
‘Pagi hari kau melihat bunga mekar, malam hari kau akan melihat bulan bersinar.’
Sebuah ungkapan terkenal di Aruindale yang memiliki arti bahwa dimanapun dan kapanpun kau berada, kebahagiaan dan ketenangan akan selalu menyertaimu, meskipun berada jauh dalam kegelapan sekalipun.
Malam pada Dataran Aruindale dipenuhi hal-hal misterius yang menjadi daya tarik para pengelana untuk datang berkunjung. Dataran yang terkenal akan pemandangan bulan yang sangat indah daripada dataran manapun di Benua Livadia.
Hamparan dataran luas ini menjadi tempat berdirinya Kerajaan terbesar di Livadia yang berdiri megah di bawah sinar bulan yang menyinari seluruh dataran. Dibawah kepemimpinan raja-raja hebat selama ratusan tahun, kerajaan ini menjadi makmur dan sejahtera sampai saat ini.
Bangunan-bangunan berjejer rapi dengan atap merah marun yang menjadi tempat tinggal dan aktivitas para warga. Jalan-jalan dan gang saling bertemu dan bersimpangan, hingga akhirnya menjadi satu di depan bangunan utama, adalah Aula Besar-tempat kediaman sang raja serta berbagai macam aktivitas kerajaan. Kedua sisi depannya diapit dua menara dan satu menara yang menjulang di belakang. Kedua menara tersebut digunakan sebagai tempat penyimpanan kebutuhan seperti makanan dan persenjataan, dan pada lantai atas merupakan tempat peristirahatan para penjaga kastil.
Dibalik keindahannya, dataran ini menyimpan rahasia misterius yang bahkan sinar rembulan tidak dapat mengungkapkan jawabannya. Di sebelah timur laut kerajaan, terdapat sebuah hutan yang lebih luas daripada Ibu kota Aruindale, Fengarium. Atmosfer yang menyelimuti hutan ini begitu misterius. Meskipun sinar rembulan menyinari seluruh dataran Aruindale, hutan ini tampak gelap dan sulit dilihat dari luar. Hanya cahaya dari kunang-kunang dan tanaman sungai Pollymoon yang terlihat bersinar terang di gelapnya hutan.
Sudah tercatat puluhan bahkan ratusan kasus dimana seseorang yang memaksa masuk akan hilang ditelan hutan. Beberapa dari mereka ditemukan di pinggir sungai atau tergeletak pingsan di rerumputan begitu saja, dan semua korban yang ditemukan, memiliki ciri yang sama, yaitu ingatan mereka tentang hutan sirna seakan-akan menjadi bagian dari hutan itu sendiri. Lalu seiring berjalannya waktu, muncul sebuah pertanyaan, siapa atau apa yang sebenarnya ada di hutan angker ini?
Hutan ini juga memiliki jumlah burung hantu yang banyak hingga memenuhi kanopinya. Nyanyian burung hantu pada malam hari dapat terdengar hingga di telinga penjaga gerbang kota. Nyanyian tersebut sudah seperti panggilan kematian bagi mereka yang mendengarnya. Suara dari puluhan burung hantu ini menjadi hal yang tidak ingin didengar seseorang untuk terakhir kalinya pada malam hari. Dan dari sanalah nama hutan ini didapatkan, Hutan Burung Hantu.
Ketika pagi hari tiba, hutan burung hantu yang kembali sunyi, teralihkan oleh hiruk pikuk warga desa yang sedang bekerja. Dan mulailah perdebatan seru tentang hutan di antara warga desa. Rumor dan gosip selalu keluar dari mulut warga. Dari ibu rumah tangga hingga bangsawan kelas atas selalu mempunyai cerita yang menarik. Prajurit yang sedang berpatroli pun dalam kesempatan tertentu akan berpapasan dengan prajurit lainnya.
“Kau tahu? Katanya, di Hutan Burung Hantu ada seorang gadis muda yang cantik tinggal disana.”
__ADS_1
“Benarkah? Apa yang seorang gadis cantik lakukan di hutan sendirian? Mencurigakan.” Wajahnya berkerut.
“Mungkinkah gadis itu arwah gentayangan yang mencari dan menangkap siapapun yang cukup bodoh untuk masuk hutan dan menjadi korbannya?”
“Konyol! Tidak ada yang namanya hantu.”
“Kita tidak tahu. Memangnya, kau sendiri tahu ada apa di hutan itu?”
“Jika hantu memang ada, seharusnya aku sudah digentayangin roh kakekku yang suka memarahiku.”
Kebanyakan dari mereka hanya menganggap rumor tersebut sebagai hiburan, pelepas penat dari pekerjaan mereka yang melelahkan, bukan hal yang untuk diseriuskan, termasuk para ksatria-ksatria tersebut. Selama ratusan tahun, rumor dan gosip yang beredar sampai ke telinga para raja selama bergenerasi. Namun, sang raja memilih untuk mengabaikannya, perbincangan warga justru yang membuat suasana kota dan desa lebih meriah.
Selain menjadi tempat untuk melepaskan penat dan beristirahat. Kedai minum juga sering menjadi salah satu lokasi favorit untuk mendapatkan informasi. Hanya pasukan intel yang diberi tahu dan dilatih untuk memanfaatkan tempat ini. Anggota intel kerajaan akan berpura-pura menjadi pelanggan dan memesan minuman, mencari meja yang tidak mencurigakan. Jauh tapi cukup untuk mendengarkan seisi obrolan seluruh ruangan.
Salah satu perbincangan yang menarik adalah berapa waktu yang dibutuhkan untuk melewati hutan? Pertanyaan ini banyak mengundang argumen yang mengambang. 30 menit, 1 jam, 2 jam, bahkan 1 hari penuh untuk melewati hutan? Tidak ada yang tahu.
Di antara rumor dan gosip yang berhamburan, sang ksatria misterius dengan zirah serba hitam mendengar pembicaraan itu dengan tenang.
Aroma darah kering bisa tercium dari pedang ksatria tersebut yang berwarna hitam sepenuhnya. Dia menyembunyikan wajah gagahnya dari balik pelindung kepalanya, menambahkan kesan misterius dan berbahaya, hanya menyisakan mulutnya yang sengaja tak terlindungi untuk menyantap makanannya. Merasa terganggu setelah mendengar perdebatan antara warga tentang berapa lama melewati hutan, dia meletakkan minumannya, terdiam sejenak lalu berkata, “Hanya dia yang menentukan berapa waktu yang dibutuhkan untuk menguji kalian.”
__ADS_1
Setelah menyantap makanan dan menghabiskan tetesan terakhir anggur miliknya. Dia menyerahkan 20 Pengrium perak kepada pelayan dan langsung meninggalkan kedai. Di luar kedai, dua orang dengan baju lengan panjang berwarna hitam muncul dengan membawa pedang yang di sarungkan di pinggangnya, menahan ksatria hitam tersebut dan menggiringnya ke gang sepi yang gelap. Kedua orang itu adalah intel kerajaan yang berusaha menangkap sang ksatria asing untuk mengeruk informasi darinya.
Menurut mereka, ksatria tersebut tidak mungkin datang ke kedai dengan baju pelindung hitam, pedang yang memiliki aroma darah dan mengatakan hal seperti itu tanpa alasan. Mereka memaksa sang ksatria untuk mengatakan yang sebenarnya sambil mengikat kedua lengan ksatria dengan tali dan menyingkirkan pedangnya. Salah satu intel mengeluarkan Pedang Hitam milik sang ksatria tersebut dari sarungnya. Warna pedang itu sangat legam, tapi yang membuatnya menarik adalah sebuah permata berwarna hijau terpasang pada batang silangnya. Begitu berkilau dan terkesan mewah.
“Permata apa ini? Zamrud?” tanya pria intel yang mengikat tali.
“Kurasa bukan, aku belum pernah lihat zamrud sehalus dan seterang ini, tapi permata di sebuah pedang? Ini baru seleraku.” Pria intel itu meraba gagangnya dan mencoba ketajaman pedang ke kotak kayu yang tergeletak di gang tersebut. “Ini lebih mudah daripada harus mencari informasi ke Blinderberry yang pelit itu,” ucapnya. Wajah pria itu merah, dan matanya seakan-akan tak fokus. Pria itu mabuk.
Dibalik pelindung kepalanya, bisa dirasakan bahwa sang ksatria tersebut sedang marah.
“Jangan sentuh pedangku! Pedang itu bukan milik kalian!” geramnya. Setelah itu, kedua intel yang sudah jelas memiliki pengalaman dan pelatihan tersebut pingsan dihajar habis-habisan oleh sang ksatria dengan tangan kosong.
Ksatria itu mengambil pedangnya dan meninggalkan mereka berdua di gang. Itulah pertama dan terakhir kalinya ksatria hitam muncul di kota. Ada beberapa warga yang mengklaim melihat sang ksatria tersebut memasuki hutan sendirian. Para warga dibuat kebingungan dengan ucapan ksatria tersebut di kedai dan kehadirannya yang misterius. Apakah yang dikatakannya benar atau dia hanya bersikap gila? Tidak ada yang tahu pasti tentang topik ini.
Kedua intel yang siuman pun tidak bisa mendapatkan informasi yang jelas darinya, apalagi dua intel tersebut terlalu ceroboh. Saking menikmati menguping pembicaraan warga saat di kedai, mereka terbawa suasana dengan membuat diri mereka mabuk. Ingatan mereka menjadi kacau dan informasi-informasi yang sudah didapatkan hilang.
Ksatria itu menuju sebuah hutan, dimana seorang gadis berjubah misterius menunggunya di antara bayang-bayang hutan yang menyimpan misteri masa lalu.
__ADS_1