The SMK

The SMK
The SMK•|34


__ADS_3

Tak beberapa lama Pintu kembali dibuka " Ada apa lagi Randy?" Varo menatap gadis yang berdiri diambang pintu itu dengan pasrah...,


Ya bukan Randy yang datang keruangannya melainkan Shella, gadis berambut sepunggung itu berjalan menemui Varo " Saya hari ini sibuk mending kamu balik" sarkasnya padahal hari ini dia tak ada jadwal pemeriksaan.


"Saya nggak akan balik sebelum anda mempunyai bukti bahwa anda memang benar sudah menikah"


" Terserah"


" Apa anda pikir hanya cincin, buku nikah, dan ciuman didepan umum bisa menjadi bukti?"


"Saya tegasin lagi ya bahwa sekarang saya sudah mempunyai istri, dan jangan harap kamu bisa masuk kedalam hidup saya mengerti!"


"Dan anda harus ingat, selagi Anda bosan dengan wanita itu masih ada saya yang siap 24 jam untuk anda" Shella menunjukkan senyumannya


"dasar gila" Varo menggelengkan kepalanya bisa-bisanya ia dipertemukan dengan mahkluk semacam Shella.


Meraih kunci mobil yang ada diatas meja, Varo meninggalkan Shella susah ngomong sama ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) harusnya ia sekarang bukan berada dirumah sakit ini namun harusnya di rumah sakit Magelang.


Tak tahu harus kemana kini tujuannya beralih menjemput Ayu toh sebentar lagi jam pulang sekolah. Mampir sebentar di warung depan sekolah sekedar membeli air mineral, kerongkongannya kering akibat Shella.


Mengambil 2 tempe dan 1 bungkus nasi sayur, tak menghiraukan tatapan dari orang-orang sebelahnya. Melambai saat Ayu keluar gerbang pria itu mengambil uang pecahan 50 an dan diberikan pada sang penjual " kembaliannya ambil aja Bu"


"Tumben jemput" ucap Ayu


"Ayo naik" ucap Varo ketika Ayu tak kunjung masuk mobil. Terpaksa Varo turun dari mobil " Mau apa?"


Menyapu keseluruh jalanan Ayu menunjuk gerobak rujak yang berada tepat disamping mereka " Gue pengin rujak tapi mas yang buatin"😊


"Ok... tunggu dimobil sekarang" Varo segera membuat rujak pesanan Ayu yang tentu sudah mendapat ijin dari penjualnya cukup 5 menit Varo memberikan rujak itu pada Ayu. "Kok mukanya ditekuk gitu?"

__ADS_1


" Nggak papa"


Sudah Ayu duga suaminya itu tak akan menceritakan apa yang terjadi padanya. Mengambil ponsel yang ada di saku ayu mendapat pesan dari Fa "Nanti malam ke cafe biasa jangan telat''


Varo mengambil paksa handphone Ayu, "Apaan si mas main serobot aja" reflek Ayu saat Varo sudah membaca pesan itu. Varo tak menjawab, mengantongi ponsel Ayu bergegas menginjak pedal gas menuju rumah.


Dan dibalik pintu gerbang ada Fa, dengan raut wajah sinis ia mengepalkan tangan dibalik saku celana 'siapapun itu nggak ada yang bisa misahin gue sama Ayu'


Dimas dan Andree yang sedang berada di lantai dua hanya menggeleng, " gue nggak yakin Fa bisa nerima fakta ini Ndree"


Mendengar ucapan Dimas sebenarnya Andree juga belum bisa menerima fakta yang ada, namun dia juga tidak akan seegois itu. " Sok bijak lu pentol korek"🤣


Dimas menggeplak kepala Andree " ****** emang lo Ndree,apa jadinya nanti kalo Fa tau coba"


" Ya bukan urusan lo lah, Bambang jadi jangan sekali-kali lo keceplosan, biar dia tau langsung dari orangnya" gertak Andree menepuk punggung Dimas beberapa kali dengan sedikit menggelangkan kepalanya "nggak nyangka adek gue bisa naksir ama kutil badak"


" Astaghfirullah, bener-bener Anj1ng lo ndree" Dimas hanya menoleh dan melenggang pergi, tenaganya sudah habis untuk persiapan acara kelulusan.


**


"Mas balikin hp gue" ucap Ayu yang masih diambang pintu rumahnya. Tak mendapat balasan dari sang suami ia menyusul Varo yang masih berada di kamar. Duduk dihadapan sang suami Ayu mengerucutkan bibirnya berharap sang suami akan memberikan hpnya.


Varo menatap datar istri kecilnya itu "Kamu mau ini?" mengangkat hp Ayu diudara mendekatkan wajahnya pada Ayu perlahan namun pasti jarak diantara mereka kian menipis dan hap Ayu berhasil meraih hp nya.


Varo yang hendak beranjak dari duduknya pun hanya menarik napas panjang ketika handphone nya berdering " Apa......?"


cup satu kecupan mendarat mulus dipipi Varo dan tanpa disadari keduanya ternyata itu panggilan Video dari Randy dan beberapa staf kantor yang berada diruang meeting. Ayu yang melihat ekspresi Varo langsung melirik sekilas ke layar HP suaminya itu, matanya membola saat melihat para staf sedang memperhatikan keduanya dan memilih pergi meninggalkan Varo.


Varo segera menetralkan mimik wajahnya dan memulai pembahasan yang Randy berikan. Beberapa menit berlalu Varo mencari keberadaan Ayu, melihat jam ternyata sudah jam sembilan malam, ralat ternyata bukan beberapa menit tapi beberapa jam sampai ia tak sadar dimana Ayu berada.

__ADS_1


Ia sudah mencari diseluruh bagian rumah, halaman depan, halaman belakang, bahkan sampai kegorong-gorong seberang jalan, hp nya mati dan sekarang yang ada diotaknya adalah Fa.


Melajukan mobilnya menuju cafe yang pernah Ayu ceritakan dan benar ada Fa disana namun ia tak melihat keberadaan Ayu disana.


" Lah kok malah lo yang kesini" terkejut Fa saat Varo yang menemuinya bukan Ayu padahal ia sudah menunggu dari satu jam yang lalu.


Varo mengernyitkan dahinya bukannya tadi sore Fa meminta Ayu untung menemuinya di cafe "Jangan bohong dimana Ayu?" sarkas Varo


"Peduli apa lo sama dia?"


"pertanyaan lo nggak penting, gue kira dia kesini hpnya mati, rumahnya kosong"


" Gue udah nunggu dia dari sejam lalu tapi dia juga nggak nongol-nongol"


Keduanya semakin khawatir memang otak pikun Ayu sudah menghilang namun tetap saja tak mungkin tercabut sampai akar pikunnya. "Coba telpon Zahra, Viara, Dimas, And.... lupain nggak mungkin"


Fa kembali duduk " udah nggak usah dipikirin duduk lo sekarang" sambil memesan dua capuccino


" Lo bukannya ngajak cari Ayu malah ngajak ngopi"


Fa tersenyum " Nggak usah mikirin dia, gue yakin dia udah balik kerumah gak usah parnoan gitu" Fa berbicara fakta, memang Ayu suka menghilang dan muncul secara tiba-tiba entah itu dirumahnya atau ditempat lain.


Varo meminum kopi yang sudah dipesan tadi 'bisa-bisanya lo lebih milih Andin yang ternyata itu bukan Andin yang lo kenal. " Gue mau tanya, perihal hubungan lo sama Andin"


" Urusan banget lo sama urusan gue"


" gue juga sebenernya nggak mau ikut campur urusan lo tapi ini juga buat kebaikan mental lo sendiri, jadi mending siapin mental dari sekarang dan jangan salah langkah"


Varo mengeluarkan uang dan menaruhnya diatas meja, " Jangan salahin siapapun kalo nanti diakhir lo nyesel sendiri"

__ADS_1


Fa terdiam mencerna perkataan Varo memangnya apa yang tidak diketahuinya selama ini, dan apa hubungannya dengan Varo hingga pria itu mengingatkan dirinya agar tidak salah mengambil langkah, apakah tali sepatunya lepas melihat kebawah tidak tali sepatunya tidak lepas.


__ADS_2