
"Ayuuuu...." panggil Viaraa dari dalam mobil, Ayu menghentikan langkahnya menoleh pada Viara yang menghampirinya dengan lari kecil. Menarik pundak Ayu ia merangkulnya dengan erat " Lo kenapa deh?"
" Tebak dong gue baru dapet apaan"
" apa?pacar", jawab Ayu spontan
" Aaaaaa......." Viaraa berteriak histeris yang mana membuat Ayu menutup telinganya " Kok Lo bisa tau, tebak lagi siapa yang nembak gue?"
" Dimas?"
Viaraa menggeleng "mana mungkin gue suka Ama die, amit-amit"
" Ya mana gue tau, Lo omong amit-amit ntar malah jadi bucin Lo sama dia" tuding Ayu membuat Viaraa memanyunkan bibirnya dan menepuk pelan bibir Ayu " jaga ya punya mulut" Ayu terkekeh ia malah melenggang menuju kelasnya.
Sampai diambang pintu ia bertemu dengan Fa bersama dengan Andin, Fa menarik ujung hijab Ayu yang mana membuat Ayu terpaksa mengikutinya. Andin yang hendak menyusul keduanya pun di tahan oleh Viaraa " Mau kemana Mrs. Cafer? biarin mereka nyelesaiin masalahnya dulu"
Fa membawa Ayu ke taman belakang " Fa lepas!" Sentak Ayu, membuat Fa langsung melepaskan ujung hijab Ayu. Ayu membalikkan badan menghadap Fa, membenahi sedikit hijabnya yang berantakan " bisa nggak jangan kebiasaan narik hijab"
" Lo kemana aja kemarin, telpon nggak diangkat, chat nggak dibalas,
" Gue kemaren dirumah"
" Varo bilang Lo nggak dirumah"
" Lo kemaren ke rumah?"
" hooh"
" sebelum pulang gue mampir ke minimarket" Ayu mendongak melihat wajah Fa yang masih serius
"Jangan diliatin terus zinah mata" ucap Ayu.
Fa menoyor pelan kepala Ayu, gadis itu tak tahu betapa khawatirnya ia kemarin, " Terus kemarin Napa nangis-nangis kek orang kesambet?"
" Ya elo ngapain juga, pake ciuman disekolah, nggak punya duit Lo buat sewa hotel?" Fa membelalakkan mata menudingkan telunjuknya tepat didepan muka Ayu, menggoyangkan ke kiri dan ke kanan.
" kayaknya Lo harus ganti mata sama mata kucing deh, siapa yang ciuman? kemarin Andin kelilipan dan gue cuma niupin matanya doang, njiir"
__ADS_1
"Ooooo" Malu rasanya ia sudah mengira yang tidak-tidak bahkan Ayu sudah nangis lebay didepan Fa,telah memecahkan berbagai barangnya, menghamburkan uang suaminya yang mengganti semua barang yang pecah, dan paling parahnya ia belum membayar iuran pada Sandra gegara ia langsung pulang.
" Kok cuma o aja"
Priiiiiiiiiiiit suara peluit dari Pak Bono yang memekakkan telinga, spontan Ayu dan Fa menutup telinganya " Kalian ngapain disini cepat masuk ke kelas!" PRIIIiiiiiit
Segera Ayu dan Fa menuju kekelasnya " Awas pak banyak penunggunya"😁
Memasuki kelas ternyata sudah ada Bu Leni, Guru PKK yang realistis, masuk tepat waktu tak kurang tak lebih. " Kalian berdua cepat masuk dan kerjakan tugas saya, tanya teman sebangku apa yang harus dikerjakan".
Ayu dan Fa mengangguk tumben ada guru yang berbaik hati pada mereka, " Tugas apaan Zah" tanya Ayu setelah ia berada di bangkunya.
" keuangan produksi" Ayu mengangguk membuka tas untuk mengambil alat tulisnya. Sampai beberapa jam berlalu.
" Guys gue pulang dulu, assalamualaikum" ucap Ayu tanpa menunggu Zahra maupun Viara, dengan langkah cepat ia menuju ke gerbang berpikir bahwa Varo sudah ada disana.
Dan yah ia melihat mobil suaminya namun tak ada orang didalamnya, Ayu menyipitkan mata silau terkena sinar matahari sore, ia mencari keberadaan Varo sampai matanya menangkap keberadaanya sedang mengantre di depan gerobak rujak.
Tepatnya ia malah di rubungi para cewek-cewek yang rela mengalah mendahulukan Varo. Ayu memanggil lewat ponselnya " Halo"
" Udah disamping mobil, cepet bilang sama Pak Rujak cabe rawit nya 2 aja jangan banyak-banyak, jangan pake timun, bengkoang sama jambu air" Ayu menutup telfonnya, tak butuh waktu lama Varo kembali dengan rujak ditangannya, memberikan pada Ayu gadis itu tersenyum cerah dan masuk kedalam mobil.
Ayu masih sibuk dengan rujak yang ada ditangannya " Langsung aja, Lo nggak capek?"
" Enggak, nanti kalo capek istirahatlah" ucapnya datar. Varo masih fokus menyetir, merasa canggung dengan suasana yang sunyi Ayu menyodorkan sepotong Mangga pada mulut Varo.
Diterima dong sama Mas suami " ehmm asem banget Ay" Ayu terkekeh melihat ekspresi Varo yang lucu.
" Namanya aja mangga muda, Kenapa Lo nggak bilang kalo kemarin Fa dateng ke rumah" Varo berdehem matanya masih lurus kedepan.
" Gue nggak mau nyembunyiin apapun dari Lo, tapi keadaan Lo kemarin yang buat gue nggak kasih tau kalo Fa dateng ke rumah"
Mobil Varo sampai dihalaman rumah bernuansa putih tulang itu, membuka pintu coklat mereka berdua masuk ke rumah megah itu. "Assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam" kompak kedua ibu mereka tak menyangka bahwa anaknya akan berkunjung, "kok malem banget, lha kamu belum ganti seragam nduk?" tanya Bu Indi memperhatikan Ayu
" iya Bu tadi dari sekolah langsung kesini" ujar Ayu agak canggung
__ADS_1
" Yaudah kalian bebersih terus istirahat gih pasti capek kan" Kini Bu Mira yang membuka suaranya mengelus pundak Ayu tak menyangka sudah menjadi istri seseorang.
Varo terlebih dahulu menaiki tangga menuju kamarnya " Varo kekamar dulu ya bu" Ayu pun mengekor tak mau salah kamar karena ia belum tau letak kamar Varo dimana.
Ayu yang hendak beranjak sofa setelah bebersih badan malah melihat Varo yang masih mengenakan handuk di pinggangnya membuat Ayu berteriak dan menutup mata dengan kedua tangannya. " Ay kenapa?" tanya Varo yang terkejut dengan teriakan Ayu, Bahkan Bu Mira yang berada di lantai bawah segera kekamar sang anak.
Varo menghampiri Ayu berusaha membuka tangan Ayu namun malah mereka berdua terjatuh diatas sofa dengan posisi Varo yang diatasnya. Bersamaan dengan itu Bu Mira membuka pintu melihat manten baru " Ibuk...."
" Kayaknya Ibu salah waktu deh"
" eng..."
" besok lagi jangan lupa kunci pintu sayang" goda Bu Mira dan langsung menutup pintu putih itu. Sampai Bu Indi datang dan menanyakan apa yang terjadi pada anak mantunya itu dan jawaban Bu Mira " Halah kayak nggak tau manten baru"
Varo menegakkan badannya " Ngapain si pake teriak gitu"
" Lha itunya mas gerak-gerak"
Varo menatap bergantian pada sang junior dan Ayu, menampakkan senyum yang tak dapat diartikan " Mau kenalan?"
Ayu menggeleng,ia masih takut " Ay lunasin cicilan yang kemarin yuk"
" Cicilan apa mas?"
" Anu-anu"
" enggak mau ah" Ayu merebahkan dirinya diatas kasur menarik selimut menutupi dirinya. Lagi-lagi Varo harus bersabar tak bisa ia memaksakan dirinya walau keinginan itu sudah sampai puncaknya.
**
Pagi yang indah Ayu memutuskan untuk sekedar jalan pagi mengelilingi desa, sampai ia lewat didepan rumah Diyah yang sedang berada diteras bersama Faza," Diyaaah" panggil Ayu seraya melambaikan tangannya.
Diyah yang merasa dipanggil pun menoleh " Ayu, kapan kesini?" tanyanya.
" Tadi malem sampek, Hay Faza ih dah gede aja nih" gemas Ayu menggendong dan meciumi Anak sahabatnya itu. Melirik ke perut Diyah " Lo isi lagi Diy?" Diah mengangguk dan menunjukan perut yang usianya hampir 6 bulan.
" Lo kapan nyusul Ay? gue udah mau dua lho"
__ADS_1
jangan lupa ya like, komen, dan vote guys