The Secret Of Delvi

The Secret Of Delvi
Part 16


__ADS_3

Sebelum membaca, ada hal yang ingin saya sampaikan, kepada readers: mohon maaf apabila di setiap part author selalu meminta like ataupun komentar, mengapa? Dengan like atau sekadar komentar saja, itu sangat luar biasa untuk mendorong motivasi saya selaku pembuat karya ini, bukan saya doang kok, begitupun dengan penulis-penulis lainnya.


Maaf apabila hal tersebut mengganggu mood membaca kalian.


Thanks, happy reading.


"Mau saya buang jamunya, Bu. Bakulnya saya ambil dan bakar setelah pulang dari pesantren nantinya."


Setelah membuang semua jamu yang ada di botol, dirinya membuang pula botol tersebut ke sembarang arah, yang tentunya ia lempar sejauh mungkin.


"Bu, pegangin bakul ini yah."


"Baik, Ustaz."


Mereka pun melanjutkan perjalanan, meninggalkan kucing yang terkapar di balik rerumputan yang tinggi. Yah ... parakang tersebut sedang sekarat dan cacat karena tendangan dari Tamrin yang kerasnya bukan main, entahlah, di kampung munawarah akan ada berita yang menggemparkan nantinya.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah Bu Lasmini, ibu tersebut meminta sendiri bakul milik parakang yang dipegangnya, "Ustaz, biar saya saja yang membakarnya sekarang, mumpung ada korek gas dan minyak tanah dalam rumah," ujarnya dan Ustaz Tamrin mengangguk, dia pun ikut membakar bakulnya.


"Kalau begitu saya kembali ke pesantren yah, Bu. Ingat, airnya selalu diminum, selalu beribadah dan memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa, Insya Allah, Ibu dilindungi oleh-Nya."


"Aamiin, terimakasih, Ustaz."


"Sama-sama, Bu. Assalamualaikum."


Di pesantren sendiri, guru-guru masih memperbincangkan parakang dan ibu hamil itu, untunglah Tamrin cepat melihatnya dan mengatasi makhluk jadi-jadian tersebut.


"Hm, memang beruntung, dan saya sudah menebak siapa yang akan Ustaz Tamrin persunting nantinya, dan orang itu ada di sini," balas Hamzah, menimbulkan rasa penasaran ke guru-guru lainnya.


"Siapa Ustazah?"


Sebelum Hamzah menjawab, terdengarlah suara Hendra yang melantang , "Tentu Ustazah Haura sendiri, benarkan Ustazah Hamzah?"

__ADS_1


Sontak, Haura terkejut dan seketika pipinya memerah. "Ustaz Hendra ada-ada saja, mana mau Ustaz Tamrin sama saya," balas Haura.


"Jangan mengecilkan diri sendiri, siapa tau jodoh, kan Ustazah Hamzah?" tanya Hendra, Hamzah mengangguk terpaksa karena merasa tidak enak dengan Haura, apalagi melihat senyuman malu dari wanita tersebut.


Jujur, Hamzah sedikit kesal kepada Hendra, karena orang yang akan dia sebut adalah Delvi. Yang Hamzah lihat, Tamrin dan Delvi begitu cocok dan serasi, keduanya terlihat saling melengkapi: Tamrin yang perhatian begitupun dengan Delvi, hanya saja ... Delvi masih malu-malu menunjukkan rasa itu.


Bagaimana dengan Delvi? Terbesit kekecewaan dan patah hati kecil dalam diri ketika mendengarnya. Namun, tidak terlarut dalam, karena Delvi mampu menutupinya dengan senyuman dan memberi dukungan ke Haura.


"Aamiin yah, Ustazah Haura. Jodoh gak bakalan ke mana."


^^^BERSAMBUNG^^^


Wah, wah, Delvi cemburu nih di sini, tapi ... dia nggak bisa berharap lebih karena belum tentu Tamrin menyukainya juga, jadi, Delvi hanya selalu berdoa agar ia dapat disatukan dengan pria itu.


Sementara Hendra, dia puas dengan apa yang diucapkannya tadi, karena dia tahu bahwa Hamzah akan menyebut nama Delvi dan dia tidak suka akan hal itu, karena dia menyukai Delvi.

__ADS_1


^^^Jangan lupa like dan komentar, juga share ke teman-teman wattpaders kalian, see you next part and thanks for reading. 😁^^^


__ADS_2