
[ QUOTE'S-> Menuntut diri agar selalu ada untuk mereka hampir setiap hari, Padahal sedihmu mereka tidak peduli]
Jam menunjukkan pukul 06.30 menit yang mana Ayu masih belum terbangun niatnya ia akan tidur sebentar setelah sholat subuh namun ia malah keblabasan,
Panggilan masuk tak terjawab dari Zahra sudah 10 kali, spam chat dari Viara sudah mencapai 500 chat, hingga akhirnya Zahra berhasil menghubungi Ayu " Hallo...." suara Ayu khas bangun tidur.
" Banguuunn Woi, Lo kagak bangun sekarang kelar hidup anak sekelas!!" Suara Andree yang selalu membuat hari-harinya suram, Ayu langsung mematikan panggilan suara itu. Melihat layar hpnya menunjukkan jam tujuh kurang seperempat, " Anjiir ulangan Akuntansi,... mati gue" Ayu menepok jidatnya ia langsung melompat menggapai handuk yang berada di balik pintu dan keluar menuju kamar mandi, bahkan ia melewati Varo yang sedang sarapan dimeja makan.
Melihat Ayu yang terburu-buru Varo hanya menaikkan bahunya sudah tau bahwa gadis yang sekarang berstatus sebagai istrinya itu sudah terlambat.
Hanya membutuhkan beberapa menit Ayu sudah siap ia memasukkan buku mapel hari ini, menyemprotkan parfum ke tangan dan lehernya, ia berlari meraih sepeda dan mengeluarkan sepeda itu.
Ayu kembali kemeja makan melihat ada roti selai dipiring langsung ia comot " Roti gue kampret" Varo yang sadar rotinya ilang mendengus kesal.
Tak mengindahkan ucapan Varo, gadis itu malah menghabiskan roti yang ada ditangannya " jadi laki, jangan pelit-pelit nanti kuburannya sempit, dah gue mau berangkat, Assalamualaikum..." Ayu menyodorkan tangan, ceritanya ingin mencium tangan sang suami seperti yang dilakukan oleh kedua orang tuanya dulu, namun Varo salah mengerti ia malah mengeluarkan dompet dan melorot uang pecahan Rp 50.000,00 dan diberikan pada Ayu.
Ayu menerima uang itu " G0bl0k,... gue mau salim" Ayu meraih tangan Varo dan menciumnya dan langsung pergi sedangkan Varo tertegun, ia masih tak percaya dengan kejadian yang baru sja teejadi, " Wa'alaikumussalam,..... kesambet setan kampung mana tu anak?" menggelengkan kepalanya.
**
" Untung Lo dateng tepat waktu, kalo nggak sekelas bisa dapet imbasnya tau nggak" Ujar Viara yang merasa lega, tak jadi kena hukuman dari guru killer itu.
Dimas yang meneguk air mineralnya pun membetulkan perkataan Viara " masa ada guru yang masuk sebelum bel, Pak satpam aja masuk pas waktunya"
" Ya ada lah, lha tu guru tercinta Lo" ucap Viara yang masih memakan makanannya di dalam mulut.
" ya udahlah jangan diomongin lagi nanti kalau orangnya dengar nggak enak", ujar Zahra yang baru datang dari kamar mandi dan bergabung dengan mereka.
Dimas menampakkan hormat dua jarinya kepada semua orang hingga matanya tertuju pada Fa dan Andin yang berjalan bersamaan di mana mereka berdua sedang membicarakan hal yang terlihat serius, " kenapa mereka?" Dimas menanyakan pertanyaan itu kepada Ayu yang mana membuat Ayu juga menolehkan kepalanya kepala Fa dan Andin, hingga Fa meninggalkan Andin.
Tak lama setelah kepergian Fa dan Andin, di belakangnya terdapat Andre dengan seorang gadis " Plis Ndree kali ini aja Lo nganggep gue, gue udah capek nutupin perasaan gue ke elo dari kita SMP" cewek itu mencekal tangan Andree.
Mereka berdua membuat semua orang yang ada dikantin mengalihkan perhatian tak terkecuali Ayu, Dimas, Zahra dan Viaraa " Sapa tu cewek?" dibalas gelengan oleh Dimas.
__ADS_1
" Tapi gue nggak ada rasa sama Lo " jawaban Andree, jleep masuk ke ulu hati, membuat si perempuan langsung menitihkan air mata.
" Gue udah... 6 tahun nungguin Lo sampe Lo bisa buka hati tapi apa Lo malah nggak pernah ngehargain gue" ucapnya histeris.
Ayu malas dengan pertunjukan ini ia pergi tanpa sepengetahuan teman-temannya hingga ia berjalan didepan gadis itu " Ini kan, yang buat Lo nggak pernah mandang gue" gadis itu menunjuk Ayu dengan telunjuknya.
Ayu memandang gadis itu dengan tatapan keheranan apa hubungannya sama dia, bahkan dia tidak sedekat itu dengan Andree " Gue inget Lo Maiyana Sesil Lee kan anak Akuntansi 1, Lo pinter jangan sia-siain masa muda Lo buat cowok kayak gini" ucap Ayu tak mau memperburuk keadaan ia segera pergi, namun langkahnya terhenti saat Mia tiba-tiba tertawa.
Tak sependapat dengan Ayu, Mia tertawa " Itu cuma trik Lo kan biar gue menjauh dari Andree dan Lo bisa deket-deket sama dia"
Tanpa membalikkan badan Ayu menarik sudut bibirnya "Dasar bucin" ayu melangkahkan kakinya menjauh.
" Seru ni kayaknya"
" Tunggu aja bakal perang dingin ntar"
" Gue dukung Mia si kasian ciantanya nggak terbalas gara-gara cewek bar-bar"
" Lah Mia nya aja yang nggak tau diri udah ditolak mentah-mentah malah masih ngebet aja"
Demikian celotehan yang dilontarkan beberapa anak yang menyaksikan drama itu. Langkah Ayu terhenti saat melihat Andin berada di taman belakang, ia mengendap-endap agar tidak ketahuan, Ayu melihat sebuah foto dimana menampakkan Andin dan seorang gadis, mungkin itu adalah Ana.
" Maafin gue, tapi gue harus
dapet tujuan gue" kata itu cukup singkat dan Andin pergi meninggalkan foto itu.
Ayu mengambilnya ' apa tujuan Andin yang sebenarnya' batin Ayu.
**
Sesampainya dirumah Ayu meletakkan tasnya di meja ia duduk diruang tengah, matanya menyapu kesetiap sudut ruangan tak ada tanda-tanda kehidupan. " Sepi amat kayak kuburan" Ayu mendengus setelah ia membaca pesan dari Varo yang isinya entah malam ini ia akan pulang atau tidak " Sendirian tu kagak enak, elah"
Tak lama kemudian Dimas datang dengan moto anggap saja rumah sendiri, ia berjalan tanpa permisi menuju kulkas dan membukanya, ada banyak makanan " Tumben Lo niat punya kulkas, biasanya ni kulkas cuma isi Aer doang"
__ADS_1
Ayu menyrampang kepala Dimas dnegan sepatunya untung saja Dimas sigap menghindar kalau tidak sudah benjol kepalanya terkena sepatu melayang " Ngapain Lo kesini?" tanya Ayu datar.
Ia berjalan menuju kulkas mengambil Apel " Siapa yang ngisi? si curuut?" batinnya, atensinya kembali pada Dimas yang masih asik makan kacang.
" Gue ada info penting" Bisik Dimas, lelaki berjaket itu mengeluarkan ponselnya, membuka galeri dan memperlihatkan video berdurasi pendek seorang gadis datang menemui Hendri di sel penjara dan mengatakan ' Saya yang akan membalaskan dendam'.
Ayu menyodorkan ponsel Dimas "Terus?"
" Serah lu lah, penting Lo ati-ati aja, kalo nggak mau kejadian waktu itu keulang lagi, untung Andree bisa selamet kalo nggak gimana?"
" Lo yang digentayangin sama arwahnya" Dimas memalingkan wajahnya. Suara bel berbunyi menampakkan kedatangan Zahra dan Viara.
" Assalamualaikum, loh kok ada disini Dim?" tanya Viara sambil meletakkan sekantung kresek besar bahan makanan.
" Wa'alaikumussalam, biasalah anak jalanan kelaperan" ujar Ayu yang mendapat delikan tajam dari Dimas.
" Anjiir, kalo kagak ikhlas ngomong biar gue ludesin semua makanan yang ada disini"
" Baperan lu kek anak PMS"
" Mendingan gue lah Lo kek emak-emak lemes"
"Sory ya gue emang dididik sebagai cewek sejati, ya wajarlah kalo mulut gue mulut lemes, sedangkan elo cowok kok sukanya nyinyir"
" 4nj1n9, nyesel gue kebanyakan main sama Lo jadi ketularan virus nyinyir tau nggak"
Pusing dengan perdebatan Dimas dan Viara Ayu mengajak Zahra ke teras meninggalkan dua manusia yang tak pernah mau mengalah.
" Ay kamu tau Mia?" akhirnya Zahra membuka suara yang sedari tadi ia tak mengatakan sepatah apapun kini ia hanya berdua dengan Ayu diteras.
Ayu mengangguk dan melihat Zahra " gue nggak tau pasti si tapi gue pernah ketemu pas salah kelas"
" Emang bener dia suka sama Andree, dari SMP?" pertanyaan Zahra membuat Ayu menelengkan kepala seakan meminta penjelasan tentang pertanyaan yang diajukan oleh Zahra.
__ADS_1
lanjut Next Eps gaess.... Nggak papa dibilang ngemis pun, tapi ya emang bener Author tetep mau ngemis Like, komen, vote & share ke kalian please gaes 😊