
" Sebenernya gue sama Dimas dari dulu dah bertemen si, kalo sama cowok tengil dulu musuh sampe sekarang sebenernya juga nggak papa walaupun enggak bisa akur, tapi liat dia dah berkorban nyawa, gue jadi respect sama dia. Sedangkan sama Fa...dia orang pertama yang bikin gue nyaman sama seorang cowok, dia yang slalu jagain gue,perhatiin gue, sampai pas gue lupa ingatan pun dia yang selalu ada buat gue"
' Dahlah Lo nggak ada harapan buat masuk kehatinya'.
" Kapan mau ke Surabaya?" Varo menawarkan ajakannya berhubung Ayu belum mulai segala macam ujian,bisa dibilang ia adalah lelaki yang peka terhadap perempuan lain dari lelaki lain.
Sikapnya yang tak mau ribet dengan segala sesuatu cocok disandingkan dengan Ayu yang serba simple tak bertele-tele.
" Jum'at sore aja, Mas punggung gue gatel garukin" Ayu membelakangi Varo duduk bersila dengan bantal dipangkuannya, menyibakkan rambutnya kedepan memperlihatkan punggungnya yang tertutup piyama tidur.
" garuk sendiri aja"
" enggak nyampe"
Varo menelan salivanya mau tak mau ia menggaruk punggung Ayu " kebawah dikit, rada kananan, itu terlalu bawah keatas dikit lagi"
Lama-lama Varo bisa stres, ia harus menahan nafsunya padahal jelas-jelas gadis yang ada didepannya ini mahramnya." Udah belum?"
Ayu menoleh kebelakang, ternyata Varo menggaruknya sambil memejamkan mata, ia menjahili Varo dengan beranjak dari duduknya, gadis itu berlari ke samping Varo dengan mengurai rambutnya hingga menutupi wajah.
" ditanyain malah diem aja" Varo membuka matanya " Kok nggak ada?" pemuda itu mengerutkan dahinya.
Saat Ia menoleh kesamping dan waaaaa " Astaghfirullahal'adzim" ia memundurkan tubuhnya beberapa cm " Lungo'o ing asal, jo wani-wani Ng aku"
🤣🤣 Gadis itu semakin menjadi-jadi bahkan ia tertawa layaknya mbak Kunt, Varo yang menyadari bahwa itu Ayu langsung beranjak dari ranjang " oh mau main-main ya" lelaki yang kini hanya mengenakan kaos putih itu menampakkan smirk nya.
Ia langsung menangkap tubuh mungil Ayu dan meletakkannya di ranjang, bahkan Varo mendekapnya layaknya guling " Lepasin Anjir, hahaha geli woy" lelah Ayu menahan geli saat Varo menggelitiknya sampai keduanya terlelap dengan saling memeluk.
**
" Andin- Andin, Lo tu kalo B3g0 jangan kebangetan bisa? Lo mau Fa diambil lagi?" Andin menggeleng cepat mendengar ucapan Mia, ia tak mau kehilangan Fa untuk kedua kalinya ia akan melakukan apapun demi mendapatkan lelaki pertama yang ada dalam hatinya.
__ADS_1
Mia tersenyum, tak dipungkiri ia bahkan melakukan segala macam cara untuk mencapai tujuannya. Ia tergolong orang yang nekat dan menghalalkan segala cara. Mengajak kerjasama bersama Andin adalah ide yang tepat untuk keduanya. " Sekarang ikutin rencana gue, dan tunggu apa yang terjadi selanjutnya"
" Gue kira Lo anak baik, kesayangan guru, dan anak manja mommy and dady" Mia berjalan membelakangi Andin ia melepaskan kacamatanya dan menggerai rambut yang sedari ia ikat.
" Lo kira gue masuk kelas favorit gegara prestasi?"
" Maksud Lo"
" Apa sih yang nggak bisa dilakuin oleh uang? kadang hidup perlu berkamuflase seperti bunglon sehingga orang nggak akan sadar kita ini sebenernya sesuci malaikat atau sebiadab iblis" Mia menepuk pelan pundak Andin " jadi orang harus licik kalau nggak mau dilicikin dan dibuang seperti sampah"
Andin tertegun mendengar perkataan Mia, ia tak menyangka bahwa Mia bisa sebrutal itu tak pantas di sandingkan dengan wajahnya yang kalem dan penuh kelembutan, ternyata anak baik juga bisa nakan namun lebih rapih mainnya.
" Gue terima tawaran Lo" Andin menyodorkan tangannya tanda deal dengan kesepakatan itu. dan dibalas baik oleh Mia, " Gue harus pergi sekarang" Andin meninggalkan Mia dengan menampakkan seringainya.
Andin membuka ponselnya dan menerima telpon seseorang " Apakah rencananya berhasil?"
" Tunggu aja kabar baik yang nggak lama lagi menggemparkan" Andin menutup panggilan itu.
**
Zahra yang excited ingin pergi langsung mengecek tiket online sebelum kehabisan " mau kemana?"
" lah iya mau kemana?"
" Ke hotel +++" ujar Dimas tiba-tiba yang mana langsung digaplok tu muka sama Biara
" sok-sokan mau ke hotel +++ Lo, ngitung 25+334 aja masih pake jari tangan"
Dimas membalas Viara dengan menonyor kepala Viara dari belakang " Eh,4nj1n9 kalo gue jenius nggak bakal di sekelas sama Lo Lo Lo pada tau ngga"
" Emang gue berharap gitu sekelas sama, orang nggak punya adab kek elu?"
__ADS_1
" wah wah nggak bisa dibiarin nih, hayuk lah baku hantam sini maju satu lawan satu"
Andree dan Fa memilih memainkan game nya Ng push rank biar dapet gelar juara kecamatan, Zahra menyumpal telinganya dengan headset mendengar lantunan ayat suci Al-Quran. Sedangkan Ayu menumpukan dagunya diatas meja menyimak perdebatan antara Dimas dan Viara.
" Ok, Lo pikir gue sebagai cewek takut sama Lo? hayuk sini maju" Viara sudah memasang kuda-kudanya mengeluarkan jurus yang tak seorang pun yang mengetahuinya.
" Hayuklah Dim jangan mau kalah gue yang wasitin" Ujar Ayu bersemangat menghampiri Dimas dan Viara di depan kelas yang lainnya pun hanya abai ya karena itu sudah menjadi kebiasaan mereka bertiga ujung-ujungnya pun juga sama ketauan guru dan kena hukuman.
Andin yang baru masuk kekelas hanya melewati ketiganya dan menghampiri Fa " Kamu lagi Mabar ya, boleh gabung nggak?"
" Boleh dong tapi bentar ini mau selesai" ucap Fa tanpa mengalihkan tatapannya pada layar hp nya, melihat itu Ayu keluar dari kelas membiarkan Dimas dan Viara berdebat " Napa tu anak?"
" Auk, tanyain lah ngapa tanya ke gue".
Sampai pulang sekolah tak ada yang mengetahui keberadaan Ayu," Ngapain disini?" Ayu hapal betul suara itu " buat apa Lo nyusul gue kesini?"
" Salah?" Ayu menghadap Fa dengan sedikit mendongak " Lo nggak papa kan?"
Ayu menggeleng sedari tadi ia tak membuka suaranya, membuat Fa khawatir dengan keadaan gadis berjilbab itu.
" Lo sakit?" Ayu tetap menggeleng kini matnya mulai berkaca-kaca, ia tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa ia mencintai pemuda itu, rasa sesak didadanya sudah tak bisa ia bendung lagi ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya meluapkan emosi yang sudah tak tertahankan.
" Fa ...gue...gue" Ayu tak bisa membendung lagi air matanya sampai ia tak bisa mengatakan apapun, Fa berusaha menenangkan ia langsung memeluk Ayu. Hingga sepersekian detik Ayu melepaskan pelukan itu saat melihat cincin yang melingkar di jarinya " Gue mohon jangan mendekat"
" Tolong jangan gini Ay, kasih tau gue punya salah apa sama Lo?"
" Lo nggak punya salah Fa"
" Terus kenapa Lo ngehindar terus dari gue?"
" Gue nggak bisa jelasin sekarang"
__ADS_1
" Tapi kenapa?"