
Varo yang mendengar tutur Ayu langsung mendongak dan memeluknya. " Anu-anuan yuk"😅 semangat Varo.
"Ya nggak sekarang juga, lah" gugup Ayu dadanya tak berhenti berdegup kencang melihat roti sobek yang ada dihadapannya itu. Varo mengangkat dagu Ayu meneliti setiap inci dari wajah cantik itu.
" Ok, kalo gitu berarti hubungan kita emang nggak ada artinya" tukas Varo mengacak rambutnya berdiri didepan cermin, " kamu masih ada rasa sama Fa?"
" Mas ini nggak ada sangkut pautnya sama Fa"
"Bohong"
Ayu memeluk Varo dari belakang melihat dari pantulan cermin, Ayu tersenyum "udah kebelet banget emang?"
"Nggak usah mancing-mancing" datar Varo, Ayu membalikkan badan Varo " mau sekarang?" pertanyaan kembali diajukan oleh Ayu dan diangguki oleh Varo tangannya cepat mematikan lampu kamarnya. Ia menghimpit Ayu sampai Ayu terpojok, Varo mencium gemas wajah Ayu dan tanda kepemilikan sukses berada dileher Ayu. "sering nglakuin ini sama pacar Lo?"
" Cuma sama kamu" Varo membawa tubuh Ayu diranjang. Membuka seluruh pakaian yang Ayu kenakan. Pemuda itu semakin menjadi-jadi, tangan Varo bebas menaiki dan menuruni dua gunungan kembar yang kenyal, memainkan puncak gunung membuat Ayu semakin terangsang. " Aww sakit mas" adu Ayu saat Varo secara tiba-tiba menggigit puncak gunung itu.
Memberi tanda disekujur tubuh, sesekali ia mendongak kearah Ayu meminta persetujuan,kini giliran sang junior beraksi. Sudah cukup berkenalan dengan sarang barunya, si junior siap menempati sarang itu,"Kamu tahan sedikit ya, aku mainnya halus kok" Ayu mengangguk, "Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.”
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.”
"ssst, ahhh mas sakit" Ayu menggigit bibir bawahnya menahan sakit, peluh keringat membasahi wajah dari keduanya sampai pada puncaknya " aaaahhh, mas kencing?" Varo mengecup kening Ayu, menjatuhkan badan disamping Ayu menutupi badan mereka dengan selimut Varo menarik istrinya itu dalam dekapannya "maaf udah bikin sakit"
Tak menjawab Ayu menenggelamkan wajah pada lipatan leher sang suami, hingga keduanya terlelap.
**
Hari terakhir ujian, titik dimana semua sudah pasrah dengan apa yang sudah dikerjakan. "Ay Lo sakit?" ucap Dimas mengamati perubahan kelakuan gadis itu. "kagak woilah"
" Lo masih kepikiran tweet itu?" tambah Fa yang hari ini terbebas dari Andin.
" Gak peduli lagi gue sama tweet hoax itu" datar Ayu mengamati sekitar suasana semakin sepi.
"Biasalah unboxing" ujar Andree yang langsung mendapat delikan tajam dari Ayu, sedang yang lain menatap keheranan. "Ay, bayar iuran!" tiba-tiba Sandra datang dengan buku kas yang ada ditangannya.
__ADS_1
"Anjir Lo, San kek setan tiba-tiba muncul" kaget semua dengan kemunculan Sandra.
Sandra membuka buku kasnya " Andree Adrian Baskoro kurang 35k, Ayu Widyawati 12,5k, dan Dimas 75,5k semua kas, termasuk denda yang ditangguhkan"
" Mana adil, masak gue yang paling banyak kagak ada" protes Dimas menggeser buku kas itu, membuat Sandra berdecak kesal "biaya itu sudah termasuk biaya keterlambatan, denda penunggakan kas dan biaya lain-lain"
Heran semua penghuni kelas saat sosok Sandra memegang buku kas berubah 180° dari diri Sandra sendiri.Andree mengeluarkan uang 150k dan memberikan pada Sandra " Ni lunas ok, semua biaya penangguhan telah selesai sekarang anda bisa pergi"
Tak mau berlama-lama Sandra langsung mengangkat kaki dan menutup buku kas itu,mencari anak lain yang menunggak uang kas.
"Kembali ke topik awal, Lo tau siapa penulisnya?" tanya Fa, mengalihkan atensinya pada Ayu.
" Guys, kita bahas nanti di cafe biasa gue ada urusan" Ujar Dimas meninggalkan semua teman-temannya pemuda itu melesat dalam sekejap hilang diantara tembok.
Sampai dirumah Ayu langsung disambut oleh Varo yang bersandar diambang pintu "Assalamualaikum"
" wa'alaikumussalam, dari mana aja baru pulang?"
Varo membuntuti Ayu, duduk di kursi samping Ayu " kemana?"
Meletakkan gelas itu menumpukan satu tangan pada meja guna menyangga badannya " Cafe biasa, sama trio gesrek ada Zahra juga boleh?"
"boleh, tapi ada syaratnya" Ayu menelengkan kepalanya meminta penjelasan "apa?"
Seketika Varo mendudukkan Ayu dipangkuannya, " mau jatah sekarang"
"Lo nggak ke Rumah Sakit?"
"Udah sif siang"
Ayu membuka matanya emang dasar lelaki diberi malah keenakan " mas ini masih sore"
" Mau sore, malem, pagi, siang, aku jabanin" menyingkap hijab yang dikenakan, Varo membuka kancing atas baju sekolah Ayu memainkan benda itu, memutar sesekali ia meremas gemas
__ADS_1
" kayaknya tambah gede deh, semalem nggak segede ini'' nakal Varo memainkan putingnya, puas melihat ekspresi Ayu, Varo pun meng hi sap gunung itu yang mana membuat Ayu meringis saat Varo malah menggigitnya. Tangan Ayu melingkar di kepala sang suami menghirup aroma rambut yang wangi kini tak ada kata gengsi lagi di depan Varo.
"Mau pegang siuwwu?" tanpa persetujuan Varo memasukkan tangan Ayu kedalam celananya 'pantes sakit' batin Ayu setelah memegang sang junior yang berhasil bertemu sarangnya tadi malam.
"Mas udah belum?" keluh Ayu rasanya sudah panas karena Varo belum juga melepaskannya.
"bentar lagi, besok kalo malaikat kecil lahir jadi nggak kekurangan nutrisi"
"Bilang aja bapaknya yang doyan"
Terlepas dari Varo kini Ayu menyiapkan makan malam, nasi, lauk, dan sayur sudah siap memanggil Varo untuk makan malah ia dikagetkan dengan kedatangan trio gesrek.
Dimas yang masuk terlebih dahulu langsung menarik kursi " Wiiih ada makanan ni"
" Napa malah pada kesini?" bingung Ayu dengan kedatangan mereka bertiga.
" Ini ni ciri-ciri orang punya hp tapi kagak pernah di pake, gue udah chat elu kita puter haluan kesini"
Mata Varo langsung menatap satu-persatu dari mereka, ia baru saja keluar dari kamar mandi. "Kalian disini?"
Fa memasukkan tangannya dalam saku hoody, menghampiri Varo " kok setiap kali gue kesini pasti ada Lo ya?"
"Kebetulan aja kalik" ujar Andree membantu menyiapkan piring yang sudah ada diatas meja, "Udah siap yuk makan"
Tak dapat dipungkiri memang teman laknat seperti Andree harus dibuang pada tempatnya. Menyenggol siku Ayu, Dimas membuka suaranya "Yaelah, Fa emang setiap hari Lo kesini?"
" Ya kagak lah" Fa menarik kursi duduk disamping Dimas.
" Pada makan dulu dah,ntar dingin lagi makanannya"
Fa masih tak yakin dengan Keberadaan Varo dirumah itu, masa iya kebetulan secara terus menerus, jika memang dituntut dalam hal pekerjaan Varo bisa kos, kontrak, di hotel atau menyewa apartemen. Apa susahnya bagi Varo kenapa ia harus bermalam disini,setaunya Ayu dan Varo juga tidak memiliki hubungan darah apapun.
Hiyyyaaah dah tak turutin tu, hilang sudah otak polosku😭. Jangan lupa like, komen, vote ya
__ADS_1