The SMK

The SMK
The SMK•|14


__ADS_3

[ QUOTE'S-> Merangkai kata dalam sunyi, melakukan perbuatan dengan hati-hati, kadang hidup tak sesuai ekspektasi namun tetap harus berjuang menggapai mimpi-minpi]


" Tante Khai puyang duyu ya, nanti kalo Tante kangen telpon aja lewat, Ayah ato bunda kalo macih gak bisa lewat Tante Zala aja" Ayu hanya tersenyum dan mengangguk. mendengar celotehan dari bocah gembul itu.


Zahra langsung menggandeng tangan keponakannya bisa tak jadi pulang ia, jika celotehannya berlanjut. " Yaudah Ay kita pulang dulu Assalamualaikum"


" Wa'alaikumussalam, dada..." Ayu melambaikan tangannya, seminggu ibunya pergi entah apa yang dilakukannya di Surabaya sampai detik ini tega meninggalkan Ayu.


Tanpa pikir panjang Ayu mengeluarkan ponselnya dan memesan tiket kereta ke - Surabaya, Ayu membuka lemari mengeluarkan tas dan mengemasi beberapa baju, mengunci semua jendela dan pintu ia langsung meluncur ke stasiun.


**


Ayu mengibaskan tangannya demi menghalau hawa panas yang menyengat kulit kini ia sudah sampai di Surabaya, ia clingukan pasalnya ia tak tahu keberadaan sang ibu tinggal dimana, tujuan utamanya adalah rumah Diah.


Namun kini perutnya berteriak meminta makanan dan asupan bagi cacing-cacingnya, Ayu melihat diseberang jalan ada tukang cilok gerobak biru langsung ia hampiri, menoleh ke kanan dan ke kiri dirasa jalanan lengang baru ia menyebrang " Bang ciloknya lima rebu ya" tak membutuhkan waktu lama cilok sudah ada di tangan Ayu.


Ia duduk tak jauh dari Abang cilok menusuk cilok itu, ternyata diseberang jalan ada bapak-bapak botak yang makan bakso. Ayu menyandingkan cilok itu dengan kepala bapak itu🤣🤣


" cilok makan bakso, xixixixi" cicitnya tak ada yang mendengar karena suaranya yang sangat pelan, orang yang melihat Ayu pasti mengira bahwa ia merupakan orang dengan gangguan jiwa.


Tak lama ada mobil yang berhenti tepat di depan Ayu, turunlah seorang wanita dengan blouse warna hitam yang Ayu tahu itu bukan sembarang blouse.


Wanita itu menggenggam. tangan Ayu " Ngapain kamu disini?" tanya wanita berkacamata hitam itu.

__ADS_1


Ayu mengerutkan keningnya merasa apa hubungannya dengan wanita itu toh ia juga tidak mengenalnya " Apa-apaansi ya suka-suka gue lah mau gue disini mau gue disana juga bukan urusan Lo" tangannya berusaha lepas dari genggaman wanita itu.


" Ooh mulai kurang ajar yaa sama orang tua Lo gue" balas wanita itu dengan nada sedikit tinggi.


" Ohh anda mengakui bahwa anda sudah tua ya, bagus deh jadi inget umur ati-ati dah udzur banyakin istighfar daripada ngurusin idup orang"


" Mak Kambing....!" Varo keluar dari mobil itu


Ayu mengerjap-ngerjapkan matanya melihat Varo yang berada di hadapannya itu " curuut" cicitnya berarti yang ia maki adalah Bu Indi? Ayu mengalihkan netranya ke arah wanita tadi betapa terkejutnya saat ia melihat wajah wanita itu setelah melepas kacamatanya " Ibuk........"


Sampai dirumah Bu Indi Ayu ditarik paksa oleh ibunya dan menjatuhkannya diatas sofa, Varo hanya mengikutinya dari belakang pria jangkung itu merenggangkan dasinya dan membuka satu kancing atasnya, melepas sepatu yang langsung ia letakkan di tempatnya.


Bu Indi yang baru selesai mandi langsung keluar melihat apa yang terjadi karena swara gaduh dari lantai dasar. " Kamu kenapa nyusul Ibuk, pake acara do'a on Ibuk yang enggak-enggak, kamu seneng kalo ibu cepet nyusul Ayah kamu?"


Bu Mira menyesal telah bersikap kasar tadi ia langsung memeluk putri semata wayangnya, " Dah jangan sedih, ibu masih ada beberapa pekerjaan disini mengingat Varo juga kelelahan ia harus bolak balik Rumah Sakit- Perusahaan "


Sebenarnya Bu Mira bukanlah perempuan berpendidikan rendah ia Sarjana Ekonomi namun ia selalu menutupi itu, otaknya encer, sebab itulah Varo meminta bantuan Bu Mira menangani perusahaan saat ini karena kondisi rumah sakit yang kurang stabil membuat Varo lebih banyak dirumah sakit.


**


" Curut napa sini diem mulu?" Ayu menoel-noel lengan Varo dengan sandalnya membuat sang empu hanya melirik kearah gadis itu.


" Jangan tiduran terus elah, anterin gue kerumah Daniel" Varo bengun, menyandarkan punggungnya dibantalan sofa " ngapain?" tanyanya suaranya parau yah mungkin karena kondisi cuaca tak menentu.

__ADS_1


" mau liat bocilnya Diah"


" Besok siang aja, dah malem"


" Yaudah kalo nggak mau nganterin gue bisa sendiri" Ayu pergi meninggalkan Varo, sepanjang jalan ia memikirkan bagaimana bisa ibunya berubah drastis seperti ini, lalu ia mengingat bahwa Bu Indi adalah cinta pertama dari sang ayah, sedangkan ibunya merupakan cinta terakhir dari sang ayah dan sekarang mereka menjadi teman uwaouw.


" Mak Kambing" panggilan itu membuat Ayu menoleh kebelakang jujur saja sekarang wajah pria itu sangat pucat Ayu langsung menghampiri Varo.


Hampir saja ia terjatuh jika Ayu tak menahan badannya " Lo kenapa?" tanyanya, ia merasakan panas dari tubuh Varo, Ayu menempelkan tangannya ke wajah pria yang tingginya jauh darinya " Lo demam? masak dokter bisa sakit?"


'Pertanyaan mu itu lho,Lo pikir dokter terbuat dari cuwilan upil komodo yang nggak bisa sakit ' batin Varo namun ia tak mau bertengkar dengan keadaanya yang seperti ini, badannya lemas, wajahnya pucat suhu tubuhnya tinggi,membuat Ayu ketar ketir mana udah gerimis, yang Ayu harapkan bahwa Varo jangan sampai pingsan bisa berabe jadinya.


Ayu tak membawa ponsel, ia juga mengecek apakah Varo membawa atau tidak saat ini jalanan sepi tak ada tanda-tanda kehidupan, Ayu membawa Varo ke pos ronda tak jauh dari tempatnya berdiri. Petir saling menyambar, angin kencang disertai hujan deras yang paling ayu takutkan.


Akhirnya sampai juga," Curuuut jangan mati dong gue takut, sama petir....."kilatan petir menyilap tak lama duaaaarrr.... suara petir sangat keras membuat Ayu terkaget dan menangis ia menutup kedua telinga dengan tangannya, melirik sekilas kearah Varo pria yang lebih tua 2 tahun itu masih memejamkan matanya ia berusaha mengecek apakan pria itu masih bernapas atau tidak namun saat ia memeriksa denyut nadi Varo suara petir menggelegar membuat nyalinya semakin ciut.


" Cuuuruut bangun, gue takut hiks....hiks" Ayu tak peduli jika besok ia di bully habis-habisan sama Varo ia memang suka hujan tapi bukan hujan dengan Sambaran petir seperti ini.


Varo yang masih mendengar suara Ayu, ia berusaha membuka mata, menarik Ayu kedalam dekapannya, mengelus lembut kepala gadis berhijab itu " udah nggak papa jangan takut" penuh ketenangan persis seperti saat sang ayah yang mendekapnya.


Apalah daya sekarang ia benar-benar takut hingga keduanya terlelap bersama....


Ok Gaes nex Eps.

__ADS_1


Butuh semangat gaes, Jangan lupa komen like vote & share ya🙏


__ADS_2