The SMK

The SMK
The SMK•|19


__ADS_3

[ QUOTE'S-> Jalan hidup kadang tak selalu mulus, cukup nikmati dan jalani sesuai kehendak ilahi]


'Kalo elo emang kepaksa kenapasi nggak nolak aja'


Alarm Ayu berbunyi, tak seperti biasanya yang ogah-ogahan bangun sekarang ia langsung terbangun menuju kemar mandi untuk mengambil wudhu, ternyata Varo juga habis mengambil air wudhu " Mas mau sholat subuh? kita jama'ahan ya tungguin gue ok" Ayu bergegas dan menyusul Varo.


Ini pertama kalinya Varo mengimami setelah ia mengucapkan ijab qobul bagi Ayu. Ia tak menyangka bahwa Ayu juga mempunyai sisi lain yang bertolak belakang dengan perilakunya sehari-hari.


"Assalamualaikum wr. wb, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatu" selesai sholat Ayu meraih tangan Varo tak seperti kemarin kini Varo menyodorkan tangannya.


'' Mau sarapan apa?" tanya Ayu yang sedang melipat mukenanya.


Varo menengoknya sekilas sebelum ia membuka laptopnya " Apa aja"


" Mas, Lo kenapa si? dari semalem jutek terus" Ayu bertanya namun tak ada jawaban dari lelaki itu.


" Mas gue tanya sama Lo baik-baik ya" kini nadanya semakin tinggi bahkan ia menutup laptop Varo secara paksa.


" Tanya sama diri Lo sendiri" jawab Varo datar.


Ayu memperlihatkan cincin yang melingkar di jari tengahnya supaya semua orang tidak curiga bahwa cincin itu adalah cincin pernikahan. " Apa gunanya ini kalo Lo nggak mau terbuka sama gue?"


"Lha emang itu berguna apa buat Lo? sekarang gue tanya balik kemana aja Lo semalem sampe pulang larut?"


Deg' Ayu tak tau harus jawab apa " ge-gue...."


" Jalan sama Fauzi kan, cuma berdua nggak sama yang lain bahkan Lo aja nggak nganggep gue sebagai suami Lo disini, seenggaknya Lo bisa pamit pasti gue ijinin tapi apa Lo malah keluar dari pintu samping kayak maling, dan setelah itu Lo malah bilang apa guna cincin itu, bahkan itu juga nggak berguna buat lo" Ayu berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.


" Gu-gue minta maaf mas, jujur gue nggak maksud buat nyembunyiin itu dari Lo" Tak mendengarkan penjelasan dari Ayu bahkan Varo memilih pergi menggunakan mobilnya.


**


"Ay kamu nggak papa?" tanya Zahra yang sedari tadi memperhatikan perilaku sang sahabat, ia nampak tak tenang.


Ayu melamun pandangannya lurus kedepan " Zah Zah napa tu anak?" lirih Andree pada Zahra,sedangkan Zahra hanya menggeleng tak tau apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


" Pet... Sepet" Andree melempar garisan besi tepat dimeja Ayu " Anjiir, kaget Ogeb" sontak semua dibuat menganga tak terkecuali Pak Sar yang sedang anteng dimejanya.

__ADS_1


" Siapa yang b3g0?" tanya Pak Sar melihat Ayu


" Saya pak yang bego" cicit Ayu bisa-bisanya masalah rumah ia bawa kesekolah alhasil ngelag dah tu otaknya.


Andin tak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia menampakkan seringainya menatap tajam Ayu " B3g0 dipelihara,cowok orang di embat juga"


Tak seperti biasanya yang abai kini Ayu menghampiri Andin " Gue tanya balik, emang Lo punya cowok?"


" Maksud Lo apaan, Lo kagak punya mata setiap hari gue sama Fa terus" Andin berdiri mengimbangi Ayu.Kali ini Pak Sar hanya ingin menonton ia tak akan memisahkan keduanya toh jika ia berusaha memisahkan bisa-bisa ia yang jadi korbannya.


" Fa udah nembak Lo?" Ayu menatap mata Andin matanya mengatakan semuanya namun Ayu ingin mendengar jawaban dari mulut dari Andin.


Fa, Dimas dan Andree tak mengatakan apapun, aura Ayu saat ini berbeda,serem euy." Fa emang belum nembak gue tapi gue satu-satunya cewek yang dicintai Fa"


prok prok prok prok gemuruh tepukan tangan terdengar, Pak Sar menggelengkan kepala melihat polah sang murid.


" Uuuuhh hahahha,"


" Anjir Mrs. Cafer 🤣🤣🤣 nglawak Lo?"


" udah cafer, Kepedean lagi"


Begitulah celotehan siswa Akuntansi 4, Ayu menaikan satu alisnya


" Anjir, bisanya Lo pernah suka sama Mrs. Caver" Dimas tertawa lepas namun Fa tak menjawabnya Andree malah menampol kepala Dimas.


" Mamam tu cinta"


**


Hari yang melelahkan, niatnya ia akan beristirahat sejenak namun saat melihat cucian yang menggunung membuat Ayu mengurungkan niatnya.


Langsung ia mengganti seragamnya dengan baju rumahan, ternyata ada pakaian Varo nyempil, membuat ia teringat Varo bahkan chatnya tadi pagi tidak dibalas, panggilannya juga tidak diangkat.


Selesai mencuci baju ada panggilan masuk dari ibunya " Assalamualaikum nduk"


" Wa'alaikumussalam, iya Bu"

__ADS_1


" Gimana kabar kamu sama nak Varo?"


" Baik-baik aja kok bu, Oya Mas Varo ada mampir ke situ nggak Bu?"


" Lha kok kamu tanya ibu? nggak telfon langsung"


" mungkin hp nya mati Bu"


" Yaudah nduk kamu siapin makan malem gih, kalo nanti suami mu pulang makanannya udah siap"


Ayu menutup telfonnya setelah mengucapkan salam, ia langsung bergegas kedapur mencari bahan makanan yang bisa ia masak. Hanya ada mie instan dan telur " Lah anjiir" Tak jadi memasak Ayu memilih menonton Tv.


Mendengar ada suara mencurigakan dari arah kamar, ia beranjak menuju kamarnya yang menampakkan Varo sedang berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


" Mas, Lo dari tadi dirumah?" Ayu duduk ditepian ranjang tepat dihadapan Varo berbaring, tak ada pergerakan Ayu menyibak selimut bagian atas " Lo sakit?" tanyanya saat ia melihat wajah Varo pucat, suhu badannya juga sangat panas.


Segera ia mengambil kompres dan Paracetamol. Ayu membantu Varo duduk untuk meminum obatnya, namun Varo menggeleng tak mau meminumnya " Kalo Lo nggak minum, mana bisa sembuh"


" Gue nggak bisa minum obat pake air"


" Mau digerusin?"


" Paitnya nggak ilang-ilang" Ayu menarik napasnya padahal ia sedang berhadapan dengan dokter tapi berasa seperti berhadapan dengan bocah 5 tahun, " Terus maunya pake apa?"


" Pake pisang''


" Mana ada pisang dirumah, bentar gue cariin"


Hingga beberapa menit Ayu mendapat pisangnya yang susah payah ia dapatkan dari Bu Budi, sebenarnya Bu Budi tak mau jika Ayu mendapatkan pisangnya dengan percuma, namun Ayu menjanjikan utang sebesar Rp 72.000,00 kepada ibunya lunas jika Bu Budi mau memberikan pisang itu.


" Ni pisangnya" Ayu memberikan pisang dan obatnya pada Varo.


Ayu menaiki ranjang, duduk disamping sang suami sorot matanya masih ada rasa penyesalan, ponselnya berdering menampakkan nama Fa tertera pada layarnya, Ayu melirik Varo sekilas yang mana pemuda itu sudah melihat dari siapakah panggilan masuk itu.


Varo langsung merebahkan tubuhnya kembali. Panggilan Fa tak ia jawab dan malah menyailent hpnya. " Mas Lo masih marah?"


" HM...."

__ADS_1


Hanya itu yang terdengar " Gue minta maaf, kemarin gue nggak ada maksud buat...."


" Sssttt" Varo menyela " gue nggak permasalahin kalo Lo nggak nganggep gue sebagai suami, tapi sekarang Lo tanggung jawab gue, kalo terjadi apa-apa sama Lo gimana?gue nggak bakal halangin kebahagiaan Lo karena Lo berhak ngejalanin masa muda Lo yang nggak bakal bisa ke ulang lagi"


__ADS_2