikum, Ustaz." Ketukan tiga kali, akhirnya pintu dibuka dan menampakkan Tamrin yang sedang tersenyum kecil ke wanita tersebut.


"Waalaikumsalam, Ibu Haura? Silakan masuk."


"Terima kasih."


Haura memejamkan matanya ketika dia telah duduk di kursi dan berhadapan dengan pria yang ia sukai sejak lama.


"Ustaz, ada yang ingin saya sampaikan ke Anda, tapi ... sebelum itu, saya mohon agar Ustaz tidak marah setelah mendengarnya," ujar Haura.


"Ibu Haura, bicaranya enggak perlu formal, lagipula kita sudah kenal juga di pesantren, jadi bicara sebiasa mungkin, juga tenangkan diri Ibu, saya lihat, sepertinya Ibu sedang gugup sekarang," balas Tamrin. Haura pun salah tingkah, jelas dirinya gugup karena ia akan mengungkapkan sesuatu yang mendebarkan kepada pria itu.


"Begini, Mas. Tapi sebelumnya, aku mohon jangan marah yah," pinta Haura.


Ketika mendengar panggilan mas, Tamrin agak sedikit kurang nyaman atau merasa janggal, kemungkinan dirinya lebih suka jika Delvi yang memanggilnya dengan sebutan itu. Tapi, Tamrin berusaha memaklumi dengan senyuman tipisnya.


"Iyah, Bu. Saya gak akan marah."


Haura menghirup rakus udara kemudian mengembuskannya dengan pelan, lalu berkata, "Sudah lama, saya menyukai Mas Tamrin, dan saya tidak bisa menahan perasaan ini untuk tidak mengungkapkannya ke kamu, apakah saya salah mencintai Mas Tamrin?"


Tamrin tidak percaya ini, Haura mengungkapkan perasaannya tepat di mana dia telah melamar Delvi? Maksudnya, apakah Haura sekarang ini tidak malu? Atau tidak takut jika seseorang mendengarnya dan mencap Haura sebagai perusak hubungan orang lain atau pelakor? Tamrin harus mengurus hal ini secepatnya.

__ADS_1


"Saya tidak bisa menyalahkan perasaan Ibu Haura, akan tetapi ... saya pun dengan penuh memohon agar Ibu Haura mengubur perasaan itu karena Ibu sudah tahu jika saya sebentar lagi, akan menikah dengan Delvi," balas Tamrin dengan pelan, tak ingin membuat Haura tersentil hatinya, atas penolakannya secara langsung.


"Terima kasih, Mas. Saya sudah lega sekarang, tak ada niat secuil pun untuk merebut Mas dari Ibu Delvi, niat saya hanya ini, yaitu mengungkapkan perasaan yang sering menghantui pikiran saya jika tidak memberitahunya ke Mas Tamrin," balas Haura. Tamrin menghela napas lega, lalu membalas pula, "Sama-sama dan terima kasih kembali, Bu."


"Kalau begitu, saya pamit dulu yah, Mas. Asalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Mengingat kejadian itu, membuat Tamrin sangat lega karena Haura tidak mengikuti hawa napsunya atau bisikan setan yang kemungkinan dapat menghancurkan hubungannya dengan Delvi di waktu tersebut.


"Mas, kok melamun?" tanya Delvi, Tamrin pun tersadar, kemudian tersenyum ke istrinya.


"Lagi lamunin Ibu Haura, Bu. Yang waktu i-" Tamrin menghentikan ucapannya ketika melihat raut wajah istrinya yang berubah tiba-tiba.


"Sa-sayang, jangan salah paham, permasalahan waktu itu, di mana dia ngungkapin perasaannya, kamu jangan cemburu yah," bujuk Tamrin. Namun Delvi tetap diam, membuat Tamrin sedikit khawatir karena nanti malam merupakan hal yang indah untuknya agar pikirannya menjadi tenang dan rileks, juga merasa segar dari biasanya.


"Bu, jangan marah, nanti Mas beliin bakso, mau kan?"


"Mas, kenapa mikirin Ibu Haura? Istigfar, kalau itu dipikirin terus bisa-bisa hati Mas dibisikin setan terus khilaf nantinya," jawab Delvi.


"Gula-gula, gula-gula, gula-gula, gula ... , yang manis," balas Delvi, melantunkan sepenggal lirik lagu gula-gula dari Elvy Sukaesih.


Tamrin tertawa kecil, begitupun dengan Delvi yang mengecup pipi suaminya. "Mas Tamrin kok bikin gemas yah kalau kelihatan panik gitu? Aku cuman bercanda kok, hm ... tumben khawatir banget?"


Tamrin menggaruk tengkuknya, ia terkekeh kemudian menjawab, "Bu, kan nanti malamnya indah banget, jadi ... boleh yah?" tanya Tamrin balik dengan wajah yang agak malu-malu dan penuh pinta.


Dengan jahil, Delvi pura-pura berpikir, "Hm, gimana yah?" Delvi melirik tatapan suaminya yang benar-benar menanti, ia pun melanjutkan perkataannya dengan, "mana mau sih aku menolak Mas Tamrin? Takut ih, nanti dikutuk sama malaikat sampai subuh, kan gak mau akunya," ujarnya dengan nada merinding. Tamrin yang mendengar hal itu langsung membalas, "Itu, kamu tau," tak lupa dengan kerlingan matanya yang menyambut, membuat Delvi tertawa geli.


"Mas Tamrin mesum!"


Ke esokan harinya, setelah pasutri tersebut sarapan pagi, mereka pun menuju pesantren bersama dan itu setiap hari dilakukan. Bagaimana dengan orang tua Tamrin dan Delvi? Untuk orang tua Tamrin, ia berada di kampungnya, begitupun dengan Suratih yang pulang dua hari yang lalu. Mereka memilih untuk tetap tinggal di kampung munawarah, selain mereka bekerja, di sana pun keduanya merasa nyaman, jadi Tamrin dan Delvi akan menetap di kampung ini.


"Aduh ... romantisnya pengantin baru yang tampak lebih bersinar di banding biasanya, benarkan Pak Hendra?" tanya Hamzah, menyambut kedatang mereka, lalu bertanya ke Hendra yang hanya tersenyum biasa saja. Sejujurnya, Hendra masih sedikit tidak menerima dengan kenyataan yang ada ketika hadir di pernikahan Tamrin dan Delvi, karena hatinya masih berlabuh ke wanita tersebut.

__ADS_1


"Ustaz Hendra kok diam saja?"


"Eh, iyah Ustazah, mereka semakin romantis, dan itu tandanya ... Ustaz Tamrin dan Ustazah Delvi jelas bahagia, langgeng terus yah, aamiin," jawab Hendra.


Ketika mendengar jawaban pria di sampingnya, Hamzah sedikit tidak yakin dengan perkataan Hendra jika disangka tulus, karena ia pun tahu bahwa pria itu tidak rela atas Delvi yang dinikahi oleh Tamrin.


"Aamiin, terima kasih Pak Hendra," balas Tamrin. Sementara Delvi kini melangkah ke tempatnya, di samping Hamzah dan Haura.


"Asalamualaikum, Ustazah," sapa Delvi.


"Waalaikumsalam," balas Haura, juga sifatnya sama dengan Hendra yang sedikit tidak rela dengan Tamrin yang menikahi Delvi.


"Lancar yah Bu?" tanya Haura. Delvi mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Lancar apanya, Bu?"


"Alhamdulillah, lancar urusan rumah tangganya dan mampu membuat Ustaz Tamrin bahagia, semoga langgeng terus yah, hati-hati, jangan terlalu menjaga, nanti bosan loh suaminya," jawab Haura, menunjukkan kesan tidak bersahabat dengan Delvi.


"Aamiin, Insya Allah, saya tidak selalu mengekang suami saya, Ustazah, selama yang dia lakukan baik," balas Delvi.


Hamzah yang mendengar itu, lantas menyahut dan menyinggung Haura, "Hm, bener, selama baik dan tidak mengganggu urusan orang lain atau berniat bermain belakang yah, Bu Delvi? Apalagi sampai-sampai berniat untuk merebut pasangan orang lain, hm ... naudzubillah, saya gak bisa bayangin." Dalam hati, Hamzah puas dengan perkataannya, karena Haura nampak jelas begitu tersentil atas singgungannya.


"Astagfirullah, semoga gak gitu yah Ustazah, jangan sampai." Delvi beralih menatap suaminya, kemudian berucap,  "Mas Tamrin jangan sampai selingkuh yah, kalau sampai selingkuh, sa-"


"Tenang, Bu. Cinta saya takkan terbagi," potong Tamrin, membuat suasana di ruang guru, langsung beramai akan ucapan Tamrin yang membuat Delvi malu-malu seketika.


"Gemas sekali, saya juga pengen digituin sama suami saya," sahut Hamzah, dan disambut tawa oleh yang lainnya, kecuali Haura yang kini jengkel.


...ლ(́◉◞౪◟◉‵ლ)...


Ektra part kedua akan menyusul, terima kasih telah membaca cerita ini.


See you next part.

__ADS_1


Btw, maap baru update dan bikin kejutan hehehe.


__ADS_2