The SMK

The SMK
The SMK•|20


__ADS_3

[ QUOTE'S-> kadang lelah hidup, namun harus tetap berjuang dan bertahan menghadapi kerasnya kehidupan]


" Mana si nggak diangat, plis napa diangkat bentar" Fa mondar-mandir dibalkon kamarnya berharap panggilannya dijawab oleh Ayu namun tak kunjung diangkat.


Iris hitamnya menangkap sosok yang membuat harinya akhir-akhir ini menjadi kacau. "FAA......." teriak Andin saat berada di rumah mewah itu, bahkan ia main nyelonong tak menghiraukan para penjaga dan ART yang berada dirumah itu.


" Faaa kamu dimana?" Mata Andin menyapu keseluruh sudut rumah itu. Fa yang keluar dari kamar menuruni anak tangga dan langsung memeluk wanita itu " kamu kenapa?" bisik Andin


" Maafin aku nggak belain kamu tadi" jawabnya, Fa melepas pelukannya menatap wajah Andin, Andin tersenyum ia tak jadi memarahi pemuda yang menjadi tambatan hatinya itu.


" Fa kamu tau, aku nggak perduli semua orang menghina aku, asalkan kamu tetep sama aku"


Andin menggandeng tangan Fa untuk mengikutinya, ia menarik Fa ke sofa menyuruhnya duduk dan mengeluarkan gelang hitam dari tasnya " Kamu pokoknya nggak boleh lepas gelang ini ya!" tanpa aba-aba Andin mencium pipi Fa.


" Astaghfirullahal'adzim,Masyaallah, Allahula ila hailla huwal hayyul qoyum" syok Dimas harus melihat apa yang tak boleh dilihatnya ia langsung menutup mata dengan tangannya.


"Lo ngapain si kesini ganggu aja" sarkas Andin melempar bantal pada Dimas.


" Lo ngapain si kesini nyenyenye, masih nanya Lo gue ngapain kesini? yang pasti gue bakal jagain my friend dari Mrs.Cafer" Dimas duduk menggeser tubuh Andin dan duduk diantara keduanya, menyalakan televisi dengan volume penuh membuat Andin kesusahan untuk berkomunikasi dengan Fa.


"Faaaa, aku mau ngomong sama kamuuuu"


" Apa?"


" Aku mau ngomong" Andin berusaha mengeja kata-katanya namun tetap saja Fa tak mengerti apa yang Andin bicarakan, bisa di bayangkan seberapa keras Dimas mengatur volume tv dengan speakernya?😭


Dimas tersenyum puas melihat Andin yang semakin kesal, Andin berdecak hingga ia memilih meninggalkan rumah itu. "Anjai berhasil juga trik Lo Dim"


"Haaaa apaa?" Dimas tak mendengar apa yang Fa katakan sampai Fa menyuruh untuk memelankan volumenya pun Dimas tak dengar, " Lo ngomong apaan si?''


" Volumenya di pelanin, Bud3k"


" Apaan?"


" Duaaaarrr....." Dimas dan Fa terpelonjat kaget melihat TV itu hancur berkeping-keping.

__ADS_1


" Hah TV gue, Anjiirr" Fa tak menyangka TV yang baru ia beli kemarin lusa seharga 6,5 juta hanya berumur 2 hari dirumahnya " Dimas Gobl0000k"


**


Ayu memeluk Varo dari belakang, membuat yang dipeluk tak menyangka bahwa reaksinya akan seperti ini, Perlahan Varo membalikan badannya masih berbaring menghadap Ayu " Lo lagi ada masalah ya? Nggak papa peluk aja, anggap gue sebagai pengganti Ayah"


Ayu terdiam sejenak, langsung ia memeluk Varo yang dibalas usapan lembut dikepala gadis itu. Wangi rambut Ayu yang Varo suka bahkan ia juga mengecup tipis pucuk kepala gadis itu. " Makasih, Dokter Alvaro Yudhistira" Ayu mendongak melihat wajah suaminya dari bawah ' Gue nggak yakin bisa punya rasa sama Lo atau nggak, Lo orang baik, pinter,berpangkat, nggak pantes sama gue yang bukan apa-apa. Sampai nanti Lo dapetin perempuan yang bener-bener Lo cinta gue nggak papa jadi janda muda asal gue masih tetep prawan gue nggak papa bener kagak napa-napa' isi batin Ayu masih menatap Varo yang ditatap pun hanya menaikkan satu alisnya.


" Peluknya udah?" Ayu langsung melepaskan tangannya dari badan Varo, merutuki dirinya sendiri bisa-bisanya ia baper " Mas mau makan?"


" Emang udah masak?"


" Gue masakin bentar"


" Masak apa cuma sebentar?"


" Masak mie sama telor" Ayu bergegas menuju ke dapur.


" M4mpus gue punya istri malah kayak jadi anak kos, lama-lama panjang dah ni usus gue" Varo mengacak rambutnya.


Varo menyusul Ayu menuju dapur melihat rambut panjang itu tergerai indah melihat Ayu dengan tatapan tak bisa diartikan " kok nggak pake hijab?"


" Kalo nanti gue keblabasan gimana?" Varo menampakkan senyum liciknya.


" Ya tinggal di rem ajalah, gitu kok repot" Varo sudah menduga bahwa pikiran Ayu memang masih polos belum ternodai dengan hal-hal yang berbau gitu-gituan.


" Ni Mateng, mienya sebenernya ada dua sih tapi mangkoknya cuma ada satu gue jadiin satu biar hemat sabun hehe" Varo menggeleng bahkan uang suaminya saja turah-turah untuk membeli sabun cuci piring.


Varo duduk dan makan bersama Ayu semangkok berdua untung masih ada kerupuk sisa kemarin yang agak mlempem, dari pada mubazir untuk dibuang selagi masih bisa dimakan.


"Oh ya Mas besok ada pagelaran disekolah, buat umum, besok Lo dateng ya"


" HM"


" Hm maksutnya mau mau dateng, apa hm gak bisa dateng?"

__ADS_1


" Lihat besok aja, ngurus persiapan buat pindah ke rumah sakit disini nggak cukup satu-dua hari"


Ayu hanya mendengus mendengar jawaban dari Varo " gue kenyang, mau tidur"


**


"Gimana semua persiapannya udah siap belom?" tanya Dimas pada semua panitia penyelenggara, Dia didaulat sebagai tim kapten karena ya memang semua acara yang ia handle berjalan mulus dan sukses," Woi lah tu tempat sampah ngerusak pemandangan aja, pinggirin-pinggirin"


" Pinggirin kemana Dim" tanya salah satu anak buahnya yang sudah menenteng tempat sampah itu.


" Kemana aja, asal nggak disitu, ok 15 menit lagi acara dimulai, ayo kerja cepat kerja cerdas jangan cuma cepetnya aja cerdasnya ketinggal diprapatan''


Memang Dimas bisa dibilang cerewet dalam hal seperti ini namun tak menghiraukan jika hasilnya diluar ekspektasi, " Woi tu orang tua pinggirin jangan disitu ngrusak pemandangan"


Pak Sar berbalik badan menatap tajam Dimas " Siapa yang ngerusak pemandangan?"


Dimas menampakkan cengir kudanya " waduh.. kagak ada pak itu dedaunan yang udah tua dipinggirin gitu pak.


Sampai tiba di Acara semua berjalan dengan mulus sambutan demi sambutan telah di sampaikan hingga memasuki acara inti yang harus diisi oleh Zahra namun ia tak bisa hadir karena sakit.


Dimas uring-uringan mau menjemput Zahra pun ia juga punya rasa belas kasih ya kalik orang sakit disuruh tampil, ia harus segera memutar otak mana waktunya sangat sangat mepet.


'' Adoooh, siapa yang mau ngegantiin, YAALLAH berilah jalan kemudahan bagi Dimas " Dimas menengadahkan tangannya dan netranya menangkap seseorang yang pas buat gantiin Zahra.


Dimas langsung menyodorkan Mik pada Ayu yang sedang gabut dengan menghitung semut lewat didepannya kadang ia jahil dengan meneteskan air yang menyebabkan semut itu kehilangan arah jalan pulang.


" Apaan ni?"


" Ay pliss bantuin gue, Lo gantiin Zahra ya" Dimas menarik lengan baju Ayu hingga di samping panggung " Lha gue kagak tau apa-apa Dim"


" Udah Lo terserah mau ngisi apa pun nggak ada yang larang penting scene ini keisi'' Dimas mendorong Ayu hingga ke panggung.


" Gue kagak tau apa-apa, ANJIIR, haaaaaa" Tanpa disadari ia sudah berada diatas panggung bahkan yang ia ucapkan sudah menggema keseluruh sekolahan pasalny mic yang ia pegan sudah on Ayu menelan ludah ketika ia berada persis didepan para guru dan tamu undangan.


Bahkan sang kepala sekolah memijit pelipisnya, rasa malunya sudah tak tertahankan lagi gegara kata random dari sang siswi " Anjiir"

__ADS_1


Aelah baca doang dukung kagak🤣🤣


becanda ya guys silahkan klik tombol like, kasih dukungan lewat vote dan jangan lupa difavoritin ya cerita amatiran ini thanks luv luv pokoknya


__ADS_2