The SMK

The SMK
The SMK•|17


__ADS_3

[ QUOTE'S -> lebih baik berpisah daripada bertahan kerena sendiri lebih bahagia daripada bersama tapi saling memaksakan]


Zahra menggeleng tak akan lagi ia berharap bahwa Ayu bisa menjawab pertanyaannya, " Nggak usah di jawab Ay, muka kamu udah ngejelasin semuanya" tutur Zahra.


Ayu hanya memperlihatkan cengir kudanya ia melanjutkan menggigit apel yang masih ada setengah. Ada 2 mobil yang masuk kehalamannya, Ayu sudah menebak siapa yang ada didalam ke-dua mobil itu sedangkan Zahra berdiri melihat siapa yang datang sore-sore begini.


Fa dan Andree turun terlebih dahulu melihat mobil yang mengikuti mereka dari gang depan sampai sekarang. Ternyata itu adalah Varo, Andree langsung menghampiri dan bersalaman dengannya " Waaah, kok bisa sampe sini dok?" ujarnya


Varo tersenyum, membalas dengan menjabat tangan Andree " Iya ada urusan sama mahkluk rumah ini" Ayu mendelik mendengar kata mahkluk dari mulut suaminya " Bagaimana keaadan mu sekarang apakah lebih baik?"


" Kayaknya umur kita nggak beda jauh deh, jangan formal- formalah gue kagak bisa" ucap Andree, Varo hanya mengangguk dan mengulangi pertanyaannya.


" Lo berdua ngapain kemari?" tanya Ayu yang ditujukan pada Fa dan Andree. Kedua lelaki tampan itu memasuki teras tak ketinggalan dengan Varo yang ditangannya ada paper bag coklat.


"Lah tadi Dimas bilang suruh kesini, lha mana orangnya?"


" Kumpyryyyrrrraaaaaang"


Belum Ayu menjawab terdengar barang pecah dari dalam rumah segera ia dan lainnya mengecek, benar saja muk kesayangannya sudah berbentuk serpihan beling.


"Anjiir muk gue" Ayu mengambil serpihan muk itu, namun karena ia kurang hati-hati jarinya berdarah terkena serpihan muk. Fa yang sigap langsung menekan, ia menghisap darah yang keluar dan menempelkan plaster bermotif Doraemon.


Varo dan Andree memalingkan wajahnya tak mau melihat moment uwwu keduanya. "Ay gue minta maaf ya gue nggak tau ada muk Lo disitu'' Viara menyesali perbuatannya, Ayu mendongak melihat ada bahan makanan diatas meja " udah pecah juga mau gimana lagi, bentar lagi waktunya makan malam masak dah tu yang ada apaan aja dimasak nanti gue nyusul,gue mau mandi dulu".


Ayu menuju kamar mengambil handuk dan pakaian,Varo tanpa sepengetahuan yang lainnya pun membuntuti Ayu hingga didalam kamarnya.


" Hah... Kampret, curut kaget ajiiir" Terkejut Ayu saat menutup pintu lemari dan didapati ada Varo disampingnya.


" Panggil Mas" tegasnya, Ayu kicep rasanya aneh saat ia harus memanggil Mas kepada lelaki dihadapannya itu.


" Okok, Mas ngapain kesini kalo ada yang lihat bisa berabe, gue nggak mau ada orang yang tau status kita sementara ini" lirih Ayu tak mau ada orang yang mendengar percakapan mereka berdua.


" Iya, tau ni" Varo menyodorkan paper bag yang sedari tadi ia pegang, Ayu excited menerima paper bag itu jarang-jarang ia mendapatkan hadiah," Apaan ni?" harapannya pupus melihat isi paper bag itu.

__ADS_1


" Baju kotor gue, cuciin ya" Varo duduk ditepian ranjang melepaskan sepatu, dasinya dilemparkan asal kemejanya ia letakkan dikasur hanya menyisakan kaus putih dan celananya, ia merebahkan tubuhnya.


Ayu terheran dengan ulah Varo, setaunya dokter muda itu tak suka dengan hal yang berantakan, tetapi sekarang ia malah membuat kamarnya menjadi sarang tikus " Ih kaya doang, laundry kagak bisa"


Masih dengan posisi berbaring Varo mendongakkan kepalanya pada Ayu " Lha punya istri buat apa kalo bukan buat ngurus suami?"


"Pemikiran Lo aja yang sempit, Istri tu di muliakan bukan dimanfaatkan" Ayu mengepalkan tangannya diatas kepala Varo dan ingin memukulnya namun hanya pukulan angin yang ia lakukan, meraih kemeja Varo yang berada ditengah ranjang, sejenak Varo melihat kecantikan Ayu dari bawah." Kayaknya mereka mau nginep deh"


Varo mengernyitkan dahinya " Lo yang nyuruh,terus gue tidur dimana anjiir?"


" biasanya gitu, drama banget si Lo" Ayu meninggalkan Varo.


**


Makan sudah tersedia di meja tinggal menunggu para lelaki yang belum pulang dari masjid.


"Ay kok gue dikamar mandi liat kemeja cowok ya?" tanya yang Viara keluar dari kamar mandi.


Viara membelalakkan matanya mendengar nama Varo " dokter Varo? dokternya Andree, serus?"


" iya emang napa?"


" nginep sini dong"


"hooh"


Yang ditunggu sudah datang mereka langsung menyantap makanan yang sudah tersedia, sedari tadi Viara memperhatikan Varo, ia memberikan diri mengambilkan lauk untuk Varo '' makan yang banyak dok jangan sungkan-sungkan" hanya diangguki oleh Varo.


'' Gimana, enak nggak dok makanannya? ini semua saya yang masak lho dok, saya calon istri idaman kan" lagi dan lagi Varo tak menggubris ia hanya tersenyum dan mengangguki bagaimanapun ia tak mau menyakiti hati seseorang.


Berkebalikan dengan Dimas yang ingin muntah mendengar Viara mengatakan hal itu." Sok banget lu, mana mungkin Lo semua yang ngerjain semua, pasti ada tangan Zahra sama Ayu yang dibalik makanan ini"


" ****** emang Lo Dim, kagak bisa liat gue seneng dikit"

__ADS_1


" Lo nya aja yang...."


"Stooop, gue kagak mau ada barang gue yang jadi korban plis makan yang bener" Ayu menengahi agar tak terjadi hal seperti tadi sore.


Kini malam semakin larut Fa memilih duduk di teras dan memainkan gamenya, Varo yang belum tidur pun menghampiri Fa, duduk disebelahnya " Gue tau kalo elo cinta kan sama Mak Kambing"


Fa mempuse game by pandangannya lurus kejalanan yang mulai sepi " Gue bukan tipe orang yang suka ngungkapin semua dengan omongan"


"Gue cuma mau ngomong, masalah yang belum diakhiri nggak akan bisa berakhir" Varo menepuk pundak Fa seakan tau isi pikirannya saat ini.


**


"Accalamualaikumm,..." Dimas membuka pintu masih mengucek matanya, " Wa'alaikumussalam... Lah mana orangnya?" Dimas clingukan mendapati tak ada orang hingga ia menurunkan pandangannya ternyata Khai yang datang bersama pak sopir namun ia meminta supirnya itu untuk pulang terlebih dahulu.


" Khai ngapain disini?" Dimas yang dikenal urakan seketika berubah 180° saat bertemu anak kecil, ia merendah dan menggendongnya membawa masuk dimana semua orang sedang berkumpul menonton Upin-Ipin diruang tengah.


"Tantee..." Khai langsung meminta turun dan menghampiri Ayu. '' Loh kok sama Tante Ayu sebenernya tantenya Khai siapa?" tanya Zahra merasa terabaikan oleh sang keponakannya.


Khai yang anteng dipangkuan Ayu menengok kearah Zahra " Tante Zahla bapelan ni, olang cetiap hali Khai cama Tante cekalang gantian dong"


" Emang dikasih apa sama Tante Ayu, sampe lengket banget ci?" Tanya Dimas gemas menyeimbangi vokal Khai yang belum jelas.


" Tante Ayu baik om, walaupun Tante cuka bar-bar" jujur Khai


" Hahahjahajajhahhaxxc" Tawa semua orang pecah bahkan anak tiga tahun sudah bisa mengatainya bar-bar.


" Tante nggak malah kan Khai bilang Tante bar-bar kan kenyataanya kayak gitu"😭


" Tante nggak marah kok, cuma mangkel aja siapa yang ngajarin kayak gitu?" Jawab Ayu yang menahan rasa jengkelnya ' sabar cuma anak kecil yang terlalu jujur' batinnya.


Khai menunjuk Andree dengan tangannya " Om ituu"


Lanjut next Eps guys🥰

__ADS_1


__ADS_2